“Kerajaan yang Mulai Retak”
Hujan belum berhenti sejak rapat kerajaan kemarin.
Langit Estharion dipenuhi awan hitam pekat seolah pertanda buruk sedang mendekat.
Dan di seluruh ibu kota—
Nama Liana Valerian mulai menjadi bisikan yang menakutkan.
“Penyihir Mawar Merah…”
“Katanya dia hampir menghancurkan aula kerajaan.”
“Aku dengar matanya berubah merah darah…”
“Monster…”
Namun di sisi lain—
Sebagian rakyat justru mulai memujanya.
“Kalau bukan karena Lady Liana, kita sudah mati diserang monster.”
“Para bangsawan cuma takut kehilangan kekuasaan.”
“Dia pahlawan…”
Kerajaan perlahan terbelah menjadi dua kubu.
Yang takut pada Liana.
Dan yang mulai mempercayainya.
---
Sementara itu, di dalam kamar mansion Valerian—
Liana duduk diam di depan cermin.
Pantulan wajahnya terlihat asing.
Matanya masih sama.
Rambut hitam panjangnya masih sama.
Namun ekspresinya…
Kosong.
Perlahan ia menyentuh dadanya sendiri.
“Aneh…”
Ia seharusnya senang.
Semua musuhnya perlahan hancur.
Serena jatuh.
Para bangsawan mulai ketakutan.
Bahkan kerajaan mulai goyah.
Bukankah itu yang ia inginkan?
Lalu kenapa…
Ia tetap merasa hampa?
---
Tok.
Tok.
“Nona Liana?”
Suara pelayan membuatnya menoleh.
“Ada apa?”
“Saint Azrael dari Katedral Suci datang menemui Anda.”
Liana sedikit mengernyit.
Saint Azrael.
Nama itu sangat terkenal di kerajaan.
Pemimpin suci termuda sepanjang sejarah.
Pria yang disebut-sebut sebagai “anak kesayangan dewa.”
Dan di kehidupan sebelumnya—
Azrael adalah salah satu orang yang mendukung eksekusinya.
Liana perlahan tersenyum dingin.
“Suruh dia masuk.”
---
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria berambut perak masuk dengan jubah putih panjang.
Mata emasnya terasa tajam namun tenang.
Seluruh ruangan terasa berbeda saat ia masuk.
Aura sucinya sangat kuat.
Namun anehnya—
Liana tidak menyukainya.
Karena aura itu terasa seperti musuh alami Blood Magic miliknya.
Azrael menatapnya cukup lama.
“Lady Liana Valerian.”
“Saint Azrael.”
Mereka saling menatap tanpa berkedip.
Suasana langsung terasa menekan.
Pelayan-pelayan bahkan buru-buru keluar karena tak tahan dengan tekanan mana di ruangan itu.
Azrael tersenyum tipis.
“Aku datang bukan sebagai musuh.”
“Lucu.”
Liana menyilangkan kaki dengan santai.
“Biasanya orang yang berkata begitu justru paling berbahaya.”
Azrael tidak membantah.
Karena jauh di dalam dirinya…
Ia memang merasakan sesuatu yang aneh dari Liana.
Kegelapan.
Sangat pekat.
Namun di balik kegelapan itu…
Ada rasa sakit yang luar biasa besar.
---
“Apa tujuanmu datang?” tanya Liana.
Azrael berjalan mendekati rak buku.
“Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
Tatapan emasnya perlahan menatap Liana.
“Apakah kau benar-benar monster.”
Ruangan langsung sunyi.
Namun bukannya marah—
Liana malah tertawa kecil.
“Dan kesimpulanmu?”
Azrael terdiam beberapa detik.
“Entahlah.”
Ia jujur.
“Itu sebabnya aku datang.”
Liana sedikit terkejut.
Biasanya orang langsung menghakiminya.
Namun pria ini justru mencoba memahami.
Aneh.
Sangat aneh.
Azrael kembali bicara pelan.
“Ramalan tentang Putri Bermata Merah belum tentu benar.”
Kalimat itu membuat mata Liana sedikit membesar.
Karena selama ini—
Tak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
---
“Kenapa kau berkata begitu?” tanya Liana pelan.
Azrael menatap hujan di luar jendela.
“Karena ramalan sering dimanipulasi manusia.”
“…”
“Dan orang-orang lebih suka menciptakan monster daripada mengakui kesalahan mereka sendiri.”
