Langit cerah berganti langit gelap—dalam situasi yang semakin mencengkam memenuhi jalan raya Bandung, rintikan hujan semakin besar mulai membasahi jalan raya. Di bawah gelapnya langit, suara jeritan dan teriakan tetap berpadu satu dalam kekacauan, tak peduli dengan situasi sekitarnya.
Mereka tetap menerjang keributan dengan melayangkan balok kayu masing-masing, di mana sebagian balok kayu berbenturan dengan daging manusia hingga meninggalkan bekas luka. Ada juga yang berbenturan dengan aspal, bahkan para remaja tersebut sampai melempar batu hingga merusak motor dan mobil yang tengah terparkir.
Hal tersebut semakin membuat jengkel para warga sekitar, tawuran yang diciptakan para remaja SMA tersebut sangat merugikan. Para warga sampai berteriak, berusaha menghentikan keributan tersebut tetap tak dipedulikan.
Pada akhirnya, sebagian warga yang berada di tempat kejadian mendapatkan imbasnya, seperti tak sengaja menerima lemparan batu dan balok kayu hingga berlumuran darah. Kekacauan tersebut tidak bisa didiamkan lebih lama, warga yang berada di tempat pun segera menghubungi pihak kepolisian untuk menindak lanjutkan kekacauan tersebut.
Setengah jam kemudian, suara sirene polisi menerjang puluhan remaja SMA tersebut. Mereka semua berhamburan, sebagian berhasil menghindar, sebagian lagi berhasil dibawa oleh polisi untuk diinterogasi lebih dalam. Sepuluh remaja berada di kantor polisi, secara bergantian diinterogasi.
Setelah diinterogasi, mereka semua dijemput oleh orang tuanya masing-masing. Mungkin, sebagian remaja tersebut mendapatkan kemarahan dan kekecewaan orang tuanya masing-masing—atas perilaku yang sangat melanggar norma tersebut.
Sepertinya, tidak semua remaja SMA tersebut pulang dengan orang tuanya, ada salah satu remaja yang dijemput paman dan bibinya. Sebab, ibunya masih berada di rumah sakit, sangat berharap sekali, ibunya tidak mengetahui kejadian ini semua. Bahkan remaja tersebut membujuk paman dan bibinya untuk merahasiakan ini semua dan memakluminya.
Wanita paruh baya dengan sebutan Ira menatap keponakannya dengan khawatir lalu mengusap bahunya dengan pelan. Sentuhan itu membuat remaja berumur enam belas tahun tersebut mendesis kesakitan. Refleks tangan Ira menyingkir dari bahu keponakannya.
“Kenapa? Bahu kamu kenapa, Cak? Kamu ini, suka sekali membuat bibi khawatir. Bukannya belajar dengan baik malah tawuran.”
“Sudah, jangan diomeli terus keponakanmu. Lebih baik segera bawa pulang untuk diobati.” Pria paruh baya dengan panggilan Andri menegur istrinya dengan pelan. Dia pun merangkul Cakra dengan penuh tenaga. “Tidak apa-apa Boy, laki-laki suka tawuran wajar. Bibi kamu mana paham dengan hal ini.”
Ira menarik telinga Andri dengan kuat. “Apa katamu? Kupotong telingamu baru tahu rasa nanti. Makin berumur, bukannya memberikan contoh yang baik malah mengajarkan yang tidak-tidak.”
Cakra menghela napas, melengos begitu saja. Dia tidak memedulikan keributan tersebut dan tidak ingin menunggu paman dan bibinya selesai bertengkar, lebih memilih langsung memasuki mobil. Tubuhnya terlalu lelah, ia ingin segera membaringkan tubuhnya dengan tenang dan nyaman.
•••
Pria yang sudah memiliki rambut beruban di antara helaian rambut hitamnya, sedikit membenarkan kaca mata beningnya. Kedua matanya menatap tajam empat murid laki-lakinya, di mana keempat muridnya juga menatapnya tanpa segan. Suara gebrakan yang dilakukan pria yang menjadi wali kelas 11 IPS itu berhasil membuat muridnya terkejut, jangankan murid, guru-guru lain yang berada di kantor pun juga sampai terlonjak kaget.
“Pak Guntur! Astaghfirullah, marah-marah silakan, tapi jangan membuat kami terkejut.” Teguran ini berasal dari bu Risa—guru Matematika. Raut wajahnya terlihat sangat kesal sekali.
