Radha tercekat, diam membisu, tubuhnya bergetar kala mata tajam itu menatapnya penuh ancaman. Semakin mendekat dan kini duduk di sampingnya.
Di luar dugaannya, apa mungkin ia yang salah. Tapi, bukankah Ardi mengatakan bahwa calon suaminya adalah putra bungsu Raka. Kenapa yang kini bersanding denganny Adalah pria ini, pikir Radha tanpa henti.
Jelita yang kini menahan sesak hanya mampu menahan air mata, terbungkus rasa malu yang bahkan mengulitinya. Tatapan aneh dari beberapa istri rekan kerja Raka membuat Jelita berusaha menahan kristal beningnya agar tak tumpah.
Tak pernah terpikirkan bahwa Haidar akan senekat itu, ini bukan mimpinya. Bukan inginnya, Jelita tidak menghendaki pernikahan tanpa cinta di alami jua oleh anak-anaknya, tidak sama sekali.
Raka dan Ardi pun sama, malu, bahkan sangat amat malu. Tertahan beberapa menit saat Ardi harus menjabat tangan Gian dan menikahkan putrinya bukan pada lelaki yang seharusnya.
Tidak ada senyum dan tatapan bersahabat dari pemilik manik coklat itu, saat ini bahkan rahangnya tengah mengeras menahan amarah yang amat sangat membuncah.
Gian tetaplah Gian, apapun akan ia lakukan jika itu keinginan Raka. Pun harus mengorbankan kebahagiaannya, tidak, lebih tepatnya semua akan ia dapatkan. Pengakuan sang Papa dan juga bahagianya sendiri.
"Mas, kamu yakin?"
"Kita tidak punya pilihan, Ta, maafkan aku."
Sungguh, teramat sangat menyesal Raka. Niat hati memberikan kejutan untuk Haidar, namun yang terjadi malah sebaliknya. Ia yang terkejut karena ulah putra bungsunya.
Ruangan kini hening, akad sebentar lagi akan dimulai. Janji suci yang seharusnya di nanti dan direncanakan sejak lama oleh beberapa orang di luar sana. Tapi, itu tidak berlaku untuk Gian.
Menjadi pengantin pengganti, lucu sekali, tak pernah terbayangkan akan berada di posisi ini, pikir Gian. Sejenak ia melirik Radha melalui ekor matanya, bahkan anak itu masih begitu kecil.
"Ehem, bagaimana siap?"
Gian sejenak menarik napas dalam, menatap wajah Ardi dengan sejuta duka di dalam sana. Tak apa, setidaknya ia menyelamatkan martabat kedua orang penting ini. Prihal Radha, ia akan urus nantinya, tentang perasaan takkan mungkin ada untuk gadis rata bentukkan Radha.
Ardi dengan berat hati, namun niat harus tetap suci. Bismillah, ia meminta keberkahan dari hal terpaksa ini. Tak ingin sang Putri merasa menjadi korban keegoisannya, Ardi meraung maaf dalam batinnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Radhania Cheilla Azura dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Dalam satu tarikan napas, Gian berhasil meloloskan kalimat itu. Entah karena apa, yang jelas tidak ada sensasi dalam hatinya, gugup dan sejenisnya tak ia rasakan. Mungkin karena ia tak menganggap pernikahan ini berharga.
"SSSAAAAHHHH"
Radha memejamkan matanya erat-erat, manakala saksi berkata demikian artinya dirinya telah resmi menjadi istri orang.
Beberapa hari mengenal Gian, sedikit demi sedikit ia paham betapa menyeramkannya sifat pria itu. Gian terlalu dewasa untuknya, bahkan jika dilihat dari postur tubuh mereka Radha bisa di katakan sebagai anak gadisnya.
Tidak ada adegan cium kening, dan atau hal manis lainnya. Menatap netra tajam Gian, baik Raka maupun Ardi tak sanggup berucap. Dengan bersedianya Gian menggantikan Haidar saja sudah lebih dari cukup, pikir Raka.
Pernikahan tak berarti, Radha tak merasa dirinya telah memiliki suami. Gian berlalu pergi usai akad berlangsung, hanya tinggal dirinya dan Jelita yang kini memuji kecantikannya.
Ia bukan anak kecil, paham betul apa yang sebenarnya tengah Jelita lakukan untuknya. Semata-mata menghibur, pernikahannya begitu berbeda dengan pernikahan sang Papa yang dulu menebar senyuman bersama Dewi.
"Mas, apa Gian sudah kembali?"
"Belum, Ma, mungkin ada hal yang tak bisa ia tinggalkan," ujar Raka memberikan ketenangan. Tak ingin menantunya berpikir macam-macam.
Menatap wajah polos Radha, sungguh ia merasa berdosa. Benar kata Ardi, rencananya tak berjalan dengan baik. Hingga putra dan putri mereka yang menjadi korban.
******
Jauh dari kata resepsi megah, karena Gian pasti menolaknya. Jika Raka telah mengeluarkan uang begitu banyak demi pesta pernikahan putranya, Gian tak peduli. Tak ingin ia bersandiwara lebih, menerima tawaran sebagai suami Radha adalah hal terberat yang pernah ia terima.
Gagalnya pesta besar-besaran keluarga kaya itu, Celline tersenyum menang. Meski tetap saja rasa iri itu membatin dalam dirinya, Gian yang teramat tampan membuatnya seakan gila, lagi-lagi ia kalah.
Sudah dua hari pernikahan berlalu, namun Gian belum juga kembali. Jelita yang begitu menyayangi Radha jelas saja meminta Radha untuk tinggal bersamanya.
"Sayang, ini kamarmu."
Radha menatap sekeliling kamar, ia tak suka dengan nuansa maskulin di dalamnya. Benar-benar bukan tipenya, aroma khas tubuh Gian menyeruak di sini.
"Ma, bisa aku ke kamar yang lain saja? Kamar ini terlalu besar," ujar Radha menolak secara halus, bukan itu alasannya, ia tak siap jika harus sekamar dengan suami ghaibnya itu.
"Heem, tidak, ini kamar Gian yang artinya kamar kamu juga, Sayang."
Tersenyum kelu, hidupnya bebasnya secepat itu terenggut. Bahkan untuk menentukan tidur dimana ia seakan tak punya hak lagi, menerima semua yang terjadi adalah pilihan terakhir Radha.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Halimah
coba dr awal jujur n ga usah sok"an ngasih kejutan....pasti Haidar ga akan kabur
2025-01-03
0
Nanik Kusno
Kacau...... huuuuhhhhh
2024-05-12
0
komalia komalia
maya nya udah meninggal ya istri nya rendy juga kemana ko rendy jadi duda
2023-10-16
1