Bias cahaya menelisik jendela kaca pemilik wajah tampan itu, mata kantuknya tak dapat di ajak kompromi. Tadi malam ia menghabiskan waktu cukup banyak hanya untuk bermain game. Tentu saja ia memaksa Randy, sang Paman yang memang tak pernah mengenal tidur cepat.
Tubuhnya terasa begitu lelah, sedikit berat dan benar saja kini ia tak mampu membuka mata meski hanya sekedar menggerakkan kelopaknya. Haidar tengah hibernasi, benar-benar tak tahu waktu dan kondisi.
Posisinya sebagai tokoh utama yang secara sepihak digantikan Rega membuat Haidar murka, memang semua juga atas salahnya, hanya saja tak seharusnya mereka memutuskan segala sesuatu secara sepihak, pikir Haidar.
"Ck, hmm? Ada apa?"
Setengah sadar dan kesal bukan main, Haidar mengangkat panggilan seseorang disana. Suara lemah dan serak itu jelas menunjukkan ia tengah ngantuk berat.
"Iya, Pa, 1 jam lagi."
"Hem, om Randy belum tiba, aku pulang bersamanya."
Berdecak kesal, hanya itulah yang mampu mewakili perasaan Haidar saat ini. Tekanan dari sang Papa dan juga Gian membuat Haidar tak bisa fokus menghadapi semuanya. Jika bukan karena kekasihnya, enggan rasanya ia pulang ke tanah air.
"Baiklah, just for you," ujar Haidar dengan mata yang kini masih memerah, ia lelah namun istirahat sebanyak apapun tak membuat ia lebih baik.
Penampilan bak singa yang baru bangun tidur membuat Rury, sang Asisten tak dapat menahan tawa. Menyaksikan aktor tampan yang sudah ia temani sejak lama itu berjalan ke arahnya.
"Kak, susu," pinta Haidar. Tak peduli berapa usianya, bagi Rury Haidar tetap anak kecil yang harus di jaga sebaik mungkin.
"Jangan lupa makan siangmu, Haidar," ujar Rury menarik sudut bibir, wajah lelah pria itu membuat Rury merasa prihatin.
Makan siang yang sama sekali tak mampu Haidar nikmati, pria itu masih saja dilema menimbang keputusannya. Hidup dalam interpensi dan bayang-bayang sang Papa membuat Haidar merasa frustasi.
Namun tak mungkin, ia takkan mungkin melawan kehendak sang Papa bagaimanapun keinginanya. Sebesar apapun kehendak Haidar, tatap saja akan kalah.
Segelas susu hangat yang kini berada di depannya tak ia sentuh, bahkan untuk meliriknya saja ia enggan. Berjuta pertanyaan membelenggu dalam benaknya, mengapa harus semua menekannya untuk pulang di saat yang sama, bahkan terkesan memaksa.
--
Bandara, bersama Randy sang Paman kini Haidar tampak lebih tenang. Sepercik kerinduan itu memang ada, hanya saja semua tertutupi dengan watak pemaksa Raka.
"Kau benar-benar tidak membawa pakaian, Haidar?"
"Ehem, tidak perlu, Om. Aku tidak terbiasa," jawab Haidar menggeleng singkat, tersenyum hangat dan menunjukkan pesonanya dibalik kacamata hitam itu.
"Tidak terbiasa tanpa Rury maksudmu?"
Haidar tertawa sumbang, apa adanya yang Randy ucapkan memang benar. Tak dapat ia sangkal, ia memang membutuhkan Rury berada di sampingnya, bahkan untuk pergi membeli kopi saja ia serahkan pada Rury.
"Mungkin," jawab singkat pria tampan itu.
Menghabiskan waktu yang cukup lama di perjalanan membuat Haidar akan menghabiskannya dengan tidur, tidur dan tidur. Lelah masih saja memeluk erat dirinya, lebih tepatnya jiwanya tak benar-benar ingin pulang untuk saat ini.
******
Kepulangan Haidar menjadi hal yang paling Raka nantikan, bersama Gian dan Jelita kini mereka bersabar akan kedatangan sang putra bungsunya.
Riuhnya beberapa orang disana sempat membuat Haidar terganggu, meski ia yang telah bersembunyi dibalik masker dan kacamata hitam disertai dengan topi tetap saja dikenali banyak orang.
"Ays, sial!! Aku tidak suka, Om," keluh Haidar meski tak ia perlihatkan sama sekali perasaan itu, tetap dengan kharismatik yang harus ia jaga sebaik mungkin.
"Kak Haidar, boleh aku meminta tanda tanganmu?"
Seragam SMA, Haidar menarik sudut bibir. Kekasihnya juga mengenakan seragam yang sama, atas dasar teringat akan sosok kekasihnya, Haidar mengiyakan permintaan gadis itu.
