Liburan kuliah itu awalnya terasa biasa saja. Delapan mahasiswa berangkat ke daerah pegunungan yang jarang muncul di peta. Hutan lebat, jalan setapak sempit, dan jurang yang menganga di sisi kiri kanan. Mereka bermain, tertawa, berfoto, dan saling mengejek kelelahan.
Di tengah perjalanan, Seryl dan Nanda berjalan lebih cepat dari rombongan. Nanda berhenti mendadak di dekat ngarai. Katanya ingin buang air kecil. Seryl menunggu sambil memunggungi jurang, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas.
Saat Nanda kembali, wajahnya pucat. Ia bilang seperti melihat sesuatu di bawah, tapi langsung menepisnya. Mereka melanjutkan langkah dan tak lama kemudian menemukan beberapa gubuk kayu tua yang berdiri terpencar. Terlihat seperti pemukiman kecil yang sudah lama ditinggalkan.
Rasa penasaran mengalahkan logika.
Salah satu gubuk dengan jendela terbuka. Di dalamnya, mereka melihat sesuatu yang membuat napas terhenti. Bukan hewan. Bukan kecelakaan. Ada bekas-bekas yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Potongan tubuh manusia, terpisah, dan sebagian lain sedang dipanaskan di atas tungku sederhana. Bau logam dan asap bercampur jadi satu.
Seryl mundur sambil menutup mulut. Nanda menarik tangannya. Dari jejak dan sisa makanan, jelas ini bukan pekerjaan satu orang. Sepertinya ada dua keluarga yang tinggal di sana, hidup, dan melakukan itu dengan tenang. Ketika semua teman sudah berkumpul Seryl dan Nanda menceritakan ke teman-temannya. Kemudian mereka lari ke desa terdekat dan melapor ke warga. Anehnya, tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan. Seorang pria tua di dekat mereka hanya mengangguk pelan dan berkata,
"Itu seperti sudah direncanakan."
Warga bergerak lambat, terlalu teratur. Seolah kabar itu bukan hal baru.
Sementara itu, Seryl dan Nanda tiba-tiba terpisah dari rombongan. Seryl menghilang. Dicari ke segala arah, namanya dipanggil berkali-kali, tapi hutan hanya membalas dengan gema kosong.
Mereka menemukannya menjelang malam. Berdiri di dekat gubuk itu. Wajahnya datar.
Beberapa mahasiswa langsung berkata,
"Jangan berpencar dari kami."
Namun Seryl menggeleng. Suaranya pelan tapi tegas.
"Aku tidak boleh meninggalkan dua anak kecil di gubuk itu."
Tidak ada yang pernah melihat anak-anak itu sebelumnya. Seryl akhirnya sadar bahwa dia tidak boleh pisah dari teman-temannya setelah warga makin mendekat ke gubuk.
Nanda yang hilang bersamanya tidak pernah ditemukan. Tidak di hutan. Tidak di ngarai. Tidak juga di gubuk.
Ketika warga akhirnya mendatangi lokasi, gubuk-gubuk itu kosong. Tidak ada sisa apa pun. Seolah tidak pernah ada kehidupan di sana.
Kecuali satu hal.
Jejak kaki kecil menuju hutan. Dan bekas api yang masih hangat.
Liburan itu berakhir lebih cepat. Dan tak satu pun dari mereka pernah kembali ke daerah itu lagi.
*
Namun bertahun-tahun kemudian, Seryl masih mengingat satu detail yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Saat mereka meninggalkan desa pagi itu, ia sempat menoleh ke arah hutan. Di batas pepohonan, di antara kabut tipis, berdiri dua anak kecil bergandengan tangan. Wajah mereka tenang. Terlalu tenang. Salah satu dari mereka tersenyum, lalu menoleh ke belakang, seolah memanggil seseorang yang belum keluar dari bayangan.
Di belakang mereka, sesosok laki-laki dewasa berdiri setengah tertutup gelap. Pakaiannya sobek. Tubuhnya kaku. Wajahnya… wajah Nanda.
Tidak melambaikan tangan. Tidak berteriak minta tolong. Hanya berdiri diam, seperti bagian dari hutan itu sendiri.
Saat Seryl berkedip, mereka menghilang.
Beberapa bulan kemudian, seorang warga desa ditemukan meninggal di dapurnya. Tubuhnya terbelah rapi. Tungku masih menyala. Dan di lantai tanah, ada jejak kaki kecil yang mengarah keluar rumah.
Menuju hutan.
Sejak hari itu, warga sepakat satu hal.
Gubuk itu memang kosong.
Yang tinggal di sana bukan lagi manusia, perlahan masyarakat desa mulai pindah karena takut melakukan larangan yang akan membuat hutan marah lalu memberi pelajaran kepada korban dengan cara membelah tubuh korban.
-Cerpen ini saya dapatkan dari mimpi saya, mimpi di awal tahun yang menarik sehingga saya membuatkan cerpennya..