"Ah iya, maaf, Tante." Gian menetralkan napas, sesak rasanya berlari sepanjang koridor rumah sakit.
Sejak lama tak bertemu, Dewi sedikit kesulitan mengenali Gian yang kini terlihat dewasa. Pria yang dulu sempat bertemu dengannya beberapa tahun lalu semakin tampan di matanya.
"Waw, Gian kau semakin tampan," puji Dewi berbinar, putra Jelita yang dahulu selalu menjadi pusat perhatian lantaran sifat cerewetnya kini terkesan dingin.
"Tentu saja, aku tahu itu," ujar Gian bangga, sifat Raka benar-benar menurun padanya. Bahkan Jelita sampai menggelengkan kepala lantaran pria itu bahkan lebih angkuh dari suaminya.
"Hahaha benar ya, buah tak jatuh jauh dari pohonnya." Dewi menarik sudut bibir, dahulu ia cukup mengenal Raka sejak kehamilan anak kedua mereka.
"Tentu saja, ah iya apa Tante tau dimana mama di rawat?" tanya Gian sedikit bingung, sungguh hal bodoh yang menjadi kebiasaannya. Ia bahkan tak bertanya pada Raka dimana Jelita dirawat.
"Mari Tante tunjukkan." Dewi mendahului Gian, tentu saja ia mengetahui tentang hal itu.
Penampilan Gian yang begitu menawan selalu saja menjadi pusat perhatian, beberapa perempuan menatapnya penuh kekaguman. Jiwa ingin menikung di sepertiga malam bergejolak kala menatap mata tajam itu.
"Ganteng banget sumpah!! Omegot😭 Itu siapa, Han?"
"Mana gue tau, Nov, kita ajak kenalan aja kali ye." Hana, gadis cantik berambut ikal itu menarik sudut bibir, remaja SMA yang kini melupakan tujuan awal mereka ke rumah sakit.
"Hayuklah," ucap Novi berbinar, tak peduli dengan pandangan kanan kini yang menilai mereka kurang waras.
"Eits!! Mau kemana elu pada?" Ifi menarik kedua pergelangan tangan jelmaan ulat bulu itu.
"Paan sih, Fi, ganggu aja deh." Susah payah Hana meminta Novi melepaskan genggaman tangannya.
"Tau si Ifi, kebiasaan gak bisa liat orang seneng." Novi mencebik, niat hati mencuci mata malah emosi jiwa dengan gagalnya rencana oleh pemilik mata sipit itu.
"Eh botol kecap, kita kemari mau apa?" tanya Ifi menyilangkan tangannya.
"Iya-ya, kita kemari mau ngapain, Fi?" Hana justru bertanya pada Novi yang kini masih saja melihat ke belakang, berharap pria tampan yang dia incar masih ada.
"Hadeuh, udah buruan Radha sendirian." Ifi memilih berlalu lebih dulu, ketiganya segera ke rumah sakit kala sahabatnya itu meminta segera datang.
"Ah iya lupa gue, elu sih." Novi menjadikan Hana sebagai kambing hitam dalam kejadian ini, tak sadar dialah sumber dari terhambatnya tujuan mereka.
"Nyalahin orang, dasar kuyang." Hana mencebik, sudah menjadi kebiasaan kedua makhluk ini selalu berseteru. Dan tentu saja Ifi yang memiliki jiwa kebundaan selalu menjadi penengah.
"Kuyang paan?" tanya Novi kemudian, ia sempat mendengar istilah itu hanya saja ia lupa.
"Kuda melayang kali," jawab Ifi sekenanya, menghadapi duo ulat bulu ini takkan habisnya.
"Masa iya?" tanya Novi menatap Hana serius, sungguh sudah 3 minggu ia mencari arti makhluk itu.
"Iyain aja biar kelar. Ck, udah buruan!!" Nyatanya Ifi bukan Bunda yang memiliki kesabaran besar, ia akan mengeluarkan taring jika tensinya mulai naik.
"Kebiasaan, ngeggas mulu." Novi memajukan bibirnya beberapa centi, ingin sekali ia mendaratkan telapak tangan di lengan mulus Ifi.
_******_
"Assalamualaikum ya ahli kubur," sapa Hana kala membuka pintu ruang rawat Radha. Sudah menjadi kebiasaan gadis cantik itu selalu bercanda dengan hidupnya.
"Waalaikumussalam," jawab Radha apa adanya, jika saja ia dalam suasana hati yang baik tentulah ia akan menghabisi gadis kurang sesendok itu.
