"Mama." Suara Gian begitu lembut, meghampiri Jelita seraya memeluk tubuh mungil sang Mama. Baginya, Jelita adalah wanita paling berharga. Seburuk-buruknya Gian, ia akan luluh kala Jelita turun tangan.
"Kau kemana saja, Gian, kau tau betapa khawatirnya Mamamu ?" Raka dengan suara tegasnya tak segan berlaku demikian pada sang Putra. Pasalnya Gian menunda waktu cukup lama, sejak pagi ia mencoba menghubungi Gian, namun pria itu seakan hilang ditelan bumi.
"Maaf, Pa, ponselku berada di mobil selama aku terjun ke lapangan." Gian menjelaskan hal yang terjadi apa adanya, memang benar ponselnya tak berada dalam genggaman siang tadi.
Raka mempercayakan Gian mengurus perusahaan sejak beberapa minggu yang lalu. Meski ia harus debat dan perang badar terlebih dahulu akhirnya pria tampan itu mengalah. Kini, barulah Raka rasakan betapa menyebalkannya wujudnya di masa muda.
"Sudah, Mas, kebiasaan hal kecil dibesar-besarkan." Jelita selalu menjadi sosok penengah di antara kedua pria itu. Baik suami dan putranya sama-sama keras kepala, itulah yang kadang membuat Jelita tiba-tiba naik darah.
"Mama baik-baik saja?" tanya Gian mendekati malaikatnya, tak dapat dipungkiri kekhawatiran Gian begitu besar. Sejak dua tahun terakhir Jelita kerap dirawat lantaran penyakit asmanya.
"Ehem, tentu saja, Sayang. Ah iya, apa kau sudah menghubungi adikmu?" tanya Jelita menatap lekat manik sang Putra.
Sejak beberapa bulan terakhir Jelita meminta Haidar untuk pulang ke Indonesia, rindu di hatinya tak terbendung lagi. Bahkan wanita itu kerap enggan makan hanya karena memikirkan putra bungsunya.
Mengikuti jejak Randy, Haidar lebih memilih menjadi selebriti daripada pembisnis. Beberapa kali Raka meminta putranya itu untuk mengelola salah satu anak perusahaan yang ia kembangkan tetap saja ia enggan.
"Masih sama, Haidar tidak ingin pulang dalam 2 bulan ini," ujar Gian memberi penjelasan, hampir setiap hari perdebatan antara kakak dan adik itu terjadi prihal kembali ke rumah.
"Mas," panggil Jelita menatap mata Raka penuh harap, sungguh ia merindukan putranya. Bagimana tidak, di umur 15 tahun putra bungsunya telah sibuk dengan profesinya di dunia hiburan.
"Apa, Sayang?" Raka menggenggam tangan Jelita erat, ia tahu sudah pasti sang Istri akan membahas rencananya beberapa bulan lalu.
"Lakukan tindakan terakhirmu, aku tidak dapat menahan rindu lebih lama. Aku ingin putraku, aku ingin makan bersamanya, aku ingin dia berada di dekatku, Mas. Tolong ya," pinta Jelita penuh permohonan.
Raka terdiam sesaat, apa mungkin ini adalah langkah terbaik. Kemarin malam ia telah membicarakan hal ini matang-matang bersama Ardi, sahabatnya. Lagi-lagi ia menuruti jejak sang Papa, demi Jelita.
"Jika memang ini yang terbaik, maka aku akan lakukan." Raka menatap Jelita dan Gian bergantian, berharap keduanya lega dengan keputusannya.
"Apa Papa tidak salah? Haidar masih muda, laki-laki seusianya hanya akan bermain dengan cinta," ujar Gian menolak keputusan sang Papa secara halus, pria itu tak mau adiknya terpaksa menerima keinginan konyol orang tuanya.
"Tidak ada cara lain, Gian, selama ini Papa membebaskan Haidar untuk memilih jalannya. Dan sudah saatnya dia berbakti pada Papa," tegas Raka tak dapat dibantah.
Gian hanya mampu mengangguk kala Raka berlalu keluar, ia tahu betul sifat sang Papa sama halnya dengan mendiang Wijaya, sang Kakek. Meski ia begitu memikirkan masa depan Haidar yang kini tengah berada di puncak kesukseskan di dunia hiburan.
"Gian, Mama mohon kali ini bantu Mama ya." Harap Jelita takkan terealisasikan jika putra sulungnya tak ikut andil. Pengaruh Gian begitu besar untuk Haidar, hal itu karena ialah yang menentang sang Papa secara tegas kala Raka menghambat karir Haidar.
"Ehem, iya, Ma." Gian tersenyum hangat, sedikit menyesal ia berjuang agar Haidar dapat meraih mimpinya kala itu. Jika saja ia tak bersikeras mendukung karir Haidar mungkin hal semacam ini takkan terjadi.
