Suara yang Menemani Diam
Hello, Reader—
selamat datang di cerita tentang diam, sarkas, dan suara yang terlalu keras.
Happy reading 🤍
Rosetta terbiasa dengan keheningan.
Ia menyukai pagi tanpa sapaan, pesan tanpa balasan, dan ruang kosong yang tidak menuntut apa pun darinya. Bagi Rosetta, diam bukan masalah—diam adalah tempat aman. Di sana, ia tidak perlu menjelaskan kenapa hatinya terasa berat tanpa sebab, atau kenapa ia lebih memilih duduk sendiri daripada berbagi cerita.
Di bangku taman kampus, Rosetta duduk dengan punggung tegak dan tatapan lurus ke depan. Headphone terpasang, tapi tidak ada musik yang diputar. Itu hanya alasan agar orang lain tidak menyapanya.
Sayangnya, hidup tidak pernah peduli pada strategi menghindar.
“Kamu tahu nggak,” sebuah suara menyambar tanpa aba-aba, “kalau duduk sendirian sambil pasang headphone tapi nggak nyetel lagu itu kelihatan sok misterius?”
Rosetta tidak menoleh. Ia sudah hafal suara itu.
Aretha.
“Dan kamu tahu,” balas Rosetta dingin, “kalau komentar kamu tidak diminta.”
Aretha tertawa kecil, sarkasnya selalu datang seperti kebiasaan buruk yang ia pelihara dengan bangga. Ia menjatuhkan diri di bangku sebelah Rosetta, menyilangkan tangan. Tatapannya tajam, seolah selalu mencari celah di balik ketenangan Rosetta.
“Kamu keliatan capek,” kata Aretha. “Bukan capek fisik. Capek hidup.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kalimat paling klasik orang yang nggak baik-baik saja.”
Sebelum Rosetta sempat membalas, suara lain muncul—jauh lebih keras, jauh lebih hidup.
“ROSETTAAAAA—!!!”
Rosetta memejamkan mata.
Naira.
“YA AMPUN KETEMU JUGA!” Naira berlari kecil ke arah mereka, tasnya bergoyang, suaranya memantul ke segala arah.
“Kalian tau nggak aku nyari kalian dari tadi? Panas, capek, tapi demi pertemanan aku rela!”
Aretha mendengus. “Volume kamu bisa dipakai buat bangunin orang koma.”
“Tapi aku disayang Tuhan,” jawab Naira santai, lalu duduk di sisi Rosetta tanpa izin. Terlalu dekat. Terlalu hangat.
Rosetta tidak menjauh.
Naira menatap Rosetta lekat-lekat. “Kamu kenapa kelihatan lebih dingin dari biasanya?”
“Aku selalu dingin.”
“Iya, tapi hari ini dinginnya kayak lemari es kosong.”
Aretha tertawa kecil. “Analogi yang aneh, tapi akurat.”
Rosetta menghela napas. “Kalian berisik.”
“Tapi kamu tetap di sini,” kata Aretha cepat.
Kalimat itu membuat Rosetta terdiam.
Ia memang bisa pergi. Selalu bisa. Tapi entah kenapa, hari itu ia memilih tetap duduk—di antara sarkas yang menusuk dan tawa yang memekakkan.
Mereka bertiga berjalan tanpa tujuan jelas, berbicara hal-hal remeh. Naira bercerita panjang lebar tentang dosen, teman kelas, dan hal-hal tidak penting. Aretha menyela dengan komentar pedas. Rosetta lebih banyak mendengar.
Namun di tengah semua itu, ada sesuatu yang berubah.
Rosetta mulai menyadari:
Aretha menyindir bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi dirinya sendiri.
Naira berbicara keras bukan karena tidak peka, tapi karena takut sunyi.
Dan dirinya sendiri—
diam bukan karena kuat,
melainkan karena terlalu sering tidak didengar.
Saat matahari mulai turun, mereka berhenti di pinggir jalan. Naira masih tertawa, Aretha masih menyindir. Rosetta menatap langit yang berubah warna.
“Terima kasih,” katanya tiba-tiba.
Dua pasang mata menoleh bersamaan.
“Hah?” Naira.
“Untuk apa?” Aretha.
Rosetta ragu sejenak. “Untuk… tidak membiarkanku sendirian hari ini.”
Naira tersenyum lebar, lalu memeluk Rosetta tanpa peringatan. “Kamu lucu tau kalau ngomong jujur.”
Aretha memalingkan wajah. “Jangan terbiasa. Aku tetap sarkas besok.”
Rosetta tersenyum kecil.
Tidak lebar. Tidak dramatis.
Tapi nyata.
Kadang kita tidak butuh solusi.
Kita hanya butuh orang yang mau duduk, meski kita diam.
TBC, Reader 🌙
✍️ Catatan Penulis
Cerita ini bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang cara bertahan yang berbeda. Ada yang bertahan dengan diam, ada yang dengan sarkas, ada yang dengan suara paling keras. Tidak ada yang salah—selama kita saling menemani.
❓ Pertanyaan untuk Pembaca:
1.Kamu lebih mirip Rosetta, Aretha, atau Naira?
2.Menurutmu, diam itu bentuk kekuatan atau kelelahan?
3.Kalau kamu jadi Rosetta, apakah kamu akan membuka diri… atau tetap memilih sunyi?