Hujan turun tanpa tergesa, seolah memahami bahwa beberapa hal tidak pernah meminta untuk diselesaikan sekaligus. Ia jatuh satu per satu, membasahi tanah pemakaman yang lengang, meresap ke sela rumput, lalu menghilang tanpa suara. Tidak ada gemuruh, tidak ada petir. Hujan hanya bekerja dengan caranya sendiri: diam, sabar, dan pelan-pelan mengubah warna dunia.
Di antara nisan-nisan yang berdiri seperti kalimat pendek, Aluna berdiri diam. Ia membiarkan hujan menempel di tubuhnya sebagaimana kenangan menempel di ingatan tanpa diminta, tanpa izin. Sepatunya mulai basah, ujung celananya tampak menggelap, tetapi ia tidak bergerak. Tubuhnya telah lama belajar menahan hal-hal kecil, karena yang besar sudah terlalu sering runtuh dan tidak lagi meminta untuk ditangisi.
Ia datang tanpa bunga. Tangannya kosong, sebagaimana dadanya yang telah lama belajar lapang. Di hadapannya, sebongkah batu nisan memikul sebuah nama. Huruf-hurufnya masih terbaca jelas, dipahat dengan rapi, tetapi tidak lagi memanggil. Nama itu telah berpindah fungsi: dari alamat rindu menjadi penanda bahwa sesuatu pernah hidup, lalu berhenti, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
Arga Aliandra.
Aluna membaca nama itu pelan, tidak dengan suara, tidak pula sepenuhnya di dalam hati. Ia hanya membiarkannya ada, seperti hujan yang tidak menuntut untuk dihindari. Beberapa kehilangan tidak membutuhkan doa. Mereka hanya meminta diakui keberadaannya, tanpa janji akan sembuh, tanpa tuntutan agar segera dilupakan.
Tanah di sekitar makam menggelap, setia menyerap air. Rumput-rumput merunduk, dan Aluna ikut menunduk, bukan sebagai penghormatan, melainkan karena tubuhnya telah terbiasa mengikuti apa pun yang merendah. Ia berdiri cukup lama hingga hujan terasa bukan lagi sesuatu yang datang dari langit, melainkan dari dirinya sendiri, dari ingatan yang bocor perlahan, dari waktu yang tidak pernah benar-benar menutup luka.
Dulu, ia pernah percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang bisa diatur. Bahwa semua pertengkaran bisa ditunda, semua pengakuan bisa menunggu, dan semua perpisahan selalu punya kesempatan kedua. Ia percaya pada kelonggaran hari esok, pada janji yang tidak ditulis, pada keyakinan bahwa cinta selalu tahu jalan pulang. Keyakinan itu kini terasa naif, tetapi ia tidak membencinya. Ia tahu, manusia sering membutuhkan kebohongan kecil agar berani mencintai sepenuh-penuhnya.
Ia tidak tahu kapan udara berubah. Tidak ada tanda, tidak ada suara. Hanya perasaan bahwa ruang di sekitarnya melonggar, memberi jarak bagi sesuatu yang tidak sepenuhnya hadir. Seolah dunia berhenti sejenak, lalu menarik napas lebih dalam, memberi kesempatan pada hal-hal yang biasanya diabaikan untuk muncul ke permukaan.
Dari balik kabut tipis, sosok itu berdiri tidak melangkah, tidak pula tiba.
Arga.
Tidak seperti terakhir kali ia melihatnya terbaring di rumah sakit, dengan kabel-kabel yang menggantikan napas dan suara mesin yang lebih setia daripada manusia. Juga bukan seperti foto-foto lama yang warnanya mulai pudar, yang kini hanya menyisakan senyum tanpa konteks. Sosok itu hadir dalam bentuk yang paling sering disimpan ingatan: tubuh tegak, wajah tenang, dan sorot mata yang selalu seolah menunggu sesuatu selesai.
Aluna tidak terkejut. Keheranan membutuhkan jarak, dan jarak telah lama lenyap dari hubungan mereka. Sejak kematian, sejak kehilangan, sejak semua kata menjadi terlalu terlambat, jarak hanya berubah bentuk dan bukan menghilang.
“Kau masih datang,” kata Arga.
Suaranya datar, nyaris tanpa arah, seperti gema yang lupa dari mana asalnya. Tidak ada tuduhan di sana, juga tidak ada harap. Kalimat itu berdiri sendiri, sebagaimana mereka kini berdiri: saling berhadapan, tetapi tidak sepenuhnya berada di tempat yang sama.
