Seorang wanita muda, tengah menghela nafas kasar di dalam bilik kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu. Diletakkannya benda kecil berwarna putih dan biru berbentuk strip ke tepian bak air. Merapikan roknya lalu keluar dengan membawa benda kecil yang sudah dibasuhnya dengan air.
Dia duduk di pinggiran tempat tidur. Menatap ke langit-langit kamar. Memejamkan mata erat menahan sesak yang muncul di dalam sana.
___
(Dua remaja berseragam putih abu-abu, Gadis dan Pramuda, di sebuah kamar kost, sedang berbagi kasih)
Gadis : (Mendorong tubuh anak laki-laki di depannya) "Sudah, Kak. Aku mau pulang. Nanti Ayah nyariin." (Menyeka sisa saliva di sekitar bibirnya)
Pram : (Menatap sendu) "Belum puas, Sayang. Sekali lagi, ya?" (Merayu dan mengelus pipi Gadis)
Gadis : (Menggeleng) "Sakit..."
Pram : "Baru pertama. Nanti yang kedua udah nggak sakit lagi."
Gadis : "Nggak mau, anterin aku pulang, Kak. Ayah udah sms dari tadi belum aku balas. Nanti ayah marah." (Merapikan seragam putih abu-abunya, menyisir rambutnya yang berantakan karena ulah kekasihnya) (Saat beranjak berdiri, dirasakan sakit di sekujur badannya) "Aawwsshhh!"
Pram : "Pelan-pelan, Sayang. Nanti dulu, ya... biar berkurang sakitnya dulu." (Mendudukkan kembali Gadis ke kasur lipat)
Gadis : "Nggak papa kok, Kak. Aku harus pulang sekarang." (Berdiri kembali dan melangkah ke pintu)
Pram pun mengantarkan Gadis pulang ke rumahnya. Sang ayah sudah menunggunya di teras rumah.
Setelah Gadis masuk ke dalam, Pram pun berpamitan kepada ayah Gadis.
Pram : "Saya pamit dulu, Pak. Maaf, terlambat antar Gadis. Tadi kehabisan bensin di jalan." (Menyalami tangan ayah Gadis)
Ayah Gadis : "Lain kali hubungi Bapak kalau ada apa-apa. Mungkin tidak akan ada lain kali juga." ( Menatap tajam)
Pram : (Nyengir sambil garuk-garuk kepala) "Permisi, Pak."
Ayah Gadis : "Hmmm..."
___
Sebulan berlalu. Gadis dan Pram bertemu kembali sepulang sekolah di belakang gedung sekolah. Duduk di bangku cor di bawah pohon mangga.
Pram : "Mau ngomongin apa, Sayang?" (Menyibakkan rambut-rambut halus di kening Gadis)
Gadis : (Menunjukkan sebuah alat pendeteksi kehamilan dengan dua garis)
Pram : (Mengernyitkan kening) "Ini..."
Gadis : "Aku hamil, Kak." (Menunduk sambil memainkan ujung rok abu-abunya) "Kakak akan tang---"
Pram : (Menyela ucapan Gadis) "Aku belum siap. Tidak, tidak, kita belum siap." (Menggelengkan kepala panik)
Gadis : "Tapi kita melakukannya, Kak. Siap tidak siap, Kakak harus bertanggung jawab." (Mulai terisak)
Pram : (Menggenggam tangan Gadis) "Kita gugurkan kandunganmu."
Gadis : "Maksud Kakak?" (Terkejut)
Pram : "Kita masih sekolah, masa depan kita masih panjang. Apa kamu mau putus sekolah karena ketahuan hamil?"
(Memegang bahu Gadis) "Kamu punya mimpi, kan. Kamu ingin mendapat gelar sarjana, jadi pengacara handal, supaya orang tuamu bangga. Apa kamu mau mengecewakan mereka?"
Gadis : "Sekarang pun aku sudah mengecewakan mereka, Kak."
Pram : "Tidak jika mereka tidak tahu. Jadi, sekarang kita ke klinik, untuk menggugurkan kandunganmu. Percayalah, Sayang. Kamu tidak akan sanggup mengecewakan orang tuamu demi bayi ini." ( Menyentuh perut Gadis)
Gadis : (Mengangguk pelan) "Baiklah, Kak. Ayo kita pergi."
Pram tersenyum lega dan mereka pergi ke sebuah klinik ilegal. Gadis menggugurkan janin tak berdosa itu karena termakan bujuk rayu Pram untuk kesekian kalinya.
Dia pun tak ingin sekolahnya putus karena ketahuan hamil. Dia masih ingin melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citanya.
___
Sementara itu, di sebuah kamar, seorang wanita muda menahan isakan tangisnya. Ini sudah ke sekian kalinya, mungkin ratusan, ia menelan kecewa. Garis itu masih satu. Tak pernah berubah jadi dua.
Sudah perih rasa telinga dan hatinya mendengar cemoohan tetangga, yang tidak diucapkan di depannya tentunya. Lima tahun dia menjalani kehidupan rumah tangga. Namun Tuhan belum mempercayakannya untuk menimang buah hati.
Bukan sekali dua kali dia dan sang suami pergi memeriksakan kesuburan masing-masing ke dokter. Namun hasilnya bagus, tidak ada masalah pada kesuburan mereka. Dokter menyarankan untuk tidak terlalu stress.
Tapi semakin memikirkan, tentu wanita itu semakin stress.
