Klentang!!
"Hana!!" teriak mereka berempat bersamaan, gadis kurang sesendok itu kembali berulah. Kini tutup dandang bakso mang Udin menjadi korban. Entah sampai kapai gadis itu berhenti membuat teman-temannya malu 7 turunan.
"Kagak sengaja, Mianhae." Hana mengembalikan tutup dandang itu kepada Udin, penjual bakso dengan senyum manis namun sudah beristri.
"Cuci dulu atuh, Neng," pinta Udin menolak mentah-mentah tutup dandang yang baru saja Hana kembalikan, tidak kotor hanya saja hal itu akan membuat para pelanggan yang melihat kejadiannya akan berpikir macam-macam.
"Astaga, salah sendiri minta Hana buat bantuin, kan kagak tau cara bukanya yang bener gimana." Sudah pasti gadis itu membela diri, ia kira membukan benda keramat itu sesulit mencari pacar, nyatanya hanya dengan mengeluarkan 15 persen kekuatan benda itu dapat terbuka.
"Udah sana, Han, cuci doang ribet." Novi yang sejatinya memang teman cekcok Hana akan selalu mencari celah agad gadis ikal itu di posisi salah.
"Eh mulut lu gue siram kuah mau?!" ancam Hana menatap tajam Novi, tak peduli dengan beberapa cowok yang juga menyaksikannya ulahnya.
"Ya elu salah sendiri, udah tau kita kemari mau makan, elu malah belajar jualan. Minta kawinin aja sekalian sama Mang Udin." Begitulah mulut ceplas ceplos Novi yang terkadang mengundang emosi, sementara Ifi dan Radha hanya menggelengkan kepala menyadari ketidakwarasan temannya.
Lain halnya dengan Nisa, gadis cantik berwajah imut itu justru sibuk merekam ulah Hana. Jelas saja akan ia unggah di akun sosmednya, "temen goblock check," ujar Nisa di sela-sela rekamannya.
"Nisa!! Elu rekam gue lagi ya?" tanya Hana mendekat, masih dengan tutup dandang yang kini di tangannya. Nisa spontan menyembunyikan ponselnya, tak ingin ponsel itu menjadi korban kejahatan Hana.
"Kagak, gue rekam Novi doang keles." Nisa menjawab cuek, kembali menikmati bakso yang sudah terasa dingin karena ia mengabaikan makanan itu.
"Hilih bo'ong banget lu, gue cek di Ig aib gue di posting semua." Hana menarik mangkuk bakso Nisa, sayang jika di sia-sia kan, pikirnya.
Nisa mengerutkan dahi, menatap geli Hana yang kini mengambil alih makan siangnya. Memang benar ia tengah sakit gigi, karena itulah ia kesulitan menikmati makan siang ini.
"Makasih, Nis, gue cuci dulu ni benda." Hana kembali mendorong mangkuk yang kini hanya tersisa kuahnya saja. Nisa tak mampu berkata-kata dengan ulah sahabatnya.
Tak jauh dari mereka, cowok dingin berpenampilan asal-asalan namun begitu tampan tengah memperhatikan Radha melalui ekor matanya. Gadis cantik itu memang menjadi idaman para siswa di sekolahnya, bahkan sekelas Abian Alexander menyukainya.
Novi yang memiliki radar kuat masalah kaum goodlooking menyadari begitu cepat kehadiran Abian di sudut sana. Jelas ia tahu Abian menyukai Radha sejak kelas 11 SMA. Meski terbesit di hati Novi untuk memiliki Abian, ia tak memiliki keberanian lebih untuk melelehkan kutub utara itu.
"Dha, Abian liatin lu tu, mana cakep lagi." Novi berbisik tepat di telinga Radha.
"Ck, biarin aja, Nov." Radha tak memberi respon berlebihan akan kehadiran Abian yang secara nyata kerap mengikutinya kemana saja.
"Ays, ntu cowok lama-lama gue pelet asli." Novi menatap tajam Abian yang kini membuang muka, sungguh Novi justru merasa tertantang untuk meraihnya.
"Yakin lu bisa pelet si Sabiyan? Kayaknya gak mungkin deh. Ilmu agama dia kuat, Nov." Nisa yang tak melepaskan pandangannya dari ponsel ikut andil dalam pembicaraan mereka.
"Ya yakinlah!!" Novi meninggi seraya meletakkan sendok kuat-kuat.
"Surti, elu yang bener ya Allah." Ifi yang berada di sampingnya kini meradang lantaran Novi tak melihat dengan benar kala kembali meletakkan sendok.
"Ya Allah, Bunda, emosian amat, pan kagak sengaja." Novi membela diri, Abian mengalihkan pandangannya. Seakan dunianya bepusat pada kapten basket itu.
