"Ehm, iya Kak."
Abian menatap heran Radha yang terlihat tunduk pada pria tampan itu. Dan tentu saja ia tak suka pada pria itu, dalam waktu singkat pria itu menghancurkan rencananya sore ini. Selama bertahun-tahun, Abian tak juga mengungkapkan perasaannya karena takut akan penolakan Radha.
"Sial," umpat Abian kala Radha telah berlalu bersama pria tinggi yang sudah matang itu.
Mengusap wajah kasar serta mengacak rambutnya, keberanian yang sejak kemarin ia bangun hancur begitu saja lantaran kedatangan Gian. Bisik teman-teman Radha seketika membuat Abian tersadar dan mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Berat, Bi, saingan lu pengusaha, mana tajir lagi."
Kekesalan Abian semakin menjadi kala Bryan dan Arga mengejeknya. Jika saja Abian mengikuti saran Bryan, mungkin saat ini Radha telah menjadi miliknya. Hanya saja, ia takkan menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Radha.
"Ck, serah, gue cabut."
"Hujan bego, sok lu jadi manusia!! Sakit gimana?"
"Bian!!" Teriakan Bryan tak sedikitpun di gubris kapten basket itu.
Bryan tak habis pikir ketika Abian lebih memilih untuk pergi kala hujan masih sebegitu derasnya. Bisa saja pria itu celaka, mengingat kebiasaan Abian yang mengemudi sesuka hati tanpa memikirkan keselamatan orang lain dan dirinya sendiri.
"Terserah dia, apa untungnya khawatir sama cowok begok kek dia."
Arga memilih menjauh dari Bryan usai mengungkapkan kekesalannya. Bagaimana ia tak kesal, Abian bahkan meninggalkan beberapa pertandingan hanya demi melihat perlombaan yang Radha ikutin.
Hancurnya harapan tim beberapa hari lalu masih membekas di hati Arga. Ingin rasanya ia melenyapkan bayang-bayang Radha dari pikiran sahabatnya, jatuh cinta membuatnya hilang arah bahkan rela lepas tanggung jawab.
Lagi-lagi dua cowok berpengaruh ini tengah perang dingin, Bryan sebagai penengah hanya mengedikkan bahu. Baginya hal ini kerap terjadi, bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali.
******
"Ehm, Kak Gian? Apa aku boleh turun disini?" Pertanyaan konyol Radha membuat Gian menatapnya sekilas kemudian membuang pandangan.
"Tidak," jawab singkat Gian dengan suara khasnya.
"T-tapi aku," ujar Radha seraya menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang bahkan membuatnya keringat dingin.
"Kenapa denganmu?" tanya Gian tanpa menatap calon adik iparnya.
"Mau pip ...."
"Heih? Zura? Kau sakit?"
Khawatir, tentu saja Gian khawatir. Bagaimana jika gadis itu terkena masalah, tentulah dia akan menjadi amukan Raka.
"Tidak, aku hanya ingin buang air kecil," jawab Radha mencoba tenang dengan memejamkan mata seraya menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Ays!! Sungguh merepotkan!!"
Benar dugaannya, calon istri Haidar terlalu kecil bahkan dapat dikatakan sebagai bocah ingusan yang tentu saja akan menyusahkan. Berusaha mencari tempat untuk Radha dapat mengakhiri penderitaan Radha adalah jalan satu-satunya, terpaksa ia menambah kecepatan meski di bawah rintik hujan.
"Kak, kita pulang kan?" tanya Radha merasa aneh dengan jalan pulang yang Gian pilih.
"Kakak, kita mau kemana?" Radha panik kala mobil memasuki area basement, bukankah sang Papa memintanya pulang cepat hari ini, pikir Radha.
"Ck, bisakah kau kunci bibirmu itu sekali saja?" Gian menatap tajam Radha yang kini menggenggam erat ujung roknya lantaran merasa takut pada Gian.
"Turun."
Radha yang sejak tadi kesulitan menahan keinginannya hingga keringat dingin berlari kecil mengejar Gian yang kini telah cukup jauh mendahuluinya.
"Ck, bisakah kau lebih cepat, Zura?!!"
Tak tahan melihat wajah Radha yang semakin panik namun langkah terhenti, Gian meradang. Ingin rasanya ia menggendong gadis imut itu, mengakhiri penderitaannya sebagai penjaga calon mantu kesayangan sang Papanya.
"Ays," umpar Radha benar-benar kesal lantara perlakuan Gian. Bahkan sang Papa tak pernah berbicara dengan nada tinggi padanya.
Diam, keheningan semakin membeku kala kedua insan itu bersama di dalam lift. Radha yang berada sedikit di belakang Gian mencoba mencuri pandang, sesaat, setelahnya Radha makin tak mampu menahan keinginannya.
"Masuklah, dan kau ja ...."
Ucapan Gian terpotong kala menyadari gadis kecil itu telah berlari dan masuk lebih dahulu. Seakan Radha lah sang pemiliknya, menghela napas kasar seraya beberapa kali mengelus dada. Ia lakukan untuk mengurangi potensi membuncahnya amarah tentu saja.
"Haidar, segera pulang aku tidak tahan," ujar Gian seraya memejamkan mata, menjaga Radha adalah sebuah bencana baginya.
Perintah konyol Raka yang mengharuskannya membagi waktu antara pekerjaan dan Radha adalah tergila yang pernah Gian terima.
Melangkah dengan langkah panjang dan hendak mengistirahatkan dahulu tubuh lelahnya untuk sebentar, iya sementara Radha keluar tentu saja. Seraya menikmati cola yang selalu tersedia di lemari pendinginnya.
"Ck, lama juga," ujar Gian menyadari Radha yang tak jua keluar setelah 15 menit. Bukankah ia hanya ingin buang air kecil, pikir Gian.
Merasa tak beres, pria tampan itu memutuskan untuk menghampiri gadis mungil itu ke kamar kecil, ia takutkan terjadi sesuatu yang tidak beres. Dan, Gian enggan menerima pertanyaan macam-macam dari sang Papa nantinya.
Bak penguntit di apartemen sendiri, Gian memelankan langkah dan menggigit bibir bawahnya. Diam, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Gian takut jika Radha celaka di dalam sana.
Tok tok tok
"Zu-zuraa?"
"Azura?!! Kau baik-baik saja?"
"Zuraa!! Jawab aku, kau disana?!!"
Gian mendekatkan wajahnya di pintu kamar mandi, berharap Radha segera menjawab. Namun hal yang ia inginkan tak jua ia dapatkan, bukan main paniknya. Tak ada pilihan lain. Dobrak, hanya itu, pikirnya.
Gian menarik napas dalam-dalam, mengitung dalam hati seraya menatap tajam pintu itu. Memfokuskan pandangan dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Dengan tenaga full Gian maju begitu cepat, dan kejadian konyol namun itu terjadi.
"Aaaaaarrrrrrgggghhhhh!!!"
"Haaaaaaaaaaaa?!!!"
BRUGH
Tubuh Radha terdorong tubuh gagah Gian, jatuh, dan kini wanita itu terhimpit tubuh calon kakak ipar yang sangat ia benci itu. Sakit? Tentu saja, malu? Sudah pasti.
Tatapan terkunci, Gian sempat terpukau sesaat dengan keindahan mata Radha, calon adik iparnya. Bibir itu, hidup dan wajah mungil yang benar-benar membuat Gian lupa akan apa yang terjadi sesaat.
"Dasar bodoh!! Jadi ini penyebabnya?"
Gian melirik earphone yang masih melekat di kedua telinga Radha, bahkan ia meringis kala mencoba mendengar seberapa besar volumenya. Wajar saja, bahkan gempa pun mungkin Radha tidak akan sadar, pikir Radha.
"Papa!!!" Teriakan Radha di sertai dengan pukulan keras beberapa kali yang mendarat di dada Gian membuat pria itu segera tersadar dan mengangkat tubuhnya.
"Mau apa kau?!!" cerca Radha penuh emosi, sakit rasanya punggung mugilnya. Untung saja lantai kamar mandi tidak terlalu lembab, namun tetap saja ia merasa kesal.
"Ck, bisakah mulutmu itu berhenti berteriak?!!"
Gian berucap santai seraya memasukan tangan di saku celananya. Menatap penampilan Radha dari atas hingga ujung kakinya. Tatapan mata Gian lagi-lagi membuat Radha kalut.
"Apa yang kau lihat?!!" tanya Rada menutupi dadanya spontan dengan tas yang sejak tadi tak ia lepaskan dari pundaknya.
"Ck, bersihkan otakmu, kau berikan saja aku enggan, cih." Gian berlalu meninggalkan Radha yang sedari tadi gemetar, bahkan sungguh-sungguh lemas seakan tak mampu untuk berjalan lagi.
"Astaga, makhluk macam apa dia?" Radha mengatur napasnya, memegang dada dan mencuri pandang Gian yang kini memilih duduk di sofa.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Budiarti
awalnya kayak tom and Jerry, lama2 lengket kek perangko/Chuckle/
2025-03-11
0
Yus Warkop
😂😂😂😂
2024-09-03
0
Nanik Kusno
Aneh....lucu juga
2024-05-12
0