_*_*_*_
Setelah keluar dari klinik ilegal, Gadis dan Pram duduk di sebuah taman. Gadis menahan rasa sakitnya dengan mencengkeram rok erat-erat.
Pram : (Menciumi tangan Gadis) "Kenapa tidak dirawat inap saja, hmm?"
Gadis : "Dan membuat orang tuaku khawatir?" (Menarik tangannya dari genggaman Pram)
Pram : "Tapi kamu masih kesakitan."
Gadis : "Hatiku lebih sakit." (Menatap tajam Pram) "Aku mau kita putus, Kak."
Pram : "Apa maksudmu, Sayang?" (Terkejut)
Gadis : "Jangan menghubungi atau menemuiku, lagi, Kak. Aku ingin kita berpisah. Aku tidak mau menjadi semakin buruk bersama Kakak."
Pram : "Tidak! Aku tidak akan memutuskanmu, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Jangan begini. Aku minta maaf karena memintamu menggugurkan kandungan. Tapi itu demi kebaikanmu, Sayang."
Gadis : "Itu hanya demi kebaikan Kakak saja. Karena Kakak pengecut, tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan buruk Kakak. Seharusnya aku tidak percaya begitu saja dulu. Aku menyesal telah menuruti keinginan Kakak."
Pram : "Bukan begitu, Sayang. Aku hanya mengkhawatirkan masa depanmu. Jika kamu mempertahankan bayi itu, kamu tidak akan bisa melanjutkan kuliah. Bahkan kamu tidak akan bisa mengikuti ujian akhir dan mendapat ijazah SMA. Kamu tidak akan mempunyai pekerjaan yang layak di masa depan." (Mengusap air mata di pipi Gadis)
Gadis : "Kalau memang Kakak ingin aku melanjutkan mimpiku, lepaskan aku, Kak. Aku akan fokus pada pendidikanku dan membuat bangga orang tuaku tanpa gangguan dari Kakak. Tolong..." (Menangkupkan kedua tangan di depan dada)
Pram : (Mengusap wajah kasar) "Aarrrgghh! Sial!" (Memukul bangku taman) "Baiklah, kita putus. Tapi jangan menjauh dariku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang."
Gadis : "Antarkan aku pulang..."
Pram : "Baiklah."
Pram pun mengantarkan Gadis pulang.
Setelah putus dari Pram, Gadis fokus pada pendidikannya. Dia berjuang untuk meraih cita-citanya.
Selulusnya dari SMA, Gadis melanjutkan kuliah di Universitas jurusan fakultas Hukum dengan jalur beasiswa. Meski Pram terus-menerus mengejarnya, Gadis mengabaikannya. Dia lulus dengan nilai terbaik dan mejadi seorang pengacara seperti yang dia impikan.
Hingga jodoh pun datang kepadanya di waktu yang tepat. Seseorang yang menerimanya dengan segala masa lalunya. Karena tahu sejak awal, apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.
___
Si wanita muda masih memejamkan matanya. Bayangan masa lalu mengalir bagai arus sungai. Membuatnya tenggelam dalam kenangan.
"Sayang, kenapa?" Panggilan sang suami membuyarkan lamunannya.
"Tidak ada apa-apa," sahutnya.
"Lalu kenapa menangis, hmm? Test pack lagi?" Suaminya mengambil strip kecil dalam genggaman si wanita muda.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kita masih muda, masih banyak waktu. Karirmu juga sedang cemerlang. Mungkin ini kesempatan untuk kita menikmati kebersamaan berdua sebelum waktu kita tersita oleh anak-anak," lanjutnya menenangkan hati sang istri.
"Tapi aku lelah dengan gunjingan orang-orang, Kak. Terutama Ibumu. Dia selalu menceritakan bahwa aku mandul kepada tetangga dan teman arisannya. Aku sudah nggak kuat, Kak." Wanita menangis di bahu suaminya.
"Maafkan ibu, ya. Nanti aku akan bicara sama ibu, tentang hasil tes dari dokter."
"Lagi?! Ini sudah ke berapa kali kita tunjukkan hasil tesnya, Kak. Dan ibu selalu berpikir kita mengada-ada. Kalau memang ibu ingin segera menimang cucu, aku ijinkan Kakak menikah lagi," ucap si istri.
"Sayangku... Aku tidak akan pernah melakukan itu. Sekalipun kita tidak dikaruniai seorang anak pun. Aku tidak akan pernah membagi cintaku untuk orang lain. Tidak cukupkah penderitaan yang harus kurasakan karena jauh darimu bertahun-tahun. Kurangkah perjuanganku untuk mendapatkan kembali hatimu?"
"Mungkin ini hukuman untukku. Karena dulu, demi mengejar cita-cita dan mimpiku, aku mengorbankan calon bayiku. Lalu sekarang, justru bayi itu yang menjadi impian terbesarku." Sambil terisak di pelukan suaminya, wanita muda ini memukul-mukul perutnya sendiri.
"Ssttt... Sudah... Itu bukan hanya kesalahanmu. Aku juga bersalah. Aku yang pengecut sehingga membuatmu menuruti kemauanku untuk menggugurkan calon bayi kita dulu. Maafkan aku, Sayang." Pram mengecup pucuk kepala Gadis lembut.
"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Tapi sepertinya Tuhan belum memaafkan kita."
"Kalau begitu, kita terus berdoa dan berjuang sama-sama, ya?"
"Hmmm." Gadis mengangguk pelan.
_*_*_*_
TAMAT