Tak ada jawaban dari Ifi, gadis cantik berambut coklat itu kini ikut memandang Abian yang terlihat begitu nyaman dalam kesendirian di sudut kantin. Menikmati jus jeruk seraya mendengarkan musik dengan earphone di kedua telinganya.
"Eyyyoh!! Gue balik check!!" Radha menarik sudut bibir seraya menggeleng kala Hana kembali menghampiri mereka. sengaja Radha meminta Hana duduk di depannya untuk menghalagi pandangan Abian.
_********_
"Ehem, nungguin siapa?" Lagi-lagi Radha merasa terganggu dengan kehadiran cowok yang menjadi incaran ciwi-ciwi di sekolah, kecuali Radha tentu saja.
"Jemputan," jawab Radha singkat seraya mengulas senyum singkat, meski ia tak suka bukan berarti ia tak ramah.
"Om Ardi?" tanya Abian menatap Radha dalam, berusaha mengunci manik coklat Radha yang nyatanya tak bisa.
"Iya lah, emang Papa gue siapa lagi, Bian." Radha menjawab datar, ia tahu Abian tengah berbasa-basi.
"Masih sama kayak dulu," celetuk Abian tersenyum kelu, mendapatkan hati Radha seakan hal mustahil baginya.
"Maskudnya?" tanya Radha mengernyit tak suka, apa yang dimaksud cowok bermata tajam ini, pikirnya.
"Oh iya, kaki lu masih sakit, Ra?" tanya Abian begitu lembut, bahkan ia tak pernah berucap selembut itu pada gadis lain.
"Masih, dikit," jawab Radha jujur, tak ingin munafik dan membuat Abian makin banyak bertanya.
"Gue anter ya, Om Ardi biasanya lama kan jemput." Abian paham, sejak menyukai Radha ia tak pernah pulang sebelum memastikan Radha pulang.
"Nggak perlu, gue naik ojek aja." Radha memilih menolak ajakan Abian, ia tak ingin menjadi bulan-bulanan anak IPS yang terobsesi mendapatkan Abian.
"Oh iya udah, gue tungguin ya." Abian selalu melakukan hal yang sama, memastikan Radha lebih dahulu meninggalkan sekolah darinya.
"Terserah deh," sahut Radha pasrah, pun dilarang percuma, cowok idaman satu sekolah itu akan tetap membantahnya.
Sembari menunggu ojek, Radha sesekali melirik Abian yang tak melepaskan pandangan darinya. Jujur saja, Radha merasa kurang nyaman. Sudah pasti geng Dinara dan Aini akan murka jika ia mengetahui hal ini.
"Bian, sampai kapan liatin gue?" tanya Radha menyadarkan laki-laki di depannya, ia tahu cowok manis itu menyimpan rasa padanya.
Bahkan secara nyata Abian meminta Radha menjadi kekasihnya sejak dulu, hanya saja Radha terlalu jatuh cinta pada Haidar. Kakak kelasnya sewaktu duduk di bangku SMP, keduanya menjalani hubungan kala Radha masuk SMA dan Haidar telah melanglang buana di dunia hiburan.
"Sampai lue menjadi milik gue, Azura." Abian bahkan menghilangkan jati diri sebagai cowok dingin dan irit bicara kala bersama Radha.
"Hahah, udah gue bilang jangan panggil gue Azura, Bian." Dengan tegas Radha menolak Abian memanggilnya dengan sebutan Azura, baginya hanya Haidar yang boleh memanggilnya dengan nama itu.
"Kenapa? Apa karena Haidar lu itu? Emang berapa kali kalian bertemu selama satu bulan, Ra? Sekali? Dua kali? Atau tidak sama sekali?" tanya Abian menarik sudut bibir, ia begitu kesal mendapati fakta bahwa Radha lebih memilih mencintai cowok tak jelas yang bahkan tak pernah ada untuknya.
"Ck, it's not your bussines, Bian." Radha melenggang pergi, sedikit kesulitan ia berjalan karena kakinya memang masih terasa sakit.
Radha tak mengucapkan sepatah katapun, memakai helm warna hijau itu sekenanya lantaran kesal dengan apa yang diucapkan Abian.
Dalam diamnya, Abian menatap nanar jalanan yang kini tak lagi ia temui Radha. Entah mengapa perasaannya untuk anak itu seakan tak luntur meski Radha menolaknya dengan berbagai cara.
"Secepatnya lu bakal jadi milik gue, Azura."
Abian tersenyum smirk, entah cinta atau obsesi namun ia hanya ingin Radha berada dalam pelukannya. Sesak rasanya kala seseorang yang kita cintai nyata mencintai orang lain.
Tbc
Abian Alexander
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
jadi ingat haidar apa ini haidar anaknya syakil? mamfir lah jelad
2024-09-03
0
Ilyloveme
Cerita Abian judul apa ya?
2024-07-01
0
Nanik Kusno
Lanjuuut
2024-05-12
1