Saat itu juga, pak Guntur tersenyum tidak enak kepada bu Risa. “Maaf, Bu, refleks.”
Lemparan bolpoin dari arah belakang mengenai kepala pak Guntur. “Mengganggu orang yang lagi mengoreksi tugas tahu tidak. Murid-murid kamu, tapi membuat repot semua guru,” cibir Tito sebagai guru sejarah. Sangat kuat sekali, mulut ngerumpi emak-emaknya.
Pak Guntur pun membalas melempar bolpoin kepada pak Tito yang berumur lebih muda darinya, bahkan berbeda sepuluh tahun. “Rata-rata anak gen z, apa seperti kamu semua? Orang tua dibuat mainan. Saya celupin ke sumur tahu rasa nanti.”
Perdebatan mereka membuat murid-muridnya cekikikan, berusaha menahan tawa pun tidak bisa. Perilaku guru-gurunya yang anomali, sangat sayang jika tidak ditertawakan, benar-benar hilang sudah wibawa gurunya. Jadi seperti melihat perdebatan bocah yang rebutan mainan.
Bu Risa menyerongkan duduknya, mengarahkan pada tempat pak Tito. “Bapak-bapak, sudah bertengkarnya. Kalian ini pendidik, malam bertingkah kekanak-kanakan di depan murid kalian sendiri. Apa tidak malu?” Secara bergantian mata Risa mengarah pada pak Guntur dan pak Tito.
Bu Risa memfokusnya tatapannya pada pak Guntur. “Sudah Pak, lanjutkan urusannya dengan murid-murid tersayang, Bapak.”
Pak Guntur membalas dengan senyuman pada bu Risa lalu meluruskan tatapan dan tubuhnya menghadap keempat muridnya.
Sedetik, senyum itu menjadi datar. “Kalian lagi. Kalian ngapain bertengkar lagi? Sehari saja membuat hidup saya tenang, apa tidak bisa? Kemarin sudah membuat kerusuhan dengan SMA lain, sekarang malah bertengkar dengan teman satu kelas. Lama-lama kepala Bapak bisa pecah menghadapi kelakuan kalian berempat.”
“Kalau pecah, ditambal saja, Pak,” balas Rangga dengan entengnya. Wajahnya pun terlihat datar sekali, saat mengeluarkan kalimat tersebut.
Pak Guntur pun langsung menarik mulut Rangga. “Jawab terus!”
Rijal menaikkan tangan kanannya. “Anu, Pak.”
Pak Guntur berganti mengarahkan pandangannya pada Rijal. “Anu apa?”
“Cakra dulu yang memulai.” Rijal menunjuk laki-laki di sebelahnya sampai membuat laki-laki tersebut memukul kepalanya dengan cukup kencang. “Tuh kan, Pak, ini buktinya. Pukulan kan harus dibalas dengan pukulan.”
“Iya benar. Eh! Ya tidak boleh.” Hampir saja pak Guntur salah bicara, tetapi memang dari lubuk hatinya. Dia menyetujui apa yang dikatakan Rijal barusan.
“Jangan menuduhku.” Cakra menatap tajam teman sekelasnya tersebut lalu menghadap pak Guntur kembali. “Dia bohong, Pak. Saat istirahat, Rijal duluan yang menggangguku lagi tidur. Siapa yang tidak marah, jika saat tidur dilempar bola?”
“Benar begitu, Rijal?” tanya pak Guntur lagi. Dia tidak ingin memihak ke siapa-siapa, membiarkan mereka mengakui kesalahannya masing-masing.
“Aku tidak sengaja, Cak, bukan sengaja.” Rijal berusaha membela diri juga.
“Saya saksinya Pak Petir, kalau Rijal tidak salah.” Bintang langsung menyambar.
“Siapa pak Petir?” tanya pak Guntur dibuat bingung dengan panggilan itu.
Bintang pun tersenyum canggung. “Pak guntur maksudnya.”
“Jujur saja, saya sudah hampir gila menghadapi makhluk astral seperti kalian. Sebenarnya, kalian berempat ini ingin menjadi apa sih setelah dewasa?” Pak Guntur memejamkan mata sembari memijat pelipisnya.
“Saya ingin menjadi seniman, Pak,” jawab Rangga dengan semangat.
