---
Lanjutan Cerpen
Suara yang menemani diam
Sudut Pandang: Aretha
Hello, Reader—
kali ini ceritanya tidak datang dari diam,
tapi dari sarkas yang terlalu sering disalahpahami.
Happy reading 🤍
---
Aku selalu tahu orang-orang salah paham padaku.
Mereka pikir aku tajam karena suka menyakiti.
Padahal aku tajam karena terlalu sering terluka duluan.
Rosetta berjalan di depanku, langkahnya tenang seperti biasa. Hoodie hitam, wajah datar, bahu lurus. Orang yang tidak kenal dia akan mengira dia tidak peduli pada dunia. Tapi aku tahu—dan itu yang menyebalkan—dia peduli terlalu banyak, hanya saja disimpan rapi di tempat yang tidak pernah dibuka.
Naira berjalan di sampingku, masih bicara.
“…terus aku bilang ke dia, ya ampun kamu tuh ribet banget sih, hidup tuh jangan dibawa serius—”
“NAIRA,” potongku, “kamu pernah nggak kehabisan napas?”
“Pernah. Tapi aku isi lagi dengan ngomel.”
Aku mendengus. “Masuk akal.”
Rosetta melirik sekilas ke arah kami. Tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihatnya—gerakan kecil di matanya, seolah dia mendengarkan lebih dari yang ingin ia akui.
Aku berhenti melangkah.
Mereka ikut berhenti.
“Kamu kenapa?” tanya Naira.
Aku menatap Rosetta. Langsung. Tanpa basa-basi.
“Kamu bohong tadi.”
Rosetta tidak terkejut. Itu yang membuatku makin yakin.
“Aku tidak,” katanya.
“Kamu bilang kamu baik-baik saja.” Aku menyeringai tipis. “Orang baik-baik saja nggak kelihatan kayak mau menghilang pelan-pelan.”
Naira menatap kami bergantian. Kali ini dia tidak memotong.
Rosetta menunduk. Angin sore menggerakkan ujung rambutnya.
“Aku capek,” katanya akhirnya.
Bukan keras. Bukan dramatis. Tapi jujur.
Dan entah kenapa, dadaku terasa sesak.
Aku menghela napas, mengusap wajah. “Lihat kan,” gumamku. “Aku benci kalau benar.”
Naira mendekat ke Rosetta. Tidak memeluk. Tidak bersuara keras. Hanya berdiri di sampingnya.
“Kamu capek karena apa?” tanyanya pelan.
Rosetta lama diam. Lalu berkata, “Karena aku selalu harus kuat. Karena diam lebih aman. Karena kalau aku bicara, aku takut… nggak ada yang mau dengar.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari sarkas mana pun.
Aku teringat diriku sendiri.
Bagaimana aku belajar menyerang sebelum diserang.
Bagaimana aku memilih sinis daripada jujur.
Aku menertawakan rasa sakit sebelum rasa sakit itu menertawakanku.
“Dengar ya,” kataku akhirnya, suaraku lebih rendah dari biasanya. “Aku sarkas bukan karena aku nggak peduli. Aku sarkas karena kalau aku peduli, aku bisa hancur.”
Rosetta menatapku. Lama. Seolah baru melihatku tanpa topeng.
Naira mengangguk kecil. “Dan aku cerewet karena kalau aku diam, aku takut nggak ada yang tinggal.”
Kami bertiga berdiri di sana, tidak sempurna, tidak rapi, tapi… nyata.
Rosetta menghela napas panjang. “Kalian melelahkan.”
Aku tersenyum miring. “Tapi kamu nggak pergi.”
“Belum,” jawabnya.
Itu cukup.
Kami berjalan lagi. Tidak ada tawa keras. Tidak ada sindiran tajam. Hanya langkah yang seirama, meski tidak disepakati.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—
aku tidak perlu selalu menyerang
untuk melindungi apa yang penting.
---
Tidak semua orang pandai bicara lembut.
Ada yang hanya tahu caranya melindungi dengan cara kasar.
TBC, Reader 🌘
---
✍️ Catatan Penulis (Lanjutan)
Sudut pandang Aretha menunjukkan bahwa sarkas sering kali adalah bahasa lain dari ketakutan. Tidak semua orang tahu cara mengatakan “aku peduli” tanpa menyakiti dirinya sendiri.
❓ Pertanyaan untuk Pembaca:
1. Apakah sarkas bisa menjadi bentuk kepedulian?
2. Kalau kamu jadi Aretha, apa yang paling kamu lindungi?
3. Lebih sulit jujur atau lebih sulit diam?
---