Tidak semua hujan turun untuk menyelamatkan.
Di tanah utara Benua Ralindra, hujan sering datang tanpa aba-aba. Kadang hanya rintik yang membuat debu lengket di telapak kaki, kadang badai yang menghapus jejak perjalanan seolah dunia menyesal pernah dilewati manusia. Namun di Lembah Karsal, hujan selalu dianggap pertanda baik, hadiah dari langit bagi siapa pun yang cukup beruntung berada di bawahnya.
Aren tidak sepenuhnya percaya itu.
Ia berdiri di tepi lembah, menggenggam tongkat kayu berujung besi yang telah menemaninya sejak meninggalkan Desa Halimun. Tanah di bawah sepatunya keras, retak-retak seperti kulit tua yang menolak disentuh. Jika ia menggali di sini, butuh waktu berjam-jam hanya untuk menemukan lapisan tanah yang lebih lunak. Namun Aren, justru berlutut, menancapkan tongkatnya, dan mulai mengorek.
Tangannya kotor. Kukunya hitam. Nafasnya berat.
Di atas kepalanya, awan mengumpul.
“Aren!” teriak seseorang dari kejauhan. “Hujan akan turun! Turunlah ke lembah!”
Aren tidak menoleh. Ia terus menggali.
Bukan karena keras kepala. Bukan karena bodoh. Ia hanya tahu satu hal, tanah di lembah memang subur, tapi akar yang tidak memilih tempat tumbuhnya sendiri akan mudah dicabut.
Ia telah belajar itu dengan cara yang menyakitkan.
Aren berasal dari desa yang kini tidak ada di peta.
Desa Halimun pernah berdiri di perbatasan hutan dan gunung, tempat para penambang kecil hidup berdampingan dengan penenun dan petani lumut. Mereka tidak kaya, tapi mereka tumbuh. Setiap rumah memiliki pohon sendiri, pohon keluarga yang akarnya ditanam saat seorang anak lahir.
Pohon Aren mati pada usia tujuh tahun.
Bukan karena hama. Bukan karena cuaca. Melainkan karena hujan emas.
Suatu hari, langit di atas Halimun berubah warna. Awan berkilau, dan tetesan yang jatuh bukan air, melainkan serbuk emas bercahaya. Orang-orang bersorak. Mereka menari di bawah hujan, membiarkan kekayaan membasahi kulit dan atap rumah.
Mereka berhenti menanam. Berhenti menggali. Berhenti merawat pohon-pohon mereka.
Mengapa harus menunggu akar tumbuh, jika emas turun sendiri?
Beberapa bulan kemudian, tanah di Halimun runtuh.
Emas tidak menyatu dengan tanah. Ia membuatnya rapuh. Rumah roboh, pohon tercabut, dan desa perlahan tenggelam ke dalam lubang kekayaan yang mereka puja.
Aren selamat karena ibunya menyeretnya lari ke hutan sebelum tanah amblas sepenuhnya. Tapi pohon keluarganya, akar hidup yang seharusnya tumbuh bersamanya mati tertimbun kilau.
Sejak hari itu, Aren bersumpah pada dirinya sendiri:
ia tidak akan bergantung pada hujan, seindah apa pun kilau yang dibawanya.
Perjalanan Aren menuju Lembah Karsal bukanlah kebetulan.
Karsal dikenal sebagai tempat “kesempatan kedua”. Konon, siapa pun yang gagal di tempat lain akan menemukan jalan baru di lembah itu. Airnya menyembuhkan. Tanahnya subur. Udara di sana membuat orang-orang berani bermimpi lagi.
Namun untuk mencapai Karsal, seseorang harus melewati Jalur Akar, jalan yang sempit di antara tebing dan hutan purba, tempat akar-akar raksasa menjalar seperti ular tidur. Banyak yang tersesat. Banyak yang menyerah.
Aren tidak.
Ia berjalan pelan, menghindari akar yang bisa bergerak sendiri jika diinjak sembarangan. Malam hari ia tidur bersandar pada batang pohon tua yang kulitnya kasar, seolah menyimpan ribuan cerita gagal dan berhasil.
Di tengah jalur itu, ia bertemu Kael.
Kael adalah seorang pemuda dengan mantel biru cerah dan sepatu yang terlalu bersih untuk jalur sekejam itu. Senyumnya mudah, matanya selalu melihat ke depan, bukan ke bawah.
“Kau juga menuju Karsal?” tanya Kael, seolah mereka sedang berjalan di pasar, bukan di jalur yang bisa menelan orang hidup-hidup.
Aren mengangguk singkat.
“Mereka bilang hujan akan turun selama tiga hari di sana,” kata Kael penuh semangat. “Hujan peluang. Hujan perubahan.”
Aren mendengus pelan. “Hujan tidak mengubah apa pun. Ia hanya mempercepat apa yang sudah ada.”
Kael tertawa. “Kau terlalu serius untuk seseorang yang ingin memulai ulang.”
