“Loli, aku ingin mengambil matahari.”
SAHABATKU meringkik. Memainkan ekornya yang berwarna-warni sebelum kembali memakan apel merah di keranjang buah. Poninya yang berwarna perak tampak berkilau di bawah mentari sedangkan tubuhnya yang berwarna merah muda nampak sangat cantik. Seperti sebuah permen lollipop.
Membaringkan tubuh di atas rerumputan. Kedua lengan kujadikan sebagai bantal. Menatap langit berwarna biru di bawah sebuah pohon. Matahari di atas sana membuatku tertarik. Mengangkat tangan kanan ke atas—berupaya menggenggam lingkaran bersinar itu. Ah, andaikan aku bisa mengambil sebagian matahari. Memotong sedikit lingkaran itu untuk kujadikan sebagai pengganti lampu di kamar tidur. Pasti akan sangat terang dan cantik.
Setidaknya, itu sebagai pengganti bintang-bintang yang sampai saat ini belum bisa kuambil dari langit malam. Namun, mengingat perkataan mama, pertanyaan muncul di benakku. Kenapa aku tak bisa mengambil matahari atau bintang? Mama mengatakan bahwa aku tak seharusnya melakukan itu. Tapi, masalahnya adalah aku tetap tidak mengerti. Jadi, mengapa aku harus menuruti perkataan orang dewasa yang tidak kumengerti? Aku akan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Bangkit berdiri, membersihkan pantat, bagian belakang baju, serta merapikan kepangan rambut jinggaku. “Belsiaplah, Loli. Kita akan memulai petualangan!”
“Kalau kau mau berpetualang maka kau harus ikut bersamaku.”
Menoleh ke samping. Seorang pria aneh nampak melihatku sambil tersenyum. Dalam sekali melirik dia terlihat menyeramkan. Riasan seperti badut namun tak ada hidung tomat, wajahnya sangat putih dan pucat, seperti diberi tepung. Rambut merah keriting yang menyala, serta topi tinggi berwarna hijau-kehitam-hitaman.
“Apa Anda sakit, Tuan?”
Dia tertawa. “Apa karena area di sekitar mataku berwarna merah?” Aku mengangguk, dia kembali melanjutkan, “Ini hanya riasan. Apa aku terlihat cantik?”
Memiringkan kepala, menatapnya dengan alis yang saling tertaut. “Anda tellihat cantik sekaligus menakutkan.”
Menundukkan kepala, memegangi perut, dia tertawa keras. Loli yang tadi tak peduli sekarang berdiri di sampingku, meringkik menatap orang itu.
“Kau bilang bahwa kau ingin berpetualang, bukan?” Dia mengulurkan tangan. “Pegang tanganku dan kita akan segera berada di dunia di mana semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.”
Aku langsung menurut sedangkan Loli otomatis bergerak mendekatkan tubuhnya. Pria aneh itu tertawa sebelum kami bertransportasi ke dunia lain. Setelah melewati sebuah lorong aneh di mana ada semacam awan berwarna-warni, kami tiba di sebuah kota yang terdapat banyak teman-temanku. Mereka tertawa, bermain bersama, semuanya nampak menyenangkan!
Mulutku terbuka lebar. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, mengamati setiap benda yang terlihat ajaib. Kota ini sangat menyenangkan! Bangunan yang terbuat dari bintang yang berkerlap-kerlip, jalanan yang terbuat dari permen kapas, dan tentu saja langit yang berwarna biru gelap, di atasnya terdapat taburan bintang, matahari, planet, dan berbagai benda angkasa. Terlihat sangat dekat hingga bisa kujangkau.
Sangat menakjubkan!
Kota ini bersinar oleh benda langit!
Membalikkan badan menatap pria aneh itu, dengan pandangan berbinar aku berujar, “Wah, sungguhkah ini dunia di mana semuanya bisa menjadi mungkin, Tuan?”
“Panggil aku Mad Hatter.” Kemudian dia tersenyum sembari melebarkan tangan. “Ya! Selamat datang di duniamu sendiri. Di mana apa yang kau inginkan menjadi mungkin.”
Loli di sebelah meringkik. Menggoyangkan ekor pelanginya ke berbagai arah. Nampaknya, sahabatku juga menyukai tempat ini. Maka, dengan pandangan yang masih berbinar, aku membalas, “Senang beltemu denganmu, Hattlel. Aku sangat menyukai tempat ini!”
