Rumah Kos yang Aneh
Saat Rina menekan bel pintu rumah kos Kuroyuri-so, dia langsung merasakan angin dingin menyelinap lewat celah bajunya. Padahal cuaca di Surabaya tengah panas menyengat. Pintu terbuka sendiri tanpa suara, seolah ada yang mengundangnya masuk.
"Sudah lama tidak ada penghuni kamar 303, ya Bu Wati?" tanya Rina sambil menatap koridor yang sedikit kelam.
Kepala kos yang sedang menggosok piring hanya menggeleng perlahan. "Yang mau sewa selalu kabur sebelum seminggu. Katanya ada yang mengganggu... tapi kamu kan anak muda sekarang, tidak percaya hantu kan?"
Rina hanya tersenyum. Sebagai mahasiswa sastra yang suka menulis cerita horor, dia malah merasa penasaran. Selain itu, harga sewa kamar itu murah sekali—hanya separuh dari kamar lain.
Ketika membuka pintu kamar 303, dia terkejut melihat kamar yang sangat rapi, bahkan ada bunga mawar merah yang masih segar di atas meja. "Wah, sih bu Wati, bilang aja sudah dirapikan. Kok bilang kosong?"
Tanpa menjawab, dia mulai menyebraskan barang-barangnya. Sampai suara lembut terdengar dari belakangnya:
"Maaf... bunga itu untukmu ya?"
Rina menoleh cepat dan melihat sosok pria muda dengan rambut hitam