"Maaf, Pa ... tapi, seperti yang Papa tau aku punya kekasih."
Setelah beberapa menit terdiam, gadis cantik itu mengambil keputusan. Raka dan Ardi menatap lekat wajah mulusnya yang kini terlihat gugup lantaran berani menolak keinginan Papanya.
"Kekasih? Maksudmu kakak kelasmu ketika SMP itu?" tanya Ardi menarik sudut bibir, baik Ardi maupun Raka mencari tahu hubungan mereka secara diam-diam.
Sejak Haidar masih berada di Indonesia, Raka telah mengetahui hal itu. Karena itulah, keputusannya untuk menikahkan Haidar dengan putri sahabatnya itu ia ambil tanpa pikir panjang.
"Iya, dan aku telah berjanji akan menunggu kak Haidar pulang."
Lagi-lagi, jawaban Radha membuat senyum Raka mengembang. Benar kata Raka, jiwa tulus Maya melekat dalam diri Radha. Layaknya Maya yang tulus menunggu Randy, namun terpatahkan karena sandiwara pernikahan.
"Kau tau siapa Om dan papamu, Radha?" tanya Raka menatap tajam Radha, menjelaskan melalui sorot matanya jika ia tak menerima penolakan.
"Ck, jangan menekan putriku!! Dasar gila," ujar Ardi berdecak kesal, hal itu masih saja kerap mereka lakukan. Meski tak muda lagi, Raka dan Ardi masih kerap bercanda layaknya beberapa tahun silam.
"Ays dasar menyebalkan," decak Raka menatap kesal Ardi, niatnya untuk membuat Radha menerima paksa tanpa ia jelaskan gagal karena Ardi mengubah suasana.
"Radha, dengarkan Papa."
"Sejak kalian kecil, Mamamu dan Jelita telah merencanakan pernikahan kalian. Bahkan tanggal pernikahan telah Jelita sepakati sewaktu kau masih dalam kandungan."
Penjelasan Ardi membuat Radha tercengang, mengapa ada hal segila itu, pikirnya. Raka pun turut mengiyakan melalui tatapan matanya, memang benar apa yang Ardi ucapkan.
"Papa gila?!!" Radha tak terima, jelas saja ia benci hal semacam ini. Baru saja kemarin ia membahas tentang perjodohan bersama Nisa, dan jelas Radha membenci hal kuno semacam itu.
"Kau tak bisa menolak Radha, tanggal pernikahan kalian bahkan sudah ditentukan, dan Papa tidak ingin kamu membuat Papa kecewa."
Ardi berusaha bersikap tegas, selama ini Radha berani melawan perintahnya karena terlalu lemah. Dan juga, calon suami yang dimaksudkan adalah Haidar yang nyatanya adalah kekasihnya sendiri, jelas saja Ardi tak segan untuk mendesaknya.
"T-tapi, Pa."
Radha memelas, bukan karena ia takut akan bentakan Papanya. Hanya saja ia tak ingin di cap mengecewakan, selama ini Radha berusaha menunjukkan ia selalu berada di atas Celline dalam hal apapun. Dan jelas ia tak ingin satu kesalahan membuat sumpahnya pada diri sendiri justru hancur begitu saja.
Sesaat suasana ruangan berubah hening, Radha hanya mampu menghela napas kasar seraya menatap Ardi penuh harap. Namun tidak ada penolakan di balik mata indah itu, jika saja Radha tahu hal ini akan terjadi, jelas saja ia enggan menghampiri Raka, pikirnya.
"Ehm, maaf, Mas. Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan dulu, Radha masih terlalu dini untuk menikah, dan juga apa ia akan mampu menjadi seorang istri? Mengurus diri sendiri saja ia belum mampu, dia masih begitu man...."
"Anda tau apa tentang saya? Anda Mama saya?" Radha tersenyum smirk dengan tatapan penuh penhinaan. Pantang baginya mendapat ucapan demikian dari wanita penjilat seperti Dewi.
"Radha, jangan kasar, Nak." Inilah hal yang Ardi hindari, ia takut Raka takkan suka dengan watak keras Radha yang sesungguhnya.
Radha beranjak dari sofa, hendak berlalu namun terhenti kala baru saja berjalan beberapa langkah. Gadis itu berbalik dan menatap tajam mata Ardi yang penuh penyesalan.
"Papa atur saja, aku siap menjadi menantu Om Raka."
Singkat, namun Ardi dan Raka begitu puas dengan keputusan Radha. Sengaja Raka meminta Ardi tak memberitahukan siapa calon suami Radha, karena jika ia tahu tentu bukan kejutan, pikir Raka.