Untuk sesaat—
Liana kehilangan kata-kata.
Dadanya terasa aneh.
Sudah lama…
Sangat lama…
Tak ada yang mencoba membelanya.
Namun sebelum ia sempat bicara—
BRRAAKK!!
Pintu mansion tiba-tiba terbuka keras.
Seorang ksatria masuk dengan napas panik.
“Lady Liana!”
“Ada apa?”
“Perbatasan utara diserang lagi!”
Wajah ksatria itu pucat.
“Dan kali ini… jumlah monster-nya jauh lebih banyak.”
---
Malam itu juga seluruh kerajaan gempar.
Pasukan monster menyerang desa-desa utara tanpa henti.
Api memenuhi langit.
Jeritan terdengar di mana-mana.
Para ksatria kerajaan kewalahan.
Dan lebih parah lagi—
Di tengah kekacauan itu muncul rumor baru.
“Monster-monster itu muncul karena kutukan Penyihir Mawar Merah!”
“Liana membawa kehancuran!”
“Kita harus membunuhnya sebelum semuanya terlambat!”
Kerajaan mulai kacau.
Sementara para bangsawan memanfaatkan ketakutan rakyat demi menjatuhkan Liana.
---
Di ruang perang istana—
Suasana tegang terasa begitu berat.
Raja berdiri di depan peta kerajaan dengan wajah suram.
“Jumlah korban terus bertambah.”
“Pasukan kita tidak cukup.”
“Monster kali ini berbeda…”
Para jenderal mulai panik.
Sampai akhirnya—
Seseorang berkata pelan.
“Kalau Lady Liana turun tangan…”
Ruangan langsung hening.
Semua orang tahu.
Liana mungkin satu-satunya yang mampu menghentikan serangan ini.
Namun mereka juga takut padanya.
Sangat takut.
Dan di tengah kebisuan itu—
Tok.
Tok.
Pintu ruang perang terbuka.
Liana masuk perlahan.
Gaun hitamnya bergoyang lembut.
Tatapan merahnya langsung membuat beberapa bangsawan menelan ludah gugup.
“Aku dengar kalian membutuhkan bantuanku.”
Tak ada yang berani menjawab.
Liana tersenyum tipis.
“Menarik.”
“Ketika butuh kekuatanku, kalian memanggilku.”
“Tapi saat takut padaku, kalian ingin membunuhku.”
Tatapan dinginnya menyapu seluruh ruangan.
“Kalian benar-benar menjijikkan.”
---
Raja mengepalkan tangan.
“Liana…”
“Aku akan pergi ke utara.”
Semua langsung terkejut.
“Tapi ada syarat.”
“Apa itu?”
Liana tersenyum kecil.
“Kalau aku berhasil menyelamatkan kerajaan lagi…”
Matanya menyipit dingin.
“Tak seorang pun boleh menyentuhku lagi.”
Ruangan kembali sunyi.
Karena mereka tahu—
Mereka tidak punya pilihan selain menerima.
---
Malam keberangkatan tiba.
Ribuan pasukan berkumpul di gerbang utara kerajaan.
Salju turun perlahan.
Udara sangat dingin.
Di tengah pasukan—
Liana berdiri sendirian.
Para ksatria menjaga jarak darinya.
Takut.
Namun juga kagum.
Tiba-tiba seseorang mendekat.
Ciel.
Pria itu memakai armor hitam kerajaan.
“Aku ikut.”
Liana menatapnya datar.
“Aku tidak membutuhkanmu.”
“Aku tahu.”
Ciel tersenyum pahit.
“Tapi kali ini… izinkan aku bertarung di sisimu.”
Liana hampir menolak.
Namun akhirnya ia hanya mendecakkan lidah pelan.
“Terserah.”
Meski begitu—
Jawaban itu saja sudah cukup membuat hati Ciel terasa sedikit lebih ringan.
---
Perjalanan menuju utara berlangsung dua hari.
Dan semakin dekat mereka ke wilayah perang—
Semakin mengerikan pemandangannya.
Desa-desa hancur.
Darah di mana-mana.
Mayat monster dan manusia bercampur di salju.
Bahkan udara dipenuhi bau kematian.
Para ksatria mulai pucat.
Namun ekspresi Liana tetap tenang.
Terlalu tenang.
Seolah pemandangan seperti ini bukan apa-apa baginya.
