Tak ada pembicaraan, siang ini semua seakan tak berani membuka suara. Gadis cantik bermata bening itu masih saja menatap nanar rintik hujan yang tak jua reda, bahkan Hana yang biasanya berani menarik paksa Radha dalam segala hal tak mampu berbuat banyak.
"Ck." Radha memutar bola matanya malas, kedatangan Abian dengan jaket yang kini ia berikan untuk Radha.
"Nungguin apa? Dingin, Ra, masuk aja ya," pinta Abian menatap lekat mata sang pujaan. Ekspresi datar Radha tak membuat Abian berhenti, kini pria itu merangkul pundak primadona sekolah itu.
Beberapa pasang mata yang menyaksikan mereka tentu saja merasa iri, sangat-sangat iri. Mereka tahu betapa sulitnya meluluhkan hati Abian bahkan hanya untuk menjadi temannya, sedangkan Radha, tanpa usaha ia berhasil menduduki tahta di hati Abian.
"Menjauh dari gue, makasih!!"
Radha melepas jaket yang sempat menghangatkan tubuhnya meski sesaat, memberikannya begitu kasar kepada sang pemiliknya. Abian yang begitu mencintai gadis itu hanya menarik sudut bibir, baginya tak mengapa Radha bersikap demikian.
"Gimana gue gak gila, Ra."
Senyum itu tak jua sirna, disertai tatapan tajam mengiri langkah Radha. Rambut hitam, jalan yang begitu anggun namun tidak dibuat-buat membuat Abian seakan lupa siapa dia dalam hidup Radha. Bahkan dalam list temannya saja mungkin tidak, hanya saja Abian begitu mencintainya.
"Woy!! Kenapa si lu?"
Kedatangan Bryan yang sempat menepuk pundaknya cukup kuat membuat senyum Abian seketika hilang. Seiring dengan menghilangnya Radha dari pandangan mata.
"Ck ck ck, yang kemaren mana?"
Bryan menggeleng seraya menarik sudut bibir, benar saja sifat temannya takkan bisa berubah. Menjadi seorang penakluk wanita baik di luar maupun dalam sekolah adalah skill Abian yang takkan mampu mereka saingi.
"Ays ganggu aja lu," ujar Abian melangkah lebih dulu, pria tampan yang mencari idaman para ciwi-ciwi itu memang tak terkalahkan. Bukan hanya karena ketampanan wajahnya, tapi juga kebiasaan buruk yang membuatnya semakin di gilai oleh wanita.
"Kenapa gak pakek cara lama aja bro, sikat aja udeh, ntar gue sama Arga bantuin."
Bryan memberikan tawaran gilanya, sejak dulu, sejak ia tahu Abian mengemis cinta pada primadona sekolah itu. Namun, sungguh aneh bagi Bryan, jika tentang Radha, Abian begitu berbeda jauh dari yang ia tahu.
"Heh!! Dasar otak kotor, picik banget si jadi orang!" cerca Abian menghentikkan langkahnya, menatap tajam Bryan yang membuatnya kesal lantaran ini menyangkut gadisnya.
"Dia kenapa sih," ujar Bryan tak habis pikir menatap punggung gagah sahabat karibnya yang kini makin menjauh.
Tak jauh berbeda dari Bryan, sesungguhnya Radha juga merasa aneh dengan perlakuan murid yang sama sekali tak ia sukai itu, bahkan sehelai rambutpun, Radha tak suka.
Bahkan kini ia menatap wajah tampan Abian yang sempat tersenyum manis padanya di luar kelas, segera Radha menurunkan pandangannya. Pikirannya yang sedari tadi kacau semakin kacau saja.
Keputusan Raka dan Ardi yang bertindak seenaknya atas pilihan hidupnya membuat Radha seakan enggan melakukan segala sesuatu, kepulangan Haidar yang sempat membuatnya tertawa bahagia kini terganti akan ketakutan ia akan kecewa.
"Aduh!! Gimana nanti kak Haidar ... aku harus menjawab apa ya Tuhan."
Sejak pagi tadi, dengan prihal yang sama Radha mengkhawatirkan perasaan Haidar. Cinta pertamanya itu tentu akan sangat tersakiti jika nanti hal ini benar terjadi, pikir Radha.
"Ehm, Ra? Ada masalah?" Hana yang akhirnya memberanikan diri mencoba duduk di samping Radha.
"Nggak, Han, tolong jangan ganggu ya, gue lagi gak buka sesi tanya jawab." Jawaban Radha dengan wajah datar namun terkesan lucu bagi Hana, membuat gadis pembuat ulah itu susah payah menahan tawa.
