CUT!!!
"Haidar!! Kau gila? Ada apa denganmu?!?"
Sudah kesekian kalinya Haidar membuat ulah di lokasi syuting pagi ini, tak biasanya aktor tampan itu membuat sutradara naik darah.
"Maaf, Pak. Maafkan saya semua," ujar Haidar merasa bersalah pada orang di sekelilingnya, sadar akan kesalahan terletak pada dirinya.
"Ays!! Mau berapa kali lagi, Haidar, kita tidak punya banyak waktu kau tau kan," ujar sang Sutradara mencoba menahan emosi yang sejak tadi membelenggu batinnya.
Randy sebagai Om sekaligus aktor yang turut berperan dalam drama yang Haidar perankan mencoba meminta pengertian sutradara atas keadaan keponakannya. Pria itu tentu tahu apa yang membuat putra kakak kandungnya itu bak kehilangan arah.
"Haidar, Whats wrong with you?"
Sejak syuting dimulai Jenni merasa Haidar begitu berbeda, aktor yang di kenal profesional dalam segala adegan ini terlihat kehilangan fokus, bahkan untuk mengucapkan satu dialog saja Haidar mengulang hingga beberapa kali.
"Ehm, sorry." Haidar memijit pangkal hidungnya, tangisan Radha yang juga memintanya untuk pulang seakan menghantuinya sejak kemarin.
Pria itu menghela napas perlahan, dingin yang memeluknya membuat matanya sedikit berair. Syuting pagi ini terpaksa di tunda beberapa saat, tanpa menjawab lebih jauh pertanyaan lawan mainnya, Haidar berlalu begitu saja ke mobilnya.
Rury yang sedari tadi memintanya kembali mengenakan jaket tebal tak ia gubris, asisten tersabar di dunia itu lagi-lagi hanya mampu menghela napas perlahan. Menemani Haidar sejak awal berkarir hingga kini pria itu berhasil berada di puncak kesuksesan membuat Rury seakan terlatih dengan sikap Haidar yang sesukanya.
"Kau sakit?" Rury memastikan keadaan Haidar, tanpa mendapat jawaban Haidar, wanita cantik 25 tahun itu sedikit lega usai mengecek suhu tubuh Haidar yang nyatanya normal.
"Kak Rury," panggil Haidar tanpa membuka mata, menenangkan diri di dalam mobil adalah cara Haidar untuk menghindari penggemar yang sesekali dapat membuatmya naik darah.
"Ehm? Apa?"
"Umurmu berapa?"
"Huft, 25, dan kau jangan pernah menanyakan hal yang sama," cerca Rury menghindari pertanyaan klise Haidar tentang pernikahannya.
"Hahaha, santai, Kak." Haidar tertawa sumbang, mengapa banyak orang yang merasa terganggu dengan pertanyaan semacam itu, pikirnya.
"Aku iri padamu," sambung Haidar yang kini menatap sendu Rury, asisten pribadi yang ia pilih sendiri atas dasar pemaksaan beberapa tahun lalu.
"Iri? Apa yang harus kau irikan dari wanita sepertiku?" Rury tertawa sumbang, merasa lucu dengan pernyataan Randy, bahkan ia harus kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hanya karena faktor ekonominya.
"Kebebasan," cetus Haidar menatap jauh luaran sana, beberapa orang tampak menikmati hidup tanpa interpensi dari pihak lain.
"Kau hanya melihat dari sudut pandangmu, Haidar." Rury mengerti apa yang Haidar maksudkan, keinginannya lepas dari pengawasan Raka benar-benar terlihat sejak awal ia berkarir.
Senyum terpaksa Haidar cukup membuat wanita itu merasa terluka, bingung harus melakukan apa. Menghiburnya pun pecuma, pria itu merasa kebebasannya dalam bayangan.
"Kak Rury,"
"Ada apa lagi, Haidar?"
"Aku merindukannya, sangat-sangat rindu." Haidar menatap dalam manik hitam Rury, gadis cantik berdarah Aceh itu hanya membalas tatapannya Haidar sekilas. Sadar betul Haidar bukan lagi remaja yang seperti awal dia bertemu.
"Ka-kau ingin pulang?" tanya Rury sedikit kaku, tatapan Haidar membuatnya salah tingkah, sejak kapan ia bisa luluh hanya dengan tatapan bocah itu, pikirnya.
"Hem, karena aku memang harus pulang."
"Kau yakin ingin pulang, Haidar?" Rury kembali memastikan, keputusan pria itu jelas sekali bukan dirinya. Tak biasanya Haidar memilih pulang tanpa Gian yang menjemputnya, pikir Rury.