Lain halnya dengan kedua pria itu, Dewi yang sudah berusaha membuat Radha menolak lamaran itu hanya mampu menahan panas dalam dadanya. Sungguh ia merasa kalah sebelum bertarung, digenggamnya jemari Celline yang kini menatap kecewa padanya.
Keduanya sama-sama berharap dapat menjadi keluarga Wijaya dalam satu ikatan pasti, hanya saja keberuntungan tak memihak dirinya, dan benar saja ia akan selalu kalah dengan Radha dalam hal apapun.
"Ehm, Raka. Kau yakin identitas anakmu akan dirahasiakan hingga akad nanti? Apa tidak lebih baik Radha tau yang sebenarnya jika Haidar calon suaminya?" tanya Ardi ragu, ia tak ingin nantinya Radha justru membuat ulah dengan kebohongan mereka di awal.
"Tidak, aku ingin memberikan kejutan kecil, baik untuk Radha dan juga Haidar." Tekad Raka untuk mempertemukan dalam sebuah pertemuan yang begitu manis itu begitu kuat, ia hanya ingin Radha dan Haidar bersatu secepat mungkin.
"Aku serahkan padamu, Raka." Ardi menepuk bahu sahabatnya itu, meski Raka adalah pria pemaksa tetap saja ia begitu menghargai pria itu.
_******_
Prankk
Hancur sudah kamar gadis cantik itu, baru saja ia membereskannya. Menyadari jika dirinya mudah terbawa emosi hingga membuat keputusan tak masuk akal itu membuat Radha membenci dirinya. Begitu besar harapnya tentang pengakuan Ardi terhadapnya hingga ia melupakan egonya sesaat.
"Ays!! Kenapa gue terima!!" Radha menghempaskan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit kamar yang begitu indah nan mewah namun tak berarti baginya.
"Kak Haidar ... andai lo di sini, mungkin gue gak butuh pengakuan Papa sebagai putri kesayangan yang sempurna untuknya."
Keluh Radha menahan sesak, jika saja Haidar bersamanya, mungkin hatinya takkan seluka ini. Setidaknya ia takkan merasa sendiri, hubungan asrama yang ia jalin cukup lama bersama Haidar jelas saja membuat hatinya berharap penuh pada pria itu.
Radha tersenyum kelu kala mencoba menghubungi Haidar dan hasilnya tetap sama, ia tak mengerti sejak beberapa bulan terakhir Haidar begitu sibuk hingga menghubunginya pun tak sempat. Radha bukan tipe yang selalu menuntut pasangan harus ada, hanya saja ia ingin di anggap ada.
"Cih, hubungan macam apa ini Tuhan!!" Radha menarik rambutnya, mengapa di usia yang masih tergolong muda ia harus merasakan ini semua. Komitmen hanya mampu dilakukan oleh pasangan dewasa secara pemikiran, dan Radha melakukan hal itu sejak lama.
Bermodalkan kepercayaan ia menjatuhkan harapan hanya untuk Haidar, namun karena hal bodoh yang membuatnya merasa hampir mengecewakan sang Papa, Radha seakan melupakan komitmen yang telah ia bangun.
"Ya Tuhan!! Kalau kak Haidar tau gimana?"
"Tapi tunggu deh, sekalipun dia tau, apa mungkin dia peduli sama gue?"
Pertanyaan-pertanyaan itu kembali menghiasi pikiran Radha, hingga di tengah lamunan akan masa depannya ponselnya berdering sesaat.
"Hah?" Radha membeliak, tak menyangka ia mendapat pesan singkat dari sang pujaan setelah cukup lama ia bersabar. Namun sayang dan sungguh menyakitkan, ia telah memilih hal lain, pikir Radha.
Kak Haidar
See you, Honey💓
Deg ...
Radha berdebar, rindu yang telah lama tak terbendung kini agar segera berakhir. Haidar pulang dan mereka akan berjumpa, hingga kini penyesalan menyeruak dalam hatinya telah lancang menerima lamaran rekan papanya. Tak jua membalas, Radha hanya menatap kolom chat penuh dengan penyesalan. Mengapa ia datang saat ini, kemana saja kemarin, pikir Radha.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
lanjut
2024-09-03
0
Ilyloveme
Kasi dong pa calonnya siapa, klo ginimah pasti nolak
2024-07-01
0
Widi
Ya Allah kok nyesek banget ya kisah cunta nya Maya 😭😭
2024-05-03
0