Hujan turun sejak sore, rintiknya kecil namun rapat, seperti seseorang yang sengaja memperlambat waktu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, sementara aroma tanah dan aspal menyatu di udara. Arka berdiri di bawah atap halte tua, tangannya menggenggam secangkir kopi panas yang sudah hampir dingin.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.42.
Ia sudah menunggu hampir satu jam.
Bukan karena ia tidak sabar. Justru karena ia tahu, jika seseorang yang ditunggunya benar-benar datang, waktu akan terasa tidak berarti. Namun menunggu tetaplah menunggu,ada ketegangan kecil di dada, sesuatu yang berdenyut pelan setiap kali ia mendengar langkah kaki mendekat.
Nama itu kembali melintas di pikirannya.
Nara.
Arka tersenyum kecil, lalu menghela napas. Ia selalu seperti ini setiap kali memikirkan perempuan itu campuran antara tenang dan gelisah, antara rindu dan takut.
Mereka tidak pernah berjanji untuk bertemu hari ini. Pesan singkat yang dikirim Nara pagi tadi hanya berbunyi:
“Kalau hujan turun sore ini, tunggu aku di halte lama dekat taman kota.”
Tanpa penjelasan. Tanpa alasan.
Namun Arka datang.
Karena begitulah Nara perempuan yang selalu muncul di hidupnya tanpa banyak kata, lalu menetap lebih lama dari yang seharusnya.
Langkah kaki itu akhirnya terdengar.
Sepatu kanvas berwarna krem berhenti di depan halte. Arka menoleh, dan di sana berdiri Nara, rambut hitamnya sedikit basah, jaket tipis cokelat muda melekat di tubuhnya. Matanya bertemu dengan mata Arka, dan seperti biasa, senyum kecil muncul di wajahnya senyum yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat dada Arka menghangat.
“Kamu datang,” kata Nara.
“Kamu menyuruhku,” jawab Arka, setengah bercanda.
Nara tertawa pelan, suara tawanya nyaris tenggelam oleh hujan. Ia melangkah masuk ke halte, berdiri di samping Arka. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh jarak yang nyaman, jarak yang penuh makna bagi dua orang yang saling memahami tanpa perlu menyentuh.
“Aku pikir kamu sibuk,” ujar Nara sambil mengibaskan air dari ujung rambutnya.
“Aku selalu sibuk,” jawab Arka. “Tapi untukmu, aku bisa berhenti sebentar.”
Nara menoleh, menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang dalam, seperti ia sedang mempertimbangkan sesuatu yang besar.
Mereka terdiam.
Hujan semakin deras.
Arka menyerahkan kopi yang tadi ia pegang. “Ini masih hangat.”
“Kamu tahu aku tidak terlalu suka kopi,” kata Nara.
“Aku tahu,” Arka tersenyum. “Tapi kamu selalu meminumnya kalau aku yang memberi.”
Nara mengambil cangkir itu, tangannya menyentuh jari Arka sesaat. Sentuhan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Arka berdebar lebih cepat.
“Kamu masih ingat,” kata Nara pelan.
“Aku mengingat semua hal kecil tentangmu,” jawab Arka tanpa berpikir panjang.
Nara menunduk, meniup uap kopi sebelum menyeruput sedikit. “Arka…”
Nada suaranya membuat Arka waspada.
“Ada apa?”
“Aku akan pergi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa hiasan, tanpa jeda.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan di depan mereka, lampu merah yang memantul di genangan air. Dadanya terasa sesak, tapi ia tidak ingin bereaksi berlebihan.
“Pergi ke mana?” tanyanya akhirnya.
“Ke luar kota. Mungkin… lama.”
Arka mengangguk perlahan. “Pekerjaan?”
Nara menggeleng. “Hidup.”
Jawaban itu membuat Arka tersenyum pahit.