“Saya ingin menjadi penulis, Pak,” jawab Bintang tak kalah semangat.
“Saya ingin menjadi profesor, Pak,” jawab Rijal tersenyum.
“Saya ingin menjadi koruptor, Pak.”
Seketika kedua mata pak Guntur membuka, bahkan guru-guru yang berada di kantor ikutan terkejut sampai memperhatikan Cakra semua.
“Bercanda, Pak, saya ingin menjadi Ilmuwan.” Cakra langsung memberikan klarifikasi, wajahnya tidak menunjukkan merasa bersalah sama sekali.
Seketika semua guru menghela napas lega dan kembali ke aktivitasnya masing-masing.
“Kamu ini ya, Cak, ada saja. Jangan membuat candaan seperti itu lagi, koruptor sudah banyak di sini. Jangan menjadi personil baru lagi. Kalau bisa, menjadi ilmuwan yang bisa menciptakan cairan pembasmi tikus sampai lenyap tanpa meninggalkan bangkainya.”
“Bisa dibicarakan,” balas Cakra tersenyum, begitu pun teman-temannya.
“Ya semoga kalian berempat setelah dewasa tidak mengecewakan dan bisa menjadi pemuda emas. Ya sudah, lebih baik kalian berepat baikan. Kepala Bapak, tiba-tiba sakit sekali.” Dari nada bicara pak Guntur, terdengar sudah sangat kelelahan sekali.
•••
Aroma buku lama terasa khas menusuk hidung, ada banyak macam buku lama terpampang di toko ini. Jemarinya memilah beberapa buku yang ada di toko ini, semuanya berhasil menarik perhatian Cakra. Sebenarnya, dia sering kali mampir ke toko ini, bahkan sudah menjadi langganan sampai akrab dengan pemilik tokonya. Akan tetapi, setiap masuk ke tempat ini selalu membuat rasa kagumnya tak berhenti, walaupun tempatnya terlihat sederhana.
“Eh Ujang, mau beli novel lagi, ya?” tanya pria tua dengan senyuman ramahnya. Dia adalah aki Damar, pemilik toko buku lama ini.
Cakra membalas senyuman itu. “Tidak Aki, saya ingin mencari buku lain, bukan novel.” Laki-laki ini sering kali berlangganan di sini untuk membeli novel, tetapi sekarang dia sedang tertarik dengan buku lain.
Cakra lebih mendekatkan diri dengan Aki Damar lalu duduk di dekatnya, seperti terlihat akrab mereka berdua. “Apakah Aki mendengar beberapa hal aneh di nagara kita? Setiap bangun tidur, selalu menghadapi beberapa kabar tidak enak tentang negara ini.”
Aki Damar terkekeh lalu berdiri menuju tumpukkan buku politik. Cakra pun mengikuti pria tua itu dari belakang.
“Kenapa Aki, tertawa?” tanya Cakra dengan polos.
“Bukan beberapa lagi, Jang, bahkan banyak.” Aki Damar meraih buku berwarna merah lalu menyerahkan kepada remaja SMA di depannya. “Kamu lagi cari buku yang seperti ini ya?”
Cakra pun menerimanya. “Terima kasih, Aki. Benar, saya sedang mencari buku seperti ini.” Remaja ini terdiam sejenak. “Apa bisa negara ini memenuhi janji menuju Indonesia emas? Sedangkan kondisinya sekarang⸺banyak kekacauan di mana-mana, bahkan koruptor masih bebas berkeliaran di jalan. Belum lagi, rakyatnya minim literasi, mudah diadu domba, mudah terprovokator, dan tak jarang bertindak anarkis. Aku rasa seperti mimpi dalam gelas bocor, tak akan pernah penuh.” Cakra menghela napas panjang. Dia sudah lelah menghadapi negaranya sendiri, rasanya ingin bermimpi lebih lama lagi.
Keluhan Cakra membuat Aki Darma tertawa pelan. “Apa yang kamu katakan benar semua, Jang. Tetapi bukan berarti membut kita menyerah begitu saja kan? Ada alternatif yang bisa dilakukan rakyatnya, walaupun harus menghadapi algojo-algojo yang rakus dan licik di luar sana,” ujarnya senyum. Kedua matanya semakin dalam menatap remaja SMA di depannya. “Tapi, selama masih ada rakyat yang bisa diajak untuk bersatu dan bekerja sama, berhasil membuat damai antar sesama, mimpi itu tidak akan hilang begitu saja. Bahkan, gelas yang bocor pun bisa menampung mimpi itu, jika kita mengetahui caranya.”
