Aneh, rasanya hampa. Sudah seratus hari sejak kepergian Max, Salsa masih merasakan kehilangan. "Max dulu ada di sini, dia menatapku sambil mendengarkan celotehku tentang mama dan kakak yang egois." Salsa berujar pada Caca. Caca berusaha memahami lara Salsa sore itu. "Iya aku tahu." Kamu sudah menceritakannya seminggu lalu. "Max waktu itu juga menghampiriku saat ia jeda main futsal saat aku menemaninya." Ucap Salsa kembali. "Iya, Salsa, aku tahu."
Salsa lalu menatap Caca, "Sekarang di mana Max, Ca, di mana?"
Caca menarik napas panjang. Ini adalah kesekian kalinya Caca harus mendengar kalimat keluh kesah Salsa tentang keberadaan Max pada dirinya.
Bukan ia tidak mau mendengarnya, tapi Salsa sudah terlalu dalam dalam duka ini. Ini sudah 100 hari. Dan di benaknya masih bercokol nama Max. Mungkin dalam rongga paru-parunya yang keluar adalah Max saat menghela napas, entahlah.
"Salsa, maafkan aku. Aku cuma bisa jadi pendengarmu.Mungkin kelak kamu akan bersua kembali dengan Max, bersabar lah." Hanya kalimat yang berisi penyemangat yang bisa dia sampaikan pada Salsa.
Waktu seminggu Max pergi, Salsa mengurung diri di kamarnya, tak hendak makan atau pun bangun dari ranjangnya.
Salsa dehidrasi dan maaag akut kata dokter kala itu, saat dia harus dilarikan ke ruang UGD karena pingsan tak sadarkan diri.
Salsa masih diinfus waktu itu saat siuman dari pingsannya. "mana Max, aku rindu." Ucapnya lirih.
"Max lagi..."
Caca bukannya tidak peduli pada kicauan Salsa, tapi ia takut Salsa akan sakit dan berlarut-larut dalam kesedihan. Salsa seminggu kemudian keluar dari rumah sakit. Badannya sudah lebih berisi, namun pikirannya masih kacau.
"Mama, kenapa Max tidak jua menjemputku. Kami ada kencan malam ini."
Salsa mulai berkicau kembali.
23 September 2025
"Max, kamu berselingkuh!" Teriak Caca pada Max. "Kamu keterlaluan Max."
"Maafkan aku Caca, maafkan aku, aku tidak bermaksud demikian."
"Bagaimana kalau Salsa tahu semua ini!" Aku makin ngegas pada Max. "Kali ini saja Salsa, tolong lindungi aku."
"Bodo amat, aku harus beri tahu Salsa."
3 Oktober 2025
"Max, kenapa kamu akhir-akhir ini datang telat ke rumah?" Salsa bertanya pada Max. "Maafkan sayang ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Max berusaha menutupi kebohongannya. "Apakah kau selingkuh?" Tanya Salsa asal-asalan. "Tidak sayang, dugaan macam apa itu!"jawab Max. "Oke, aku percaya padamu sayang." Salsa memeluk Max dan Max merengkuh tubuh Salsa yang mungil.
4 Oktober 2025
"Salsa ada telpon dari Max." Kata kakanya, Gea. "Lho, barusan aku baru aja ketemu Max, kapan nelponnya." Kata Salsa."Baru lima menit lalu."jawab Gea, kakaknya. "Aneh sekali, baru lima belas yang menit yang lalu kami bertemu di cafe biasa kami ketemu."Katanya heran.
"Mungkin Max lupa menyampaikan sesuatu padamu tadi."Kakaknya berusaha menenangkan. "Ya, mungkin saja." Salsa lalu pergi ke kamarnya.
Di tempat lain, Max sedang dihujani pukulan oleh para debcolector yang menagih uang padanya. "Ampun, Bang."Rintihnya. "Kalau gak bisa bayar, gak usah pinjam."teriak salah satu dari mereka. Data diri Max disalah gunakan oleh temannya. Temannya Richard, memakai berkas data Max untuk meminjam uang ke Pinjol.
Sudah setahun lamanya, dia dia mangrek tidak bayar. Terpaksalah enam bulan ini Max yang harus membayarnya. Padahal uang tabungannya akan dipakainya untuk DP rumah kecil untuk dihadiahi pada Salsa nantinya bila mereka menikah nanti. Gajinya masih kecil makanya dia tidak sanggup beli cash.
Terpaksa ia kerja job sampingan untuk menutupinya, termasuk membuka jasa teman kencan sehari di aplikasi kencan. Padahal sore-malam ia sudah side job dengan jaga counter juga milik temannya. Tidak mencukupi. Akhirnya dia side job juga buka jasa teman kencan.
Perempuan yang dilihat Caca bersamanya waktu itu adalah pelanggannya. Ia sudah berusaha mengelak dan menerangkan pada debcolector itu bahwa bukan dia yang meminjam, tapi mereka tidak mempercayainya. Alhasil dia selalu diteror setiap bulannya. Temannya Richard pun hilang tak tahu rimbanya.
Lapor aparat di Kota Century pun sama saja. Akhirnya dia menutupi dari Salsa, keluarga Salsa, bahkan dari keluarganya.
8 Oktober 2025
Malam itu, ia tidak punya cukup uang untuk membayar jatuh tempo ke rentenir. Dia dipukuli dan dipaksa membayar. Dia sudah tak punya daya, ia berusaha melawan tapi masih kalah dengan tenaga para debcolector sebanyak tiga orang itu. Dia akhirnya bisa kabur dengan melarikan diri melompati pagar. Ia kabur ke jalan raya yang waktu itu sepi.
Namun, naas, sebuah truk melintas saat dia menyeberang jalan. Dan dia tertabrak dengan sangat keram.
"Cit..."
Max meninggal pada malam itu, tanggal 8 Oktober 2025, tepat seratus hari sudah lamanya.
Salsa masih kehilangan dan mungkin tak pernah akan rela dengan perginya Max.
Cerita ini kupersembahkan untuk:
Even cerpen GC Ruang menulis, tema: kesempatan
Terima kasih, mengizinkanku untuk ikut even ini
GC Ruang Menulis