"Sampai kapan kau akan berdiri disana?" tanya Gian melirik Radha melalui ekor matanya, gadis mungil itu masih saja terpaku, entah apa yang ia pikirkan.
Gian menoleh dan tak melepaskan Radha dari padangannya, kini gadis itu mendekat perlahan. Menghampirinya dengan tingkah yang sebegitu kakunya.
Radha mengepalkan tangannya erat ketika ia hendak duduk namun Gian telah berdiri dan segera berlalu keluar, terpaksa ia harus menurut dan mengikuti langkah pria itu.
"Cepet banget ya Allah, sepanjang apa sih kakinya," gerutu Radha menatap kesal punggung Gian yang kini semakin menjauh.
"Aku bisa mendengarmu, Zura."
"Aih, kupinngnya tajem juga ternyata." Radha berbisik, menyadari jika pria di depannya begitu peka, pendengarnya mungkin dapat dipastikan dapat mendengar dengan jelas ghibah tetangga, pikirnya.
"Zura, apa kau ingin tetap di apartemenku?" tanya Gian tanpa menatap wajah wanita cantik itu, langkah kecil dan lambat Radha membuat pria itu berniat menariknya secara paksa.
"Iya tunggu," ujar Radha menghentakkan kaki kuat-kuat.
Bibir mungilnya komat kamit seraya meneliti Gian tanpa berkedip, tentu saja ia lakukan itu saat Gian membelakanginya.
Masih dengan langkah tersoek-soek, Radha mengikuti langkah panjang Gian yang seakan tak peduli siapa di belakangnya.
Berlari kecil ia menyesuaikan langkah Gian, pria tinggi tak berakhlak itu benar-benar menyebalkan, pikinya. Jika calon iparnya begini, lantas bagaimana dengan calon suaminya? Memikirkannya saja telah membuat Radha kesal.
BRUGH
"Adooooh!!"
Lagi-lagi kejadian yang sama, bahkan kepala Radha terasa pusing lantaran menabak dengan tubuh kekar Gian. Bahkan ia mundur beberapa langkah, sakit, ia menggosok keningnya beberapa kali.
"Gian," panggil wanita manja yang berada di depan sana, penasaran, wajar saja pria gila itu sampai berhenti berjalan, pikir Radha.
"Ehm, kau menemuiku, Laura?" tanya Gian menyambut kehadiran wanita seksi itu, kehadiran Radha di belakangnya tak membuat Gian segan membalas pelukan Laura.
"Tentu saja, lalu untuk apa lagi," jawab Laura tersenyum manis, menyadari kehadiran seseorang di belakang Gian, Laura mengernyit.
"Siapa di belakangmu? Adik? Setauku adikmu laki-laki, Gian."
Mencoba memperlihatkan diri, Radha merubah posisinya. Berdiri di samping Gian dan meneliti penampilan wanita di depannya.
"Ohoo, syantik sekali," ujar Radha berbisik pelan, sengaja agar tidak terdengar. Lupa jika ia sedang berhadapan bersama siapa, Gian, pria dengan pendengaran di atas rata-rata.
"Radha!!" Tersenyum manis penuh makna, wajah cantik Laura membuatnya terkagum.
Baru saja Gian hendak memperkenalkan calon adik iparnya, Radha mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya sendiri. Wajah ceria itu sejenak membutakan mata Gian, tanpa sadar Gian menarik sudut bibir.
"Ah .... iya, Laura."
Tak ada yang salah, Laura menerima Radha dengan baik. Meski ada sedikit keraguan di benak Laura akan keberadaan Radha yang baru saja di kenalnya. Gian bukanlah pria yang menyukai anak baru gede, pikir Laura.
"Ehm, kau mau kemana?"
"Papa memintaku menjaganya, kembali saja besok, aku tidak punya waktu hari ini, Laura."
Penolakan tegas Gian yang membuat buruk suasana hati Laura, ada kekesalan merambat di relung hatinya kala menatap wajah mungil tak berdosa itu.
"Apa aku boleh ikut bersamamu?"
"Laura, kau tau siapa aku kan? Aku tidak suka di bantah, mengerti, hem?"
Laura terdiam, tentu saja ia geram kala Gian menepis tangannya. Meski tak kasar, tetap saja ia merasa tak di hargai oleh pria yang ia anggap istimewa itu.
"Pulanglah, kau bersama Andreas bukan?"
"Ehm, tidak, Gian. Aku hanya sendiri," jawab Laura memelas, berharap Gian akan mengerti jika ia tengah membutuhkan pria itu.
"Ck, pulanglah, aku sudah meminta Reno menjemputmu," ujar Gian seraya menutup layar ponselnya.
Menyerah, Radha yang tak mengerti apa yang tengah terjadi antara kedua orang dewasa itu hanya setia menanti urusan keduanya usai.
"Baiklah, sampaikan salamku untuk tante Jelita, ya."