•••
Cakra melemparkan tubuh lelahnya di atas kasur tanpa melepas seragamnya terlebih dahulu. Padahal bibi Ira sudah mewanti-wantinya untuk mengganti seragamnya dahulu, tetapi Cakra tak memedulikan semuanya. Dia sudah terlanjur mengantuk, ingin segera memejamkan mata dan bermimpi indah, karena dunia nyata terlalu kacau untuk dinikmati.
“Cakraaa!”
Baru juga Cakra memejamkan mata sejenak, suara teriakan bibi Ira membuat kedua matanya membuka cepat. Dia pun bangun dari tidurnya, tetapi penampakan cahaya yang begitu lebar di depan mata membuatnya semakin terkejut. Secara perlahan kedua kaki Cakra mengajak tubuhnya untuk mengikuti langkah kakinya menuju cahaya tersebut. Telinganya seperti mendengar berisiknya manusia, tak hanya itu, dia juga mendengar desingan halus.
Saat permukaan wajahnya mulai mendekati cahaya putih tersebut, angin kencang menerpa wajahnya, terasa dingin. Cakra seperti merasakan sesuatu yang habis melewatinya. Laki-laki ini semakin dibuat penasaran dengan itu semua, dia pun langsung menerobos cahaya putih tersebut. Suara berisik para manusia semakin terasa, dia pun membuka kedua matanya secara perlahan. Pemandangan yang berlalu-lalang di depan matanya, membuatnya sangat terkagum. Transportasi seperti pesawat listrik, banyak yang melewatinya.
Teryata dia berada di balkon, tubuhnya menghadap belakang, di sana sudah mendapatkan kamar mewah. Sepertinya ini apartemen, dia pun menunduk ke bawah mendapatkan jalanan yang bersih sudah dipenuhi para penjual. Para warga banyak yang membuang sampahnya pada tempatnya.
Senyum terbit dari bibir Cakra. “Wow! Is this all real?” Senyum itu pudar. “Tapi, aku sebenarnya ada di mana?” Dia pun masuk ke dalam kemarnya kembali.
Saat melewati cermin, ia dibuat terkejut dengan wujudnya. “Pria tua di daalam cermin itu siapa? Apakah ini aku? Dilihat-lihat ini memang aku, hanya saja ini versi tuanya, terus janggut? Sejak kapan aku memiliki janggut,” ucapnya sembari menyentuh bulu dibawah dagunya.
Jemarin berganti menyentuh bulu yang berada di bawah hidungnya. “Kumis? Apalagi kumis ini. Tidak, ini pasti tidak benar.” Kedua matanya berkeliling untuk mencari kalender, tetapi tidak menemukannya. Dia pun mencari ponselnya.
Cakra melihat ponselnya berada di samping bantalnya, dia segera menggambil benda gepeng tersebut. Setelah itu menekan tombol power. Kedua mata Cakra seketika membulat. “2045? Yang benar saja. Pembodohan ini, pasti aku salah setting.”
Saat Cakra hendak mengotak-atik ponselnya lagi, dari layar ponselnya muncul nama Bintang. Kebetulan sekali, dia pun segara menerima teleponnya.
“Selamat pagi, Bapak Ilmuwan,” sapa Bintang dengan ramah dari balik telepon.
“Ilmuwan gundulmu, sejak kapan aku jadi Ilmuwan,” balas Cakra. Sudah dibuat bingung keadaan, sekarang malah menghadapi teman absurdnya.
“Kacau, seorang Bapak Cakra yang sangat berwibawa mengatakan hal ini? Bapak sedang tidak salah makan kan?” Dia tertawa dari balik telepon,
Cakra benar-benar semakin dibuat bingung oleh temannya.
“Ini tahun berapa?” tanya Cakra dengan tenang kembali.
“Wah, sepertinya Bapak memang salah makan. Tahun saja sampai lupa. Ini sudah tahun 2045.” Bintang pun juga ikutan bingung mendapatkan pertanyaan aneh dari temannya tersebut.
“Aku ingin bertemu denganmu dan yang lain. Tolong, kamu yang menentukan tempatnya.” Cakra langsung menutup teleponnya. Dia segera mencuci muka dan mengganti pakainnya.