Tahun 1641, musim dingin membuat kota itu terlihat seperti kuburan yang terlalu besar. Kabut turun setiap pagi dan menggantung di jalan-jalan batu yang sempit. Orang-orang berjalan cepat sambil menunduk, bukan karena dingin, tetapi karena manusia memiliki kebiasaan yang aneh: jika penderitaan orang lain tidak dilihat, maka hati terasa lebih ringan.
Aldric bekerja sebagai pencatat kematian. Pekerjaan yang aneh untuk orang yang masih muda. Tugasnya menulis nama orang yang mati setiap hari, umur mereka, penyebab kematian, lalu menyimpan semuanya ke dalam arsip kota. Awalnya pekerjaan itu membuatnya sedih. Setelah beberapa tahun, ia berhenti merasakan apa pun.
Karena jumlahnya terlalu banyak.
Seorang anak berumur lima tahun mati karena kelaparan. Seorang wanita mati karena demam. Seorang pria mati dipukuli karena mencuri roti. Berikutnya, seorang bangsawan meninggal dengan catatan: gagal bernapas setelah makan terlalu banyak.
Aldric sering menatap catatan itu lama.
Dunia benar-benar bajingan, pikirnya.
Orang-orang selalu berkata bahwa ada keadilan, bahwa semua penderitaan memiliki tujuan, bahwa ada mata yang mengawasi dari atas sana. Tetapi semakin banyak nama yang ia tulis, semakin terdengar semua itu seperti dongeng untuk menenangkan orang-orang yang ketakutan.
Karena kenyataannya tampak lebih buruk.
Orang baik mati sambil memohon. Orang kejam tidur di kasur hangat. Pengemis membeku di luar rumah orang kaya. Penipu dipuji. Pembohong dihormati.
Dan langit tetap diam.
Suatu malam saat sedang merapikan arsip tua, Aldric menemukan sebuah buku hitam terselip di belakang rak kayu. Buku itu tidak memiliki judul. Tidak ada nama penulis. Sampulnya dipenuhi noda hitam seperti bekas terbakar.
Saat membukanya, tubuhnya membeku.
Isinya adalah daftar kematian.
Sama persis seperti pekerjaannya.
Nama.
Umur.
Penyebab kematian.
Namun ada sesuatu yang salah.
Tanggal pada halaman itu adalah tanggal esok hari.
Aldric mengernyit.
Ia membaca satu nama.
Laki-laki, empat puluh tahun. Jatuh dari kuda.
Ia tertawa pelan.
Kebetulan bodoh.
Tetapi besok paginya seorang pria benar-benar mati karena jatuh dari kuda.
Wajah Aldric berubah.
Ia membuka halaman berikutnya.
Perempuan, tiga puluh dua tahun. Demam.
Hari berikutnya terjadi.
Lalu halaman berikutnya.
Terjadi lagi.
Hari demi hari.
Semuanya benar.
Mulai saat itu Aldric berhenti tidur dengan tenang. Setiap malam ia membaca buku itu dan setiap pagi ia menyaksikan isinya menjadi nyata.
Sampai suatu malam tangannya berhenti pada halaman terakhir.
Jantungnya berdetak pelan.
Di sana tertulis:
"Aldric, 29 tahun."
Tangannya mulai gemetar.
Di bawahnya:
"Penyebab kematian: bunuh diri."
Adrian berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.
"Tidak."
Ia menggeleng.
"Tidak."
Ia tertawa gugup.
Ia melempar buku itu ke lantai.
"Mengarang omong kosong."
Keesokan harinya ia mengunci semua pisau. Menutup jendela. Menjauh dari tali. Menjauh dari sungai.
Seharian.
Lalu sehari lagi.
Dan sehari lagi.
Tidak terjadi apa-apa.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Perlahan Aldric mulai tertawa pada dirinya sendiri.
Betapa bodohnya ia ketakutan pada buku tua.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia tidur dengan tenang.
Keesokan paginya orang-orang menemukan Aldric mati di tempat tidurnya.
Bukan bunuh diri.
Jantungnya berhenti saat tidur.
Saat petugas merapikan barang-barangnya, mereka menemukan buku hitam itu.
Dan pada halaman terakhir ternyata ada kalimat kecil yang sebelumnya tidak pernah ada
"Manusia selalu berpikir dirinya takut pada kematian."
"Padahal yang paling mereka takuti..."
"adalah mengetahui bahwa tidak ada siapa pun yang menulis akhir cerita mereka."