_*******_
Sementara di belahan negara lain, pria yang kini tengah bersama beberapa rekannya tengah menikmati makan malam bersama. Mendapat julukan Sweet Baby lantaran wajah dan usianya memang masih muda membuat Haidar mudah dikenali.
"Maaf, aku permisi sebentar," ujar Haidar begitu sopan pada mereka, panggilan telepon dari sang Kakak membuatnya geram sejak tadi.
Sudah pasti hal yang dibicarakan akan sama dengan kemarin, dan jawaban Haidar hari ini akan sama. Ia tidak mungkin pulang di tengah proses syuting film yang ia jalani. Mendapat peran utama jelas Haidar berpengaruh besar di dalamnya.
"Ck, sudah kukatakan jawabanku tetap sama, Kak!!" Haidar meninggi, sengaja ia mencari tempat sepi agar dapat melampiaskan kemarahan kali ini.
"Bisakah kalian mengerti, kemaren kau memintaku pulang karena Mama sakit. Tapi, aku memang tak bisa meninggalkan tanggung jawabku saat ini, Kak." Haidar bicara seraya menahan kekesalannya, meski ia tahu tetap saja semua adalah salahnya.
"Cukup, Haidar," sahut suara tegas penuh wibawa dari balik telpon itu. Salahnya ia tak mengizinkan penelponnya bicara lebih dahulu hingga membuatnya salah mengartikan.
"Pa-pa?" tanya Haidar kaku, sungguh pria itu terlalu takut dengan sang Papa. Hingga memutuskan untuk memblokir momor ponsel orangtua-Nya adalah jalan ninja Haidar.
"Iya, ini Papa. Pulang atau produksi film yang tengah kau lakukan Papa hentikkan." Alasan Haidar memilih menghindar dari Raka adalah ini, ia tahu sang Papa memiliki sejuta kuasa yang bisa saja membuatnya hancur dalam satu jentikan jari.
"T-tapi, Pa, mana mungkin aku pulang," ujar Haidar penuh kekhawatiran, benar saja ancaman sang Papa bukan sekadar ancaman, ia tahu betul dengan hal itu.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Haidar, kau tahu bagaimana Mamamu menangis setiap malam sambil memeluk fotomu? Itu yang kau inginkan?" Kalimat Raka yang sedemikian rupa kerap membuat Haidar lemah, bahkan pria itu memilih untuk menghilang demi menghindari ucapan Raka adalah pilihan terbaiknya.
"Jangan egois, Nak, sekali ini saja," tambah Raka yang membuat Haidar memilih mengiyakan permintaan sang Papa. Setidaknya ia akan pulang selama beberapa hari demi sang Mama.
"Hem, minggu depan aku pulang, Pa." Haidar pasrah, toh memang ia telah meninggalkan Jelita cukup lama.
"Jangan mengecewakan Papa kali ini, Haidar," tegas Raka yang membuat Haidar bertanya-tanya. Entah mengapa perasaanya tak nyaman dengan kalimat ambigu sang Papa.
"Maks ...." Sambungan telepon terputus kala Haidar masih mempertanyakan ucapan Raka, benar-benar menyebalkan bahkan hingga kini sikap sang Papa masih sama.
"Haidar," panggil seseorang seraya menepuk bahunya, Haidar menoleh seraya berdecak kesal. Sudah menjadi kebiasaan Pamannya datang tiba-tiba seperti ini.
"Ays!! Mengejutkan saja," ujar Haidar seraya menatap tajam Randy yang kini berada di sampingnya.
Pria yang merupakan adik Jelita ini masih bugar dan terlihat tampan, pria satu anak yang tetap memilih aktor sebagai profesinya ini menjadi salah satu pelindung Haidar di dunia hiburan.
"Kau kenapa?" tanya Randy menatap heran wajah keponakannya yang kini di tekuk.
"Papa memintaku pulang. Huft ... ada-ada saja," keluh Haidar menghela napas kasar, sedikit bingung dengan keputusannya yang mengiyakan permintaan sang Papa.
"Pulang?" Randy memastikan, pasalnya Jelita juga memaksanya untuk pulang sesegera mungkin. Jelas hal ini menimbulkan tanya di benak Randy.
"Iya, kenapa, Om?" Haidar mengerutkan dahi, menatap heran sang Paman yang juga tampak terkejut.
"Mama cerewetmu itu juga memaksaku pulang, ironisnya dia bahkan mengancam karirku hancur jika aku menolak." Randy menggeleng, di usia yang tak lagi muda Jelita tetap sama menyebalkannya.
"Ada apa sebenarnya?" Haidar membatin menatap nanar tanpa arah, kembali lagi firasat tak nyaman hinggap di hatinya.
Tbc
HAIDAR ZHAFRAN ABRISAM
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Yus Warkop
lanjut
2024-09-02
0
@bimaraZ
kisah randy memang ada ya?kq tau tau udah jadi bapak anak satu🤗dulu naksir kinara tapi patah hati ya..
2024-07-03
0
Nanik Kusno
Randy dah punya anak.....
siapa istrinya???
2024-05-11
0