Aluna mengangguk. Banyak hal ingin ia ucapkan tentang rasa bersalah, tentang hidup yang terus berjalan meski tidak pernah benar-benar pulih, tentang pagi-pagi yang dilalui tanpa tujuan tetapi tidak satu pun terasa mendesak. Kata-kata kehilangan urgensinya ketika tidak lagi memiliki tujuan untuk diselamatkan.
Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan oleh ruang yang tidak bisa diukur. Ketika Aluna melangkah mendekat, tanah di bawah kakinya terasa lebih lunak, seolah waktu ikut melemah, membiarkan masa lalu dan kini saling menyentuh tanpa izin.
Ia mengulurkan tangan. Jemari mereka bersentuhan dingin, bukan karena ketiadaan nyawa, melainkan karena jarak yang telah lama belajar menjadi suhu. Sentuhan itu singkat, rapuh, dan cukup untuk mengingatkan bahwa sesuatu tidak bisa dipulihkan tanpa kehilangan bentuknya.
“Kita terlambat,” kata Aluna, suaranya hampir menyatu dengan hujan yang tersisa.
Arga menatap langit. Hujan mulai menipis, cahaya senja merembes di wajahnya, membuat garis-garis tubuhnya kian samar.
“Tidak semua yang berakhir itu terlambat,” ujarnya.
“Sebagian memang tidak dimaksudkan untuk sampai.”
Kata-kata itu tidak terdengar asing. Aluna telah lama menyimpannya, hanya tidak pernah berani mengucapkannya sendiri. Ia teringat percakapan yang tertunda, pertengkaran yang dibiarkan menggantung, dan keyakinan bahwa selalu ada esok hari dan keyakinan yang menuntut harga paling mahal.
“Aku menyimpanmu,” katanya pelan.
“Di tempat yang tidak pernah selesai.”
Arga tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Senyum yang tidak meminta untuk dipertahankan.
“Itulah sebabnya sayang, kenapa aku tidak bisa tinggal.”
Senja bergerak cepat, seolah ingin menghabiskan apa pun yang masih tertinggal. Tubuh Arga mulai memudar, bukan seperti sesuatu yang direnggut, melainkan seperti tulisan yang dihapus perlahan agar halaman lain tidak ikut terluka.
“Aku bukan rumah,” katanya.
“Aku hanya jeda.”
Hujan berhenti sepenuhnya. Udara menjadi jernih, terlalu jernih, seperti setelah sebuah pengakuan yang tidak bisa ditarik kembali. Dalam keheningan yang tidak sempat dihitung, Arga lenyap tanpa suara, tanpa sisa, tanpa permintaan untuk dikenang.
Aluna berdiri sendiri.
Ia tidak menangis. Tangis membutuhkan keyakinan bahwa sesuatu masih bisa dikembalikan, dan keyakinan itu telah lama dilepaskannya. Ia memandang batu nisan sekali lagi, lalu menyadari bahwa yang tertanam di sana bukanlah Arga, melainkan seluruh kalimat yang tidak pernah selesai mereka ucapkan.
Ia berbalik dan melangkah pergi. Malam turun dengan tenang, menutup pemakaman seperti buku yang akhirnya ditutup setelah dibaca berulang kali. Di belakangnya, hujan tidak turun lagi, seolah tugasnya telah selesai.
Aluna berjalan tanpa menoleh, membawa satu pemahaman yang tidak pernah ia cari: bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki, dan kehilangan tidak selalu berarti kalah. Beberapa nama memang tidak lagi diucapkan, bukan karena dilupakan, melainkan karena telah menjadi bagian dari napas itu sendiri.
Di sanalah cinta tinggal: tidak di masa lalu, tidak di masa depan, melainkan di jeda yang akhirnya belajar dilewati.
Dan di sepanjang jalan pulang, Aluna menyadari sesuatu yang selama ini luput: bahwa hidup tidak meminta ia melupakan, hanya menuntutnya berjalan. Bahwa ingatan tidak selalu harus diselesaikan, cukup diberi tempat agar tidak melukai hari ini. Ia melangkah lebih ringan, meski tidak sepenuhnya bebas.
Event : GC RUMAH MENULIS
GENRE : Cerpen Sastra (Romantis Tragis)