"Makasih, Pak." Radha tersenyum ramah pada pria paruh baya itu, memberikan selembar uang kertas dengan jumlah lebih besar dari seharusnya. Sudah menjadi kebiasaan Radha melakukan hal itu, baginya berbagi adalah sebuah bagian dalam hidupnya.
Berjalan perlahan lantaran kakinya masih sedikit sakit, Radha menyadari ada yang berbeda. Tak biasanya ada tamu di jam segini, wajar saja sang Papa tak menjemputnya hari ini. "Sampai kapan papa sibuk dengan dunianya," keluh Radha dalam benaknya.
Baru saja hendak melangkah memasuki pintu utama, Celline menarik Radha kuat-kuat dan mengajaknya masuk melalui pintu belakang. Saudara tiri yang merupakan anak dari Dewi itu memang kerap bersikap lancang pada Radha.
"Ck, lepaskan!!" Radha menghempas genggaman tangan Celline, sejak pertama bertemu dan status mereka menjadi saudara tiri keduanya tidak pernah berhubungan baik-baik. Selalu saja ada hal yang menjadi alasan mereka terpecah.
"Heh! Dengarkan aku dulu, di ruang tamu ada om Raka yang tengah membicarakan hal serius dengan Papa. Dan kau jangan menampakkan diri sebelum dia pulang." Celline menatap tajam Radha yang kini memasang wajah datar.
"Hahaha ... kenapa? Kau takut teman-teman papa memintaku untuk jadi mantunya lagi?" tanya Radha tersenyum licik, di usia 18 tahun begitu banyak rekan kerja Ardi yang menginginkan Radha sebagai pendamping putra mereka.
"K-kau." Calline mengepalkan tangan, usia keduanya tak jauh berbeda, namun memang Radha menonjol dalam segala hal.
"Benar kan? Tenang saja, aku memiliki kekasih kau tidak perlu risau." Radha berlalu pergi, meninggalkan Celline yang kini memanas karena ucapan Radha.
"Dasar sialan," umpat Celline memukul angin seraya menatap tajam punggung Radha yang kini menjauh.
Kedatangan Dewi yang mengejutkannya membuat Celline mengalihkan pandangan, sejak tadi Dewi menuntut Celline berdandan yang cantik agar Raka memilih putrinya untuk di jodohkan dengan salah satu pewaris keluarga Wijaya itu.
Rencana Ardi dan Raka memang sudah pernah di bahas beberapa bulan lalu, hanya saja Raka belum menentukan pilihan siapa yang akan menjadi menantunya. Dalam kesempatan ini tentu saja Dewi takkan takkan menyia-nyiakan peluang.
"Ayo, Celline, jaga sikap ingat itu." Dewi memperingatkan Celline agar tidak mengecewakannya di depan Raka.
Tentu saja Celline menyiapkan diri, meski ia tak tahu siapa calon suami yang dimaksud gadis itu tak akan peduli sedikitpun. Baginya menjadi menantu seorang Abima Raka Wijaya adalah impian terbesar yang harus ia dapatkan.
Keduanya menghampiri Raka dan Ardi yang tengah berbincang ringan, sudah Raka katakan ia akan memulai pembicaraan serius jika ia sudah bertemu dengan putri Ardi.
"Kau lihat, ini putriku." Dewi memperkenalkan Celline tanpa menunggu perintah dari Ardi.
"Ah iya, cantik, Dew ... mirip seperti mantan suamimu." Raka berkata jujur dan menarik sudut bibir.
Ucapan sarkas yang sengaja ia tujukan pada perebut suami orang itu sukses membuat Dewi memerah. Bahkan kini wanita itu terdiam lantaran malu yang tiada tara. Rahasia Dewi di masa muda membuat Raka memandang wanita itu sebelah mata.
"Ehem, ada-ada saja kau, Raka." Ardi mengerti apa yang membuat istrinya merasa tak nyaman. Sekalipun Ardi paham bagaimana Raka tak menyukai Dewi, tetap saja ia harus mengambil posisi sebagai penengah di antara mereka.
"Hahaha santai ... siapa namamu?" Raka kini menatap ramah Celline yang kini memasang wajah khawatirnya, dapat ia rasakan bagaimana wibawa seorang Raka yang kini menatap matanya.
"Celline, Om." Menundukkan pandangan lantaran tak memiliki banyak keberanian untuk menatap Raka secara langsung.
"Ck, masih sangat muda." Raka berpikir sejenak, pasalnya dari penampilannya terlihat jelas jika gadis itu anak manja.
"Tentu saja, tapi kau jangan khawatir, Celline memiliki cita-cita menikah di usia muda, bukankah putramu juga masih muda?" Lagi-lagi Dewi berusaha membujuk Raka secara tak langsung untuk melamar putrinya.
"Mama ... aku malu," bisik Celline seraya menggenggam erat tangan sang Mama.
"Hem, benar juga," sahut Raka usai meneliti penampilan Celline.