“Aku tidak ingin memulai ulang,” jawab Aren. “Aku ingin melanjutkan.”
Di hari ketiga perjalanan, hujan benar-benar turun.
Bukan hujan biasa.
Airnya hangat, berkilau samar, dan saat menyentuh kulit, ia meninggalkan sensasi ringan—seperti harapan yang baru diingat kembali. Kael berdiri di bawahnya dengan tangan terbuka, membiarkan hujan membasahi wajahnya.
“Rasakan!” serunya. “Ini dia! Kesempatan baru!”
Aren melangkah ke bawah pohon besar, berteduh. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan sekop kecil, dan mulai menggali tanah di dekat akar pohon.
Kael memandangnya heran. “Kenapa kau menggali saat hujan seperti ini?”
“Karena inilah saat tanah paling jujur,” jawab Aren. “Ia lembek. Ia memperlihatkan kelemahannya.”
“Dan kau memilih bekerja, bukan bermimpi?”
Aren berhenti sejenak. Menatap tanah yang mulai terbuka.
“Aku memilih menyiapkan tempat bagi mimpi untuk bertahan.”
Kael tidak mengerti. Ia melangkah pergi, tertawa, dan berlari ke arah lembah, mengejar hujan yang jatuh semakin deras.
Aren tetap menggali.
Lembah Karsal indah, seperti janji yang ditepati.
Sungai berkilau membelah tanah hijau. Rumah-rumah kecil berdiri rapi, dan orang-orang menyambut pendatang dengan senyum yang terlalu yakin. Di tengah lembah berdiri Pohon Langit, pohon raksasa yang daunnya menyentuh awan, akarnya tidak terlihat.
“Semua kesempatan berawal dari sini,” kata seorang tetua lembah kepada Aren. “Jika kau mau, hujan akan memberimu apa pun.”
Aren menatap pohon itu lama.
“Akar pohon ini di mana?” tanyanya.
Tetua tersenyum. “Tidak perlu akar, jika langit sendiri yang menopang.”
Jawaban itu membuat dada Aren terasa sesak.
Kael, yang kini berpakaian lebih mewah, menepuk bahu Aren. “Lihat? Kau tidak perlu terus menggali. Angkat kepalamu. Langit akhirnya berpihak.”
Aren tidak menjawab.
Malam itu, hujan turun lagi. Lebih deras. Lebih bercahaya.
Orang-orang keluar rumah, menari, tertawa, menerima berkah. Aren keluar sendirian ke pinggir lembah, membawa sekopnya. Ia mencari tanah yang keras, yang belum disentuh siapa pun.
Saat hujan menyentuh punggungnya, ia tidak menyingkir. Ia membiarkannya turun, meresap, sementara tangannya terus menggali ke bawah.
Tanah itu menyimpan sesuatu.
Bukan emas. Bukan cahaya.
Aren menemukan akar.
Akar tua, keras, retak, tapi hidup. Akar yang tumbuh ke bawah, jauh sebelum Pohon Langit berdiri. Akar yang bertahan meski tanah di sekitarnya berubah berkali-kali.
Saat Aren menyentuhnya, hujan di sekitarnya berhenti sejenak.
Langit tidak marah. Hanya diam.
Tanah bergetar pelan, seolah bernapas lega.
Di kejauhan, Pohon Langit mulai goyah.
Kael berlari menghampiri Aren, wajahnya panik. “Apa yang kau lakukan?! Pohon itu—”
“—tidak pernah berdiri sendiri,” potong Aren tenang. “Ia hanya meminjam langit. Tapi dunia tidak bisa hidup dari pinjaman selamanya.”
Hujan turun sekali lagi, kali ini berbeda. Tidak berkilau. Tidak hangat. Hujan biasa.
Namun tanah menyerapnya dengan tenang.
Akar tua itupun mulai bercabang.
Pohon Langit akhirnya runtuh. Tidak menghancurkan lembah, hanya jatuh seperti daun tua yang waktunya selesai. Orang-orang ketakutan, lalu bingung, lalu perlahan menyadari: tanah tetap ada. Sungai tetap mengalir.
Dan dari tempat Aren menggali, tunas kecil muncul.
Bukan pohon yang menjulang. Bukan simbol megah.
Hanya tanaman sederhana dengan akar yang dalam.
Kael berdiri diam, memandangi tangannya yang kosong. “Jadi… kesempatan baru itu bukan hujan?”
Aren tersenyum tipis. “Hujan hanya datang. Kesempatan baru adalah apa yang kita lakukan saat hujan turun.”
Ia menancapkan sekopnya ke tanah, berdiri, dan untuk pertama kalinya menatap langit tanpa curiga.
Di Lembah Karsal, orang-orang mulai belajar menggali lagi.
Dan jauh di bawah tanah, akar-akar lama dan baru saling menyentuh, tumbuh tanpa perlu disorot langit.
Event by : GC Rumah Menulis
Genre : Petualangan