Zikri mengunci pintu apartemennya. Napasnya sedikit tersengal, tapi matanya berbinar penuh semangat. Di ruang tengah yang sempit itu, ia telah menyiapkan "tempat latihan rahasia"-nya. Beberapa barbel bekas, tali skipping usang, dan matras yoga yang sudah lusuh menjadi saksi bisu perjuangannya.
Sejak kapan Zikri terobsesi dengan otot? Semua berawal dari ejekan teman-temannya yang sering memanggilnya "tengkorak." Zikri memang kurus. Sangat kurus. Tulang-tulangnya seolah berlomba untuk menembus kulitnya. Awalnya, Zikri tidak peduli. Tapi lama-kelamaan, ejekan itu mulai mengganggu. Apalagi, ia punya pacar bernama Markonah.
Markonah bukan perempuan biasa. Ia kuat, berani, dan—konon—kebal peluru. Zikri selalu merasa minder di dekat Markonah. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa melindunginya, bukan malah sebaliknya. Maka, dimulailah latihan diam-diam ini.
Setiap malam, setelah orang tuanya terlelap, Zikri keluar dari kamar dan mulai mengangkat barbel. Awalnya, ia hanya mampu mengangkat beberapa kali. Otot-ototnya terasa sakit dan berdenyut. Tapi Zikri tidak menyerah. Ia terus berlatih, sedikit demi sedikit, setiap hari. Ia juga mulai mengatur pola makannya. Ia memperbanyak konsumsi protein dan mengurangi makanan cepat saji.
Markonah tidak tahu menahu tentang latihan rahasia Zikri. Ia hanya tahu bahwa pacarnya itu semakin sering menghilang di malam hari. Kadang, Zikri beralasan lembur Ngoding Markonah percaya saja. Ia tidak pernah curiga sedikit pun. Markonah tinggal di sebuah rumah sederhana bersama biawak kesayangannya, Boris. Boris adalah satu-satunya teman Markonah. Biawak itu setia menemaninya, mendengarkan semua keluh kesahnya.
Suatu malam, Zikri merasa sangat lelah. Ia sudah berlatih selama dua jam tanpa henti. Otot-ototnya terasa seperti terbakar. Ia merebahkan diri di matras yoga, mencoba mengatur napas. Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan pintu.
"Zikri, ini aku, Markonah," suara Markonah terdengar dari balik pintu.
Zikri panik. Ia tidak mungkin membiarkan Markonah melihat tempat latihan rahasianya. Ia segera bangkit dan menyembunyikan barbel di bawah tempat tidur. Ia juga menutupi matras yoga dengan selimut. Setelah memastikan semuanya aman, ia membuka pintu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Zikri berusaha tenang.
Markonah tersenyum. "Aku hanya ingin memberikanmu ini," katanya sambil menyodorkan sekotak martabak manis. "Aku tahu kamu pasti lapar."
Zikri menerima martabak itu dengan senang hati. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik."
Markonah masuk ke dalam apartemen Zikri. Ia melihat sekeliling dengan tatapan menyelidik. "Kamu sedang apa tadi?" tanyanya curiga.
"Aku... aku sedang membaca buku," jawab Zikri gugup.
Markonah mengangkat alisnya. "Benarkah? Buku apa?"
Zikri menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya, Markonah tidak bertanya lebih lanjut. Ia langsung menuju ke dapur dan membuka kotak martabak.
"Wah, martabaknya enak sekali," kata Markonah sambil menyuapkan sepotong martabak ke mulutnya. "Kamu mau?"
Zikri mengangguk. Ia mengambil sepotong martabak dan memakannya dengan lahap. Ia merasa lega karena Markonah tidak curiga.
Malam itu, Zikri dan Markonah menghabiskan waktu bersama. Mereka menonton film, bercanda, dan makan martabak. Zikri merasa sangat bahagia. Ia bersyukur memiliki pacar seperti Markonah.
Setelah Markonah pulang, Zikri kembali ke tempat latihan rahasianya. Ia mengangkat barbel sekali lagi, kali ini dengan semangat yang lebih besar. Ia tahu, ia harus terus berlatih agar bisa menjadi lebih kuat. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Markonah.