Mereka memang selalu seperti ini tidak pernah benar-benar mendefinisikan hubungan mereka. Bukan sepasang kekasih, tapi juga bukan sekadar teman. Mereka bertemu pertama kali tiga tahun lalu di sebuah perpustakaan kecil, berbagi meja karena hujan yang sama derasnya seperti hari ini.
Sejak itu, mereka berbagi banyak hal: cerita, tawa, kesunyian, luka lama, mimpi yang belum tentu terwujud. Tapi mereka tidak pernah berbagi satu hal yang paling penting,kepastian.
“Kenapa sekarang?” tanya Arka.
“Karena kalau aku menunggu lebih lama, aku mungkin tidak akan pernah pergi,” jawab Nara jujur.
Arka menatapnya, kali ini langsung. “Dan itu buruk?”
Nara tidak segera menjawab. Ia menatap hujan, lalu Arka, lalu kembali ke hujan.
“Tidak,” katanya pelan. “Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut menetap di tempat yang membuatku terlalu nyaman.”
Arka tersenyum kecil. “Aku tidak tahu aku sebegitu berbahayanya.”
“Kamu bukan berbahaya,” kata Nara. “Kamu… rumah.”
Kata itu menghantam Arka lebih keras daripada hujan.
Rumah.
Tempat kembali. Tempat tinggal. Tempat berhenti berlari.
“Kalau aku memintamu untuk tinggal?” tanya Arka, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Nara terdiam lama. Ia memegang cangkir kopi dengan kedua tangan, seolah mencari kehangatan yang bukan berasal dari minuman itu.
“Aku ingin,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak tahu apakah aku siap.”
Arka mengangguk. “Aku tidak akan memaksamu.”
Nara tersenyum, kali ini senyum yang lebih sedih. “Itu yang membuatku menyukaimu.”
Hujan mulai mereda, berubah menjadi rintik-rintik kecil. Langit masih kelabu, tapi ada celah tipis cahaya di balik awan.
“Kapan kamu pergi?” tanya Arka.
“Besok pagi.”
Jawaban itu membuat waktu terasa berhenti sejenak.
“Aku akan mengantarmu,” kata Arka.
Nara menggeleng. “Tidak perlu.”
“Aku ingin.”
Nara menatapnya lama, lalu mengangguk. “Baik.”
Malam itu, mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka hanya berdiri berdampingan di halte tua itu, mendengarkan hujan yang semakin jarang jatuh. Tidak ada janji. Tidak ada tangisan. Hanya dua orang yang menyadari bahwa pertemuan paling indah sering kali terjadi tepat sebelum perpisahan.
Keesokan paginya, stasiun dipenuhi suara pengumuman dan langkah kaki tergesa. Arka berdiri di samping Nara, koper kecil di kakinya.
“Kamu tidak banyak membawa barang,” kata Arka.
“Aku belajar bahwa tidak semua hal perlu dibawa,” jawab Nara sambil tersenyum.
Kereta akan berangkat lima menit lagi.
“Arka,” kata Nara, ragu sejenak. “Kalau suatu hari aku kembali…”
Arka menatapnya. “Aku akan tetap di sini.”
“Bagaimana kalau aku tidak kembali?”
Arka tersenyum lembut. “Maka aku akan bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalananmu.”
Nara menahan napas, lalu memeluk Arka. Pelukan itu hangat, erat, dan penuh dengan semua kata yang tidak pernah mereka ucapkan.
Ketika kereta bergerak, Arka berdiri di peron, melambaikan tangan. Nara membalasnya dari balik jendela, matanya berkaca-kaca tapi senyumnya tulus.
Saat kereta menghilang, Arka tidak merasa kehilangan.
Ia merasa telah mencintai dengan caranya sendiri tanpa menahan, tanpa memaksa, tanpa merusak.
Hujan turun lagi sore itu.
Dan di halte tua dekat taman kota, jam terus berjalan, meski bagi Arka, ada satu momen yang akan selalu terasa abadi.
Di antara jam yang terhenti.