"Baiklah, dimana aku harus tanda tangan?" tanya Haidar ramah dari balik maskernya itu.
"Ehm, aku tidak membawa kertas, di sini saja boleh ya?"
Haidar lagi-lagi tersenyum kala gadis itu mengulurkan telapak tangannya, meminta Haidar menggoreskan tanda tangannya disana. Dan hal itu persis apa yang kerap Radha lakukan dahulu kala memiliki kesempatan bertemu dengan Haidar.
"Tentu saja,"
Gadis itu tersenyum kala Haidar menyambut tangannya, menggores hasil mahakarya indah dan berharga itu. Mungkin, gadis itu akan memuseumkan telapak tangannya suatu saat nanti.
"Terima kasih, Kak."
Senyum ceria itu semakin mengingatkan Haidar akan sosok wanitanya. Malam ini juga ia harus bertemu pujaannya, sengaja Haidar tak memberitahukan dia sudah kembali saat ini. Tentu saja ia hanya ingin memberikan kejutan pada sang Kekasih.
Kedua pria tampan berbeda usia itu berjalan penuh kharisma disana. Pesona Randy yang takkan pernah usai membuat Haidar terkadang merasa terkalahkan oleh duda satu anak itu.
"Kau lihat, siapa disana," ujar Randy menepuk pundak Haidar, terlalu fokus dengan ponselnya membuat Haidar seakan tak peduli dengan sekelilingnya. Itulah yang membuat Rury tak bisa melepaskan Haidar kemana-kemana sendiri.
"Mama."
Brugh
Jelita menghampiri Haidar dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang Putra, rindu yang membelenggu seakan takkan habis. Sungguh ia merindukan Haidar lebih dari apapun, dalam keadaan tubuhnya yang masih lemah Jelita memaksa ikut bersama Raka dan juga Gian.
"Mama rindu, Haidar," ujar Jelita enggan menjauh, pelukannya justru semakin erat, Haidar terdiam, sejenak ia merasa begitu bersalah lantaran selalu mengabaikan rindu sang Mama.
"Ehm, maafkan aku, Ma," sesal Haidar juga mengeratkan pelukannya, mengelus punggung sang Mama berulang kali, memberikan ketenangan pada wanita cantik itu.
"Kenapa kau sangat lama, Haidar? Apa kau betah disana?"
Jelita kini menatap sendu wajah putra bungsunya, mata yang kini berkaca-kaca membuat batin Haidar tersayat. Apa mungkin Jelita setiap hari melakukan hal yang sama, jika benar alangkah berdosanya, sesal Haidar takkan habis.
Egonya terlalu tinggi hingga lupa bahwa ia juga begitu merindukan bidadarinya, wanita yang telah mengorbankan nyawa untuknya 21 tahun lalu. Tangis bahagia Jelita membuat Raka terdiam, beku dan hanya menghela napas perlahan.
"Papa," panggil Haidar menyadari kehadiran sang Papa yang terlihat berwibawa seperti biasa, di ikuti Gian di sampingnya.
"Pulang juga kau."
Raka menarik sudut bibir, melangkah maju dan menatap putranya begitu dalam. Benar, mungkin rencananya kali ini takkan salah, memaksa Haidar untuk menikah demi senyum manis Jelita yang sejak lama hilang di telan kerinduan.
"Kamu apaan sih, Mas," ujar Jelita menatap sengit Raka, merasa tak suka ia merusak suasana.
"Bercanda, Sayang." Kalah, lebih tepatnya mengalah. Di usia yang tak lagi muda, bagi Raka tetaplah Jelita yang utama.
"Lebay banget si, Kak, elu ga kangen gue, Ta?" Randy yang sedari tadi menyaksikan drama keluarga cemara ini, meski tak dapat dia bohongi, ia juga merindukan Jelita, bahkan sangat rindu.
"Masih nanya, iyalah!!"
Jika biasanya Jelita akan mengatakan tidak, lain halnya dengan kali ini. Sejak orangtua mereka pergi, Jelita hanya memiliki Randy. Jelas saja perpisahan yang hampir satu tahun itu membuat Jelita tersiksa rindunya.
"Oh iya, Sayang apa kau betapa cantiknya calon ...."
"Mama!!"
"Jelita!!"
Hampir saja, Jelita lupa bahwa Raka masih menutup rapat-rapat rencana perjodohan antara Haidar dengan Radha yang secara nyata adalah kekasihnya sendiri.
"Calon? Calon apa, Ma?"
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
calon pengantin
2024-09-03
0
Yeni Andiani
jodoh ny haidar mbak ida
2024-02-28
0
Sulaiman Efendy
KYAKNYA NNTI RURY NI JODOHNYA HAIDAR...
2024-01-11
1