Hujan turun sejak sore tanpa hentinya, seolah langit ikut meratap. Di sebuah rumah tua pinggiran pusat kota nomor 17, Nara duduk memeluk lututnya di sudut kamar, menatap dinding yang mulai mengelupas. Setiap malam, dari balik dinding itu, selalu terdengar suara tangisan pelan—lirih, terputus-putus, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Awalnya Nara mengira itu hanya suara pipa air atau angin. Namun suara itu selalu datang di waktu yang sama: pukul dua dini hari.
“Ma… sakit…” hiks hiks hiks,
Bisikan itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat darah Nara membeku.
Nara tinggal sendirian sejak ibunya meninggal setahun lalu. Ayahnya pergi entah ke mana setelah kecelakaan itu. Rumah ini diwariskan kepadanya, dan tak ada tempat lain yang bisa ia tuju. Meski ketakutan, ia bertahan. Karena di rumah inilah ibunya mengembuskan napas terakhir.
Suatu malam, suara tangisan itu terdengar lebih jelas. Seperti seorang anak kecil yang terisak.
“Kenapa Mama pergi…?”
Hiks, hiks, hiks.
Air mata Nara langsung mengalir tanpa ada perintah. Suara itu… terdengar seperti suara adiknya.
Dara.
Dara meninggal tiga tahun lalu. Ia terbakar di kamar sebelah saat kebakaran kecil melanda rumah. Nara ingat betul, ia terkunci di luar. Pintu kamar Dara terkunci dari dalam. Nara berteriak, menangis, memukul-mukul pintu, tapi api lebih cepat dari pertolongannya.
Dan sekarang, suara itu kembali.
Dengan tangan gemetar, Nara menempelkan telinganya ke dinding. Tangisan itu berubah menjadi isakan penuh luka.
“Kak Nara… aku takut… dingin…”
Nara terjatuh berlutut. Air matanya mengalir deras.
“Aku minta maaf, Dara… Aku gagal menyelamatkanmu…”
Tiba-tiba, dinding itu berderak. Retakan halus muncul, perlahan membentuk lubang kecil. Dari celahnya, Nara melihat… mata.
Mata anak kecil yang hangus, merah, dan penuh kesedihan.
“Kakak… kenapa membiarkanku sendirian?”
Retakan melebar. Sosok Dara merangkak keluar, tubuhnya hitam terbakar, rambutnya setengah habis, kulitnya melepuh. Namun wajahnya masih seperti dulu. wajah adik yang selalu tersenyum pada Nara.
Nara menjerit sambil menangis.
“Aku tidak ingin kamu mati… aku mencoba membuka pintu…”
“Tapi kamu menyerah,” bisik Dara. “Kamu pergi… meninggalkanku terbakar…”
Nara teringat. Saat api makin besar, ia memang lari keluar memanggil bantuan. Tapi saat itu… Dara masih hidup. Masih memanggil namanya.
“Aku takut… aku masih ingin hidup…”
Dara mendekat. Bau hangus dan darah memenuhi ruangan.
“Aku menunggumu, Kak… di balik dinding ini… sendirian… sambil menangis…”
Nara tak bisa bergerak. Ia terisak.
“Maafkan aku…”
Dara mengulurkan tangan hitamnya.
“Sekarang… temani aku.”
Keesokan paginya, tetangga menemukan rumah itu sunyi. Tak ada tanda Nara pergi. Hanya ada bekas tangan kecil terbakar di dinding kamar, dan dua bayangan—seorang kakak dan seorang adik—terlihat di balik tembok yang retak, seolah sedang berpelukan sambil menangis tanpa suara.
Sejak hari itu, setiap pukul dua dini hari, tangisan di rumah nomor 17 menjadi dua suara… bukan lagi satu.
Dan air mata mereka tak pernah kering.