Raka kembali beralih pada Ardi, dan saat itu juga Ardi mengerti bahwa Raka menginginkan putri kandungnya. Jelita dan Maya saling mengenal dahulu, tentu saja ia mengerti watak Maya meski tak begitu dalam.
"Dew, panggilkan Radha," pinta Ardi yang membuat Dewi menatap tak suka, kecewa dengan kala menyadari kesempatan emas untuk putrinya terancam hilang.
"Dewi," ujar Ardi menyadarkan sang Istri yang masih saja terdiam, seakan enggan melakukan kehendaknya.
Dengan berat hati, terpaksa Dewi mengikuti perintah sang suami. Tinggal kini Celline yang berada di ambang ketakutan akan Raka memilih Radha sebagai calon menantunya, dalam segala hal Celline kalah dan ia sungguh tak suka.
_*******_
Tok tok tok
Radha yang kini tengah menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik favoritnya, bahkan ia tak mendengar jika Dewi mengetuk pintu itu berulang kali.
"Radha!! Kau tuli?"
Dewi melepas paksa earphone yang membuat dunia Radha teralihkan, sungguh ia tak paling benci dengan sikap kasar Dewi. Berdecak kesal dan menghentakkan kaki adalah bentuk protes Radha terhadap ibu tirinya.
"Kenapa? Kau butuh jasa membawakan minuman?" tanya Radha berkacak pinggang, menatap datar wanita dengan hiasan tebal itu.
"Kau dipanggil papamu, lekas temui." Dewi berucap tanpa menatap wajah gadis itu, selama pernikahanya dengan Ardi, Radha seakan menjadi pihak ketiga yang siap menghancurkan hubungan mereka.
"Katakan saja aku sibuk, bukankah putrimu setakut itu rekan Papa melihatku? Kenapa? Apa karena putrimu kalah cantik?" Radha berucap seraya tersenyum remeh pada ibu tirinya. Cara menjatuhkan mental keduanya sama, pikir Radha.
"Cih, kau sama saja dengan Maya, lemah namun begitu angkuh." Dewi menatap sinis Radha, baginya mendapatkan Ardi yang secara nyata adalah suami Maya adalah bukti jika istri sah tak sekuat yang dikira.
"Dan kau bangga?" Radha menarik sudut bibir dan memilih berlalu meninggalkan Dewi di dalam kamarnya.
Tanpa peduli dengan penampilannya, kini Radha menemui tamu sang Papa. Cukup dengan celana selutut dan kaos oblong ternyamannya, penampilan sederhana namun semakin memperlihatkan kecantikan alami Radha.
"Waw!! Ini putri kecilmu, Ardi?" tanya Raka begitu antusias Kala menatap Radha yang semakin dekat menghampirinya. Benar saja, buah tak jatuh jauh dari pohonnya, Rada mengingatkan Raka pada Maya ketika masih muda.
"Tentu saja, cantik kan?" Ardi begitu bangga dengan putri kandungnya, meski kesalahannya begitu besar namun kasih sayangnya pada Radha takkan pernah tergantikan.
"Benar sekali, aku rasa putrimu cocok bersanding dengan putraku."
Radha yang kini semakin mendekat berdetak kala mendengar ucapan Raka, entah mengapa kali ia merasa ucapan Raka berbeda dengan rekan Ardi yang terdahulu menjadikannya candaan.
"Selamat siang, Om," sapa Radha seraya meraih punggung tangan Raka, gadis itu memang begitu peduli dengan kesopanan.
"Siang juga," jawab Raka tersenyum hangat seraya mengelus puncak kepala Radha. Dan itu sukses membuat Celline meradang, mengapa selalu Radha dan Radha, pikirnya.
"Ardi!! Bagaimana, apa kau mengizinkan putrimu bersanding dengan putraku?" tanya Raka menatap Radha yang tengah tediam dan Ardi secara bergantian.
"Kalau kau bertanya pendapatku, jelas saja aku menerimanya, Raka. Tapi, keputusan tetap di tangan putriku." Ardi memberi penjelasan seraya menatap lekat putrinya, sedikit tak ikhlas namun harus ia lakukan.
"Radha, bagaimana?" tanya Ardi pada sang Putri kecilnya, gadis cantik yang begitu ia sayangi itu terlihat menarik napas dalam-dalam.
"Ehm, aku ... aku," ujar Radha menimbang keputusannya, menatap sekilas Celline yang berada di sampingnya.
"Katakan," perintah Ardi kemudian.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
mantaf nih cerita pernah dulu baca tapi samar" lupa hantam lagi aku suka
2024-09-03
0
Nanik Kusno
Cerita Ardi dan Maya nyangkut dimana Thor???
2024-05-12
0
𝙵𝚑𝚊𝚗𝚒𝚊 🦂🦂 🦂
oo jadinya Maya nikah sma Ardi tp malah di duakan
2024-03-17
0