Laura berharap Gian tidak akan menjawab dengan jawaban yang membuatnya malu di depan anak kecil itu. Diam, butuh beberapa lama Gian untuk menjawab meski hanya dengan anggukan sejenak.
"Hem,"
Wadaw, Radha menganga mendengar jawaban singkat yang Gian berikan untuk Laura yang bahkan secantik itu. Benar-benar lelaki angkuh tanpa obat, pikir Radha.
Menatap kepergian kedua orang itu, tentu saja Laura kesal bukan main. Kandasnya hubungan Gian bersama kekasihnya membuatnya seakan punya celah untuk dapat masuk ke dalam hidup Gian. Nyatanya, masih saja sama sulitnya.
******
"Kak, apa aku boleh bertanya?"
"Hem, apa?"
Fokus dengan kemudinya, Gian tak memandang Radha saat bicara. Meski demikian, bukan berarti ia tak mempedulikan calon iparnya itu.
"Kenapa bukan kakak saja yang lebih dulu menikah?"
Pertanyaan menyebalkan yang sejak dulu Gian hindari kini keluar dari mulut calon istri adiknya, Haidar. Mulut lancang dan sekenanya kadang kala membuat Gian ingin memberontak.
"Sopankah pertanyaanmu, Zura?"
"Ahahah, lupakan, aku hanya bercanda." Radha menelan salivanya susah payah, mengapa juga ia berani berulah pada pria yang bahkan lebih mengerikan dari sosok Raka, calon mertuanya.
"Dasar sinting," umpat Gian menatap tajam Radha yang kini memasang wajah imutnya tanpa dosa.
"Ehm, baiklah pertanyaan lain."
Belum cukup Radha mempertanyakan hal konyol sebelumnya, ia akan mencoba menanyakan hal lain pada Gian.
"Apa?"
"Calon suami ... ah bukan, maksudku adik Kak Gian saat ini dimana?"
Sejak hari perjodohan itu terjadi, Radha bahkan tak mengetahui identitas calon suaminya. Bahkan fotonya saja ia tak pernah sekalipun melihatnya, sungguh perjodohan gila, umpat Radha.
"Ah calon suamimu?" Gian menarik sudut bibir, pertanyaan menarik yang Radha berikan membuatnya seakan memiliki bahan candaan untuk beberapa saat kemudian.
"Kau yakin ingin bertanya tentangnya, Zura?"
"Tentu saja, bahkan papa tak memberitahuku walaupun hanya inisialnya saja, menyebalkan."
Celoteh Radha membuat Gian merasa terhibur di tengah perjalanan, sayang itu hanya sesaat. Gian berhenti tersenyum kala menyadari ini bukanlah sifatnya.
"Ehem," ujar Gian mengembalikan suasana, tak ingin wibawanya menjadi lemah di hadapan gadis kecil itu.
"Jadi, kau benar-benar sudah siap menjadi istri adikku, Zura?" tanya Gian seperti biasa, bahkan terkesan kembali dingin.
"Hahahah, lupakan, aku geli."
Gian mengernyit, mengapa aroma ketidakwarasan gadis ini sudah terlihat. Mengingat ia cukup mengenal Maya, mama kandung Radha yang dulunya memiliki hubungan erat dengan Randy, Om nya yang kini tetap tampan di usia yang tak lagi muda.
"Bagaimana mungkin Haidar memiliki kekasih seperti dia, astaga!! darimana dia mendapatkan wanita seperti ini," batin Gian yang merasa Haidar menurunkan seleranya, atau mungkin memang selera Haidar yang salah, pikir Gian.
Ingin rasanya ia menjawab pertanyaan-pertanyaan Radha, hanya saja ia sadar itu adalah rahasia yang harus di jaga hingga akhir. Meski kurang setuju dengan ide sang Papa yang menyamakan pernikahan dengan hari ulang tahun, tetap saja Gian mencoba untuk mengikuti saran papanya.
Sedari tadi, ia mencuri pandang Gian yang fokus mengemudi di sampingnya. Tentu saja tampan, dan Radha tak menyalahkan kenyataan itu.
"Kak, bisa dipercepat?"
"Kau berani juga memerintahku ternyata," ujar Gian membuang napas kasar, sungguh menyebalkan gadis kecil ini,
"Sabar Gian ... sabar." Gian membatin, "Tidak akan lama, hanya beberapa hari lagi, okee!!" batinnya lagi.
"Kak?"
"Iya, jangan salahkan aku, ini keinginanmu sendiri, Zura." Gian tersenyum miring, enta apa yang ada di benak pria itu.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
jagain jodoh sendiri😁😁😁
2024-09-03
0
𝙵𝚑𝚊𝚗𝚒𝚊 🦂🦂 🦂
jaga mulut mu Gian... Radha adalah jdohmu hihihi
2024-03-17
0
galaxi
apakah haidar tdk drg dipwrnikahan krn tdk tau siapa calonnya....yah...klu gini brati jodoh krn kesalahan orgtua yak 😂
2024-02-21
0