"Eh tumben gak marah?" tanya Hana seraya menghampiri Radha, memeriksa keadaan sahabatnya yang jika ia simpulkan tampak baik-baik saja.
"Gue nggak mood, Han," balas Radha singkat, lain halnya dengan Hana kini Novi sibuk dengan ponsel canggihnya.
"Radha, sakit lu gini doang? Gue kira parah." Hana menekan lutut Radha yang tebalut perban.
"Hadoooh!! Sakit gila!!" Radha meringis, bukan main sakitnya lantaran Hana menekan lukanya cukup kuat.
"Yaya Maap, surry, Sayang gue gak tau." Begitu besar sesal di hati Hana menyadari kini sahabatnya hampir menangis.
"Lagian elu sih, ngadi-ngadi amat jadi orang." Ifi, sang Bunda menenangkan Radha dengan mengusap puncak kepalanya pelan.
"Radha liat sini bentar," ujar Novi mengambil posisi untuk mendapatkan hasil foto terbaiknya.
"Lebay lu, Nov." Radha terkekeh, sahabatnya memang benar-benar ajaib. Sudah berapa banyak postingan Novi yang bersamanya kala di rumah sakit, seakan membagikan kenangan kala di rawat adalah hobi baginya.
"Yee pan lu sakit gak tiap hari," celetuk Novi sekenanya yang membuatnya mendapat jitakan dari Ifi.
PLETAK
"Bunda mah jahara ma gue awas aja," ujar Novi seraya menggosok keningnya beberapa kali, sakit memang, Ifi tak pernah segan dalam menyakiti sahabatnya.
"Eh, Radha lu harus tau ini," ujar Hana membuka pembicaraan lebih serius, seakan ini adalah hal penting dan mendesak.
"Apa? Jangan bilang mau bahas kak Haidar lagi, gue gak mood." Radha paling tak suka dengan gosip yang kerap Hana bawakan, selalu saja tentang kekasihnya yang kini berada di luar negeri. Simpang siur pemberitaan yang menimpa aktor tampan itu membuat Radha tak nyaman.
"Ye bukan itu, ini lebih berbobot daripada Kak Haidar."
"Ya udah apa?!!" Radha meninggi, benar saja ia terpancing emosi dengan gosip yang bahkan belum Hana bawakan.
"Gue tadi liat cogan, buset!! Gak kalah sama kak Haidar yang gak pernah ada buat lu itu." Penjelasan Hana cukup menusuk hati Radha, entah mengapa ucapan Hana benar adanya.
"Bener tuh, Dha. Ya Allah matanya ngajak berumah tangga," timpal Novi yang memang sejak tadi belum mampu melupakan pria tampan yang ia lihat tadi.
"Dih dapet darimana tu istilah?" tanya Ifi menatap heran Novi yang semakin terlihat bak ulat bulu.
"Dari tik-tak lah, Bunda." Novi menjawab seadanya seraya kembali fokus pada ponselnya.
Dalam diamnya, sejuta pikiran buruk terbenam di benak Radha, apa mungkin cintanya akan sia-sia untuk Haidar. Meski ia masih remaja, Radha bahkan lebih dewasa dibanding teman-temannya, terutama perihal perasaan.
"Nisa mana?" tanya Radha mengalihkan pembicaraan, tak ingin berlama-lama dengan perasaan galaunya.
"Katanya capek, biasa abis gulat sama Abangnya." Hana menjawab asal seraya meraih ponsel Novi secara paksa.
Novi membeliak, betapa tidak rahasia besar yang berada di ponselnya bisa terbongkar jika Hana sudah mengetahuinya.
"Hee ketauan elu Nov, elu chat-an ma Rio kan? Gue aduin ma Nisa, liat aja." Hana tersenyum smirk, sungguh ia puas mendapati wajah pias Novi.
"Eh jangan dong, pan itu cuma nanya resep seblak doang." Jelas saja Novi akan mencari pembelaan, baginya tidak ada yang salah berhubungan dengan banyak pria.
"Nanya resep? Heh terus fungsi kita apa?!" gertak Hana tak habis pikir dengan apa yang ada di otak Novi.
Perdebatan antara dua remaja itu cukup membuat Radha pusing, ia memilih keluar dengan bantuan kursi roda yang disiapkan Dewi tadi. Ia butuh udara malam ini, setidaknya air matanya dapat ia keluarkan tanpa di saksikan teman-temannya.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-01-01
0
Nanik Kusno
Lanjuuut
2024-05-11
0
Yus Warkop
baca ulang sambil nunggu chapter zsin
2024-01-31
0