Ciel diam-diam memperhatikannya.
Dan semakin ia melihat Liana sekarang…
Semakin besar rasa bersalah yang menghancurkan dirinya.
---
Malam itu pasukan berhenti di dekat hutan beku.
Api unggun menyala pelan.
Para ksatria beristirahat.
Namun Liana berdiri sendirian di tepi tebing.
Angin dingin membuat rambut hitamnya berkibar.
“Tidak tidur?”
Suara Raven terdengar dari belakang.
Liana tidak menoleh.
“Kau mengikuti kami?”
“Aku hanya penasaran.”
Pria bertopeng itu berdiri di sampingnya.
Tatapan matanya menuju langit malam.
“Monster kali ini bukan alami.”
Liana langsung menyadarinya juga.
“Ada seseorang yang mengendalikannya.”
Raven tersenyum tipis.
“Dan kurasa kau tahu siapa target sebenarnya.”
Liana terdiam.
Tentu saja ia tahu.
Monster-monster ini…
Datang untuk dirinya.
---
Tiba-tiba—
DOOOOMMMM!!!
Ledakan besar mengguncang hutan.
Jeritan pasukan terdengar.
Monster menyerang dari segala arah.
Jumlah mereka ribuan.
Mata merah menyala di tengah gelap malam.
“SERANGAN MUSUH!!”
Para ksatria langsung panik.
Namun monster kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka membantai pasukan tanpa ampun.
Darah memenuhi salju putih.
Dan di tengah kekacauan itu—
Seorang monster raksasa muncul dari hutan.
Tubuhnya dipenuhi mata hitam.
Aura gelapnya membuat tanah bergetar.
Para ksatria langsung putus asa.
“Itu monster tingkat bencana…”
“Kita tamat…”
Monster itu meraung keras—
Dan langsung menyerbu ke arah Liana.
---
BOOOOMMMM!!!
Tanah hancur saat serangan monster menghantam.
Namun—
Liana masih berdiri diam.
Satu tangan terangkat.
Dan energi merah gelap menahan cakar monster raksasa itu.
Mata Liana bersinar terang.
Aura mengerikan meledak ke seluruh medan perang.
Para monster langsung berhenti bergerak.
Takut.
Untuk pertama kalinya—
Monster-monster itu terlihat ketakutan pada manusia.
Liana perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapan matanya benar-benar bukan manusia lagi.
“Berani sekali…”
Bisikan roh terdengar semakin keras.
“Hancurkan…”
“Bunuh…”
“Lenyapkan semuanya…”
Dan kali ini—
Liana tidak menghentikan mereka.
BRRUUUAAAAKKKKK!!!!
Ledakan Blood Magic memenuhi langit malam.
Seluruh salju berubah merah.
Monster-monster hancur satu demi satu.
Tubuh mereka meledak menjadi abu.
Para ksatria bahkan tak bisa mendekat karena tekanan mana yang terlalu besar.
Namun—
Ciel menyadari sesuatu.
Liana menangis.
Di tengah kehancuran itu…
Air mata jatuh dari mata merahnya.
Seolah sebagian dirinya sedang hancur bersama sihir itu.
---
Monster raksasa akhirnya berlutut.
Tubuhnya mulai retak.
Namun sebelum mati—
Monster itu berbicara dengan suara menyeramkan.
“Putri… merah…”
Semua orang membeku.
Monster itu tertawa mengerikan.
“Raja… akan… membunuhmu…”
Mata Liana membesar.
Dan dalam sekejap—
BRAKK!!
Monster itu meledak sebelum sempat bicara lebih lanjut.
Sunyi.
Hanya suara angin dingin yang tersisa.
Namun ucapan monster tadi terus terngiang di kepala Liana.
Raja akan membunuhmu.
Kenapa…
Kenapa monster itu tahu?
---
Malam itu kemenangan diraih.
Namun tak ada yang merasa lega.
Karena semua orang melihat sendiri kekuatan Liana.
Kekuatan yang terlalu menakutkan.
Dan jauh di dalam istana kerajaan—
Seseorang tersenyum di balik kegelapan.
“Menarik…”
Pria berjubah hitam duduk di singgasana gelap.
Matanya merah menyala.
“Akhirnya kekuatan itu bangkit.”
Di bawahnya, para monster berlutut hormat.
Pria itu tersenyum perlahan.
“Selamat datang kembali…”
“Putri kehancuran.”