"Sendiri?"
"No, sama om Randy,"
"Biasanya aku ikut bersamamu, apa tidak sebaiknya aku ikut?"
"Tidak perlu, kau tetap disini, aku tidak akan lama. Hanya menemui Mama dan ...."
"Radha?"
Anggukan Haidar sejenak membuat Rury tertegun, bagaimana bisa mereka begitu baik dalam mempertahankan hubungan. Sejak 15 tahun ia kerap menceritakan gadis kecil yang menjadi lockscreen ponselnya.
"Pasti semakin cantik," puji Rury tersenyum manis, memang ia tak mengenal Radha secara pribadi. Namun, cerita Haidar yang bahkan hanya tentang wanita itu membuat Rury bahkan dapat memahami sifat gadis cantik itu.
"Hahaha, tentu saja, dia gadis yang sangat-sangat cantik." Haidar menarik sudut bibir seraya membayangkan betapa manisnya senyum Radha kala bersamanya.
"Kakak juga cantik," sambung Haidar usai membayangkan cintanya.
Ucapan singkat yang berhasil membuat wajah Rury memerah, salah tingkah dan bahkan tak berani menatap wajah Haidar.
"Tapi sedikit," tambahnya lagi.
BUGH
Sudah menjadi tabiat wanita memukul kala bicara, merah di wajahnya mendadak hilang kala menyadari Haidar yang kini terbahak usai mendapat pukulannya.
"Bangunkan aku 30 menit lagi," ujar Haidar yang akhirnya tak dapat menahan kantuk.
"Bukankah waktunya sudah hab ...."
"Ssssttt," ujar Haidar meletakkan telunjuknya tepat di bibir Rury
"Aku mengantuk," sambungnya lagi.
Pikiran yang sedemikian kacau membuatnya tak bisa tidur tenang tadi malam, seberapa kuat ia memejamkan mata tetap saja amukan Radha terbayang jelas di otaknya.
"Kak jika kau pulang, temui aku secepatnya,"
Lagi-lagi, permintaan Radha untuk pertama kalinya membuat Haidar sadar betapa merindunya gadis itu, tenggelam dalam dunia mimpi, Haidar berharap dapat bertemu sang kekasih meski hanya sedetik saja.
Andai gadis itu telah dewasa, mungkin Haidar akan membawanya bersama, tinggal bersama tanpa adanya bayangan Raka dan Gian yang kerap menganggapnya takkan pernah dewasa.
Dering ponsel yang terdengar samar di telinganya kini terhenti, entah siapa ia tak peduli. Selagi bukan Radha, saat ini Haidar hanya memikirkan gadisnya. Segera pulang dan melepas rindu walau hanya sesaat.
Meninggalkan Rury yang kini bingung harus berbuat apa, ia tahu ucapan Haidar tak bisa ia langgar. Ancaman sutradara yang barusan menelponnya membuat Rury ketar ketir, namun jika sampai membangunkan singa yang kini tengah tertidur itu, ia juga tak mampu.
Rury bernapas lega kala mendapati Randy yang kini menghampiri mobil mereka, setidaknya pria itu dapat berbicara baik-baik pada Haidar.
"Dia tidur?" tanya Randy kala membuka pintu mobil dengan napas yang bisa dipastikan sedang panik.
"Iya, Om, lalu bagaimana?" Tak hanya Randy, Rury pun tentu saja panik, ia tahu kesalahan Haidar kali ini bisa saja membuatnya terbuang dari drama yang tengah ia bintangi.
"Ck dasar anak nakal," ujar Randy menatap kesal Haidar yang kini tampak begitu terlelap.
"Om, bagaimana?" tanya Rury mendesak, sungguh ia benar-benar kalut kali ini, media tentu akan menyampaikan hal yang tak baik atas kesalahan Haidar jika sampai berakibat fatal.
"Tidak ada pilihan,"
"Pemeran utama diganti."
Ketakutan Rury benar adanya, namun yang lebih ia takutkan adalah amukan Haidar jika nanti ia membuka mata. Mendapatkan peran sebagai lawan main seorang Jenni adalah keinginan Haidar sejak lama. Jika saja ia tahu mereka mengambil keputusan sepihak, bisa jadi Haidar bertindak di luar nalar.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
haidar belum dikadih tahu mau dinikahkan sama kekasihnya ia nekad kabur deh
2024-09-03
0
Nanik Kusno
Karena g terbuka....kacau semuanya
2024-05-12
0
komalia komalia
rendy nikah sama siapa ya
2023-10-16
1