BUGH
BUGH
BUGH
"Arrrgggghh!!"
"Mau kemana kau!! Haaa!!"
Dua hari Gian pergi, bukan tanpa maskud. Pria itu mencari keberadaan Haidar. Ia terpaksa ke luar kota tanpa izin sang Papa. Sudah ia duga, adik kecilnya itu akan melarikan diri ke rumah temannya.
"Stop, Kak. Haidar terluka."
Salah satu di antara mereka mencoba menenangkan Gian yang sedari tadi meradang. Tak pernah ia memukul Haidar sebelumnya, namun pristiwa memalukan itu membuat Gian nekat menghajarnya.
"Menjauh, Ricko, ini masalahku."
Haidar mencoba bangkit, sudut bibir yang kini mengalirkan darah teras perih. Sangat amat perih, pria itu merasakan sakit di area wajahnya. Gian benar-benar tak tanggung menghajarnya.
Perutnya terasa sesakit itu, bahkan terasa sulit untuk menarik napas. Ditatapnya wajah garang sang Kakak yang kini masih menatapnya penuh ancaman.
"Hahaha? Kenapa? Ayo, pukul aku, Kak."
"Kau puas dengan melihatku menderita kan? Bahkan dari dulu aku tidak dapat bergerak bebas karena kalian!! Lakukan lagi!!"
"Cepat lakukan Gian!!!"
Plak!!
Tamparan yang kesekian kali Haidar dapatkan pagi ini, kantuk yang menyerangnya seketika saja pergi. Perlakuan kasar Gian seakan menjadi alarm terhebat yang membangunkan kedua pria tampan di kamar mewah itu.
"Kau tau apa akibat dari kebodohanmu ini, Haidar?"
"Hem, kau tahu? Papa dan om Ardi semalu apa di hari itu kau tahu?!! Otakmu dimana, Haidar!!"
Emosi menguasai Gian, ingin rasanya ia menghabisi Haidar dengan tangannya. Pasalnya akibat dari perbuatannya menyeret banyak pihak, termasuk dirinya.
Haidar tertawa sumbang, menatap wajah sang Kakak dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Melihat kemarahan Gian, tak dapat di pungkiri ia memang takut. Haidar cukup mengenal bagaimana Gian, tak peduli siapapun, pria itu mampu menghabisinya.
"Maafkan aku, Kak. Tapi aku tidak suka dengan cara Papa, Mama dan kalian semua!!"
"Kalian menipuku, memaksa pulang demi menuruti keinginan kalian, kan!!"
Haidar menuntut penjelasan Gian, niat hatinya hendak pulang. Menyelesaikan rindu yang sejak lama terpendam, tak ia duga pernikahan sialan itu telah di rencanakan sebegitu matangnya.
"Kau berani meneriakiku, Haidar?!!" bentak Gian menatap tajam Haidar dengan tatapan membunuh.
"Hahaha!!! Iyaaa, lalu kenapa?"
Haidar benar-benar tak sedikitpun takut pada Gian. Pria itu berpikir semakin ia lemah, semakin ia tertindas dengan kekuasaan kakak dan papanya.
"Kau akan menyesal, Haidar. Aku pastikan kau akan menangis darah, kita lihat saja nanti."
Gian berucap halus, maju beberapa langkah dan memasukkan tangan di saku celana. Meneliti wajah lebam sang adik yang bisa di pastikan ia tidak akan dapat bekerja untuk waktu beberapa minggu lagi.
"Maksudmu?"
"Buktikan ucapanku nanti, terserah kau saat ini, ambil jalanmu, kejar karirmu, tapi jangan lupa Mama dan Papa di atas segalanya."
Haidar terhenyak, ada rasa sakit tepat menghujam ulu hatinya. Benar-benar sesakit itu, bahkan ia tak mengira ucapan sang Kakak membuat matanya kini membasah.
Ricko yang menjadi saksi dari keributan kedua pria itu hanya mampu terdiam, percuma pikirnya. Jika sampai Gian juga melimpahkan emosi terhadapnya, hancurnya dia.
******
Pulang, inilah pilihan Gian saat ini. Tanpa membawa Haidar, karena tujuannya hanya untuk itu, semata-mata menghajarnya, itu saja. Gian menarik napas perlahan, ia tatap cincin yang kini tersemat di jari manisnya, sungguh takdir yang menyebalkan, pikir Gian.
Hampir saja tiba di kediamannya, Gian memutar arah. Tak ingin dan belum berkeinginan untuk kembali ke rumah itu. Tentu saja ia akan memilih apartemennya, beristirahat dan menenangkan diri disana.
Drrrrttt Drrrrrttt
"Erick?"
Gian menarik sudut bibir, temannya kembali menghubungi. Jelas saja untuk membuatnya senang. Sudah lama ia tak menghabiskan waktu bersama temannya itu.
"Ada apa?"
Sudah pasti Erick menawarkan wanita pada Gian, lagi dan lagi hanya prihal wanita. Saat ini, Gian tak ingin dan memilih menghabiskan waktu sendiri saja.
"Kau menolak, Gian?"
"Dia wanita yang kau idamkan selama ini, mengerti?!!"
Gian menghentikan mobilnya, sejenak mengingat siapa yang Erick bicarakan. Seingatnya ia tak pernah mengatakan hal itu baru-baru ini.
"Katakan, siapa?"
"Adinda Maharani,"
Gian terdiam, nama itu, kenapa harus datang saat ini. Kemana saja dia, dan kenapa harus Erick yang menemukannya.
"Gian, kau baik-baik saja?"
Tanpa menjawab, Gian menutup telpon itu sepihak. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa berpikir siapa di kanan kirinya. Tak peduli lampu merah, ia tetap menerobosnya.
Dengan jemari gemetar, dan jantung yang tak tenang Gian semakin memacu kecepatannya menuju apartemen Erick, sabahatnya dalam dunia yang tak baik itu.
BRAAKK
"Ayss!!!"
"Kenapa lagi ini, kenapa harus terjadi lagi!!"
Gian menggerutu tanpa habisnya, kejadian ini terulang lagi. Siapa lagi yang kini menjadi lawannya, beberapa minggu lalu pertemuan pertamanya dengan Radha persis seperti kejadian bodoh ini.
"Ck, anak SMA lagi."
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
knapa gian radha masih bocah .mmamu juga dulu sama papamu umurnya jauh yah gak ap" . nikmati aj nanti juga kamu bucin.
kasian juga khaidar pas tahu dia akan menyesal sepanjang masa
2024-09-04
0
Ilyloveme
Bisa2nya tiap melanggar lampu jalan ga ditindak ma aparat. Oiya gabeda jauh di negeri konoha “hukum bisa dibeli”.
2024-07-01
0
Ilyloveme
Nyeselnya cuma bentar udah terganti ma Rury
2024-07-01
0