Mezz menatap layar ponselnya dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi sama sekali. Tangannya yang ramping melayangkan jari telunjuk untuk menggulir halaman komik fantasi yang tengah dibacanya. Di sebelahnya, Nathan sedang sibuk mengatur perlengkapan kemah yang akan mereka bawa ke gunung dekat kota besok.
“Mezz, kamu sudah siapin tasmu belum?” tanya Nathan tanpa melihat ke arah temannya. Dia tahu betul sifat Mezz – dingin, jarang berbicara, tapi selalu siap jauh-jauh hari.
“Sudah,” jawab Mezz singkat sambil menutup ponselnya. Matanya yang tajam melirik ransel Nathan yang sudah penuh sesak. “Jangan bawa terlalu banyak barang, Natan. Kita hanya akan tinggal satu malam.”
“Kamu tahu aku kan suka berjaga-jaga!” balas Nathan dengan senyum ceria. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa dekat dengan Mezz selama bertahun-tahun. Meskipun Mezz seringkali tampak tidak ramah, Nathan tahu di balik itu ada hati yang peduli. Selain itu, tidak banyak orang yang tahu bahwa Mezz pandai bertarung dan bahkan memiliki sebuah pedang kayu antik yang selalu dia bawa kemana-mana – warisan dari kakeknya.
Keesokan paginya, mereka berangkat menuju gunung yang dikenal dengan nama Gunung Mistik. Cerita rakyat menyebutkan bahwa tempat itu seringkali ada fenomena aneh yang tak bisa dijelaskan. Mezz hanya menganggapnya sebagai dongeng belaka, tapi Nathan sangat tertarik dengan cerita-cerita tersebut.
Setelah berjalan selama beberapa jam melalui jalur yang semakin sempit, mereka sampai di sebuah lembah yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang rindang. Udara di sana sangat dingin dan penuh dengan kabut tipis yang membuat pandangan menjadi terbatas.
“Kita bisa beristirahat di sini saja,” kata Mezz sambil mencari tempat yang datar untuk memasang tenda. Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka mulai bergoyang hebat. Nathan terjatuh ke belakang, sementara Mezz dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya dan siap mengambil pedang yang ada di sarungnya.
“Mezz, apa ini gempa?!” teriak Nathan dengan panik.
Sebelum Mezz bisa menjawab, sebuah cahaya putih menyilaukan muncul dari tengah lembah. Cahaya itu membentuk sebuah portal berwarna biru kebiruan yang memutar dengan cepat. Tanpa bisa melakukan apa-apa, angin kencang menarik mereka berdua masuk ke dalam portal tersebut.
Ketika rasa pusing mereda dan Mezz bisa membuka matanya lagi, dia menemukan dirinya berada di tempat yang sama sekali asing. Langit di sana berwarna ungu muda, dengan dua bulan yang tergantung tinggi. Tanahnya ditutupi rerumputan berwarna keemasan, dan di kejauhan terlihat benteng besar yang terbuat dari batu kristal.
“Kita… kita dimana ini?” bisik Nathan yang baru saja bangun dari sampingnya.
Mezz berdiri dengan cepat, tangannya sudah berada di gagang pedangnya. Dia merasa ada sesuatu yang tidak baik di sekitar mereka. Tak butuh waktu lama, beberapa sosok berpakaian baju besi hitam dengan topeng menyerupai ular muncul dari balik semak-semak. Mereka menyemburkan asap beracun dan mengeluarkan senjata tajam yang berkilauan.
“Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi, Mezz dari Bumi!” seru salah satu sosok dengan suara yang mengerikan. “Kepala suamimu telah menyewa kami untuk membunuhmu!”
Mezz mengerutkan kening. Suamiku? Apa yang mereka bicarakan? Dia tidak punya suami, bahkan tidak pernah berpikir tentang hubungan asmara. Tapi sebelum dia bisa bertanya, salah satu penyerang sudah menyerangnya dengan tombakan cepat.
Dengan gerakan yang lincah, Mezz menghindari serangan itu dan menarik pedangnya keluar dari sarung. Saat mata pedang kayu menyentuh udara dunia ini, warna kayu itu berubah menjadi perak bersinar dengan pola rune yang kompleks di permukaannya.
“Pedangmu benar-benar asli,” gumam salah satu penyerang dengan suara penuh kagum namun tetap penuh kebencian. “Kita adalah pasukan elit yang dipimpin oleh Zarathos, sang Penguasa Bayangan yang telah menjadikan dirimu musuh bebuyutannya!”
Mezz tidak berkata apa-apa. Dia fokus menghadapi setiap serangan yang datang padanya. Gerakannya presisi dan kuat – setiap tendangan pedangnya mampu menghalau serangan musuh atau menyentuh bagian tubuh mereka yang tidak terlindungi baju besi. Nathan mencoba membantu dengan mengambil tongkat kayu yang ada di dekatnya, tapi Mezz dengan cepat mengirimkan sinyal agar dia menjauh.
“Sembunyikan diri, Natan!” teriak Mezz sambil menghindari serangan dari belakang. Dia tahu bahwa musuhnya ini bukanlah lawan yang bisa dihadapi oleh orang biasa seperti Nathan.
Setelah beberapa menit bertempur, Mezz berhasil membuat sebagian besar penyerang mundur dengan cedera. Namun, sosok yang tampak sebagai pemimpin mereka masih berdiri dengan kokoh.
“Kau memang kuat,” ucap sosok itu sambil melepas topengnya, menunjukkan wajah pria tua dengan mata yang menyala merah. “Tapi Zarathos akan datang sendiri untuk kamu. Dia bilang kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikan rencananya untuk menaklukkan semua dunia paralel!”
Setelah mengucapkan itu, pria itu dan pasukannya menghilang dengan cepat menyusuri jalur hutan yang gelap. Mezz menurunkan pedangnya, yang kembali berubah menjadi kayu biasa. Dia mendekati Nathan yang masih tertegun di belakang semak.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Mezz dengan nada yang sedikit lebih lembut.
Nathan mengangguk dengan kesulitan. “Mezz… apa yang mereka maksud dengan musuhmu Zarathos? Dan kenapa mereka bilang kamu punya suami?”
Mezz menatap kejauhan, merenungkan kata-kata musuhnya. Dia tidak tahu jawaban untuk pertanyaan Nathan, tapi satu hal yang dia yakini – mereka telah masuk ke dunia fantasi yang nyata, dan di sana, dia adalah sosok yang sangat penting dengan musuh yang sangat kuat.
“Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Mezz dengan suara tegas. “Dan jika Zarathos benar-benar datang untukku, aku akan siap menghadapinya. Baik di dunia ini maupun dunia mana pun.”
Sambil menyusun kembali perlengkapannya, Mezz merasakan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dunia fantasi yang dulu hanya dia baca di komik kini menjadi kenyataan, dan dia harus menghadapi konflik besar yang telah menanti dirinya.