Lantas aku menaiki Loli, tersenyum kepadanya. “Aku akan mengambil bintang-bintang dahulu.”
“Baiklah. Kalau sudah puas berkeliling, temui aku di bangunan bintang yang paling besar,” katanya sembari menunjuk bangunan di ujung jalan, kemudian dia kembali menatapku. “Aku akan ada di sana bersama dengan teman-teman yang lain. Kami mengadakan pesta teh. Datanglah.”
“Tentu saja, Hattel.”
Kemudian, aku bersama Loli melesat naik. Terbang ke atas mengelilingi kota. Seluruh bangunan di kota ini terbuat dari bintang dengan berbagai warna. Sangat indah. Semua penduduknya adalah anak seusiaku yang bermain-main di bawah. Bahkan, ketika Loli terbang sedikit lebih tinggi, aku dapat menyentuh bintang yang berwarna biru itu!
“Loli, telbanglah lebih tinggi. Aku ingin mengambil bebelapa bintang.” Loli meringkik dan mengikuti perintah.
Sedangkan aku menaikkan tangan ke atas, bersiap mengambil satu bintang kecil yang berwarna biru. Kemudian beralih ke bintang berwarna hijau. Aku mengumpulkannya menjadi beberapa buah dan kuletakkan di baju. Hingga kami mendekati matahari, Loli memperlambat lajunya. Benda bersinar paling terang itu berada tepat di depan mataku.
Membuka mulut lebar karena takjub. Tanpa sadar air liurku jatuh di sudut bibir. Segera mengangkat tangan untuk mengelapnya. Sungguh, matahari di depan sangat-sangat mengagumkan! Mama mengatakan kalau matahari adalah benda langit yang paling panas, namun di tempat ini aku bahkan bisa terus menatapnya—berada di dekatnya tanpa takut terbakar.
Aku ingin mencubitnya sedikit untuk diletakkan di dalam kamar!
Hanya tinggal sedikit lagi hingga tanganku berhasil menggapai keliling matahari, namun gerakanku terhenti. Mengurungkan niat setelah perkataan mama terlintas. Rasanya, aku sudah merasa puas hanya dengan bintang-bintang ini. Tersenyum, mendekatkan diri berbisik di telinga Loli. “Ayo kita menemui Hattel.”
Bangunan bintang terbesar di tempat ini sekarang berada di depan. Lagi-lagi terkagum melihat gedung yang bersinar itu. Melangkah masuk diikuti Loli, tepat saat aku membuka daun pintu, Hatter di depan sana lantas tersenyum lebar. Menyambutku gembira dengan beberapa teman-teman manusia dan hewan.
“Kemarilah.”
Mendekat. Duduk di kursi tepat di sebelahnya. Semua orang yang ada di pesta ini menyambutku. Kami mengobrol dan menceritakan berbagai hal. Loli yang duduk di sampingku pun nampaknya nyaman dengan sekeranjang apel di depannya.
“Kau mengumpulkan bintang?” Aku menoleh, meletakkan cangkir teh dan tersenyum. “Pilihan yang bagus. Apa kau akan membawanya pulang?”
“Ya!”
“Oh, sayang sekali. Kupikir kau akan tinggal di sini lebih lama.”
“Maaf, Hattlel. Namun, Mama akan mencariku.”
Hattler mengangguk, paham. “Ya, kau benar. Ngomong-ngomong, ….” Dia menunduk, mengambil sesuatu dari bawah kemudian muncul kembali dengan sebuah toples. “Masukkan bintangmu ke sini.” Aku pun menurut. Dia melanjutkan, “Bintang yang kau pilih sangat cantik. Sesuai dengan arti namamu.” Kemudian dia berteriak senang ketika melihatku memasukkan bintang berwarna merah muda. “Lihat! Kau bahkan berhasil mengambil Estelle!”
“Estelle?”
“Estelle.” Dia menatapku sembari tersenyum lebar. “Arti namamu adalah bintang terindah. Dan kau baru saja berhasil mendapatkan bintang Estelle.”
Setelah berpisah dengan Hattler dan kawan-kawan lain, secara ajaib aku kembali ke tempat di mana terakhir kali berada setelah pria itu menjentikkan jarinya. Yang lebih mengagumkan adalah keberadaan bintang-bintang di dalam toplesku.
Akhirnya aku dapat menyinari ruang kamarku dengan sinar bintang-bintang ini.[END]