"Lu kenapa, Han? Gue ga mood buat bercanda," celetuk Radha yang nyata memang benar tengah enggan untuk banyak bicara.
Bagaimana bisa suasana hatinya baik, sejak perjodohan itu diputuskan, Raka meminta Gian untuk menjaga Radha sebelum pernikahan di laksanakan. Terkadang ia bertanya, siapa yang menjadi calon suaminya, mengapa semua seakan menjadi rahasia.
Dinginnya sikap Gian, belum lagi mereka pernah bertemu dengan kesan yang luar biasa buruknya membuat Radha benar-benar membenci hidupnya. Sebal, kesal dan rasa ingin menenggelamkan beruang kutub itu.
"Ays!! Kenapa juga sih pakek di suruh jagain sama ntu manusia, enakan juga di jaga om Aryo."
Radha menggerutu tak tentu arah, keputusan Ardi yang sejatinya tak mampu ia ganggu gugat membuat Radha berada di posisi serba salah. Hendak melawan, namun 3 pasang mata yang menatapnya tadi pagi membuat Radha mengalah.
Pelajaran kosong yang seharusnya akan ia habiskan untuk bercanda bersama teman-temannya, kini ia hanya memilih diam. Menanti jam pulang dan menyiapkan mental kala bersama dengan manusia menyebalkan itu.
Memejamkan mata seraya menghela napas perlahan adalah cara Radha untuk sedikit lebih tenang, selama sekolah mungkin baru kali ini ia membenci jam pulang. Tentu saja karena adanya pria tampan 0 derajat celcius itu.
Berjalan seakan hari ini adalah hari terberatnya membuat Abian yang memang sedari tadi menantinya segera menghampiri, hujan, ia takut Radha akan nekat juga. Jika bersamanya, setidaknya Radha akan baik-baik saja, pikir Abian.
"Ra, tunggu sebentar lagi, lu gak mau basah kuyup kan?"
Abian menahan pergelangan tangan Radha, ia takkan membiarkan gadis itu tetap pada pendiriannya kali ini.
"Iya tau, udah sana." Radha merasa risih dengan perlakuan Abian yang seakan tengah menunjukkan kedekatan mereka.
"Sama gue aja ya, liat hujannya selebat ini, Ra."
Penawaran yang ia berikan penuh harap akan jawaban iya dari gadis cantik itu, meski tak begitu yakin bahwa Radha akan mengiyakan ucapannya, Abian tetap yakin kali ini.
Hujan, Radha tersenyum girang. Bukankah dengan hujan yang selebat ini ia takkan berjumpa dengan pria itu, pikirnya. Kali ini, untuk pertama kalinya Radha berpikir bahwa ikut bersama Abian bukanlah ide yang buruk.
Di luar dugaan Radha, pikiran gadis itu masih terlalu sempit. Teriakan beberapa siswi kanan kirinya membuat Radha benar-benar terganggu. Tak terlalu peduli, namun kala menyadari siapa yang kini berada di depannya Radha terperanjat kaget bahkan napasnya ikut tercekat.
Tubuhnya yang begitu gagah dan wajah yang begitu tampannya seakan menghipnotis para siswi yang melihatnya. Menghampiri Radha dengan payung dan kaca mata hitam, membuat pria itu semakin mengundang perhatian.
"Kenapa kau menatapku?"
Suara penuh wibawa itu membuat Radha menggeleng cepat-cepat. Gian yang begitu berbeda membuat Radha hampir saja terhanyut dalam suasana romantis siang menjelang sore itu.
"Siapa, Ra?"
Pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Abian membuat Gian menarik sudut bibir, tatapan tajam Abian membuat Gian sedikit tertarik dengan remaja satu itu, cukup berani, pikirnya.
"Ayo pulang, aku tidak punya banyak waktu untukmu."
Ingin rasanya Radha berontak, namun lagi-lagi ia teringat ancaman sang Papa yang menurut Radha cukup menghantuinya.
"Zura? Kau tuli?"
Deg
Panggilan itu, Radha menatap wajah Gian begitu dalam, panggilan yang mengingatkannya pada sosok cinta dan sayangnya.
"Zura!!"
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
gian kkaknya haidar yg ditugaskan pp raka untuk jaga calon mantunya hehe
2024-09-03
0
Nanik Kusno
Gian..... nanti suaminya Radha
2024-05-12
0
Qaisaa Nazarudin
Abian kekeuh banget ngejarin Radha,Aku juga sempat kagum dgn Abian yg mati-matian mengahar Radha,,Tapi saat tau siapa Abian sebenarnya,Aku langsung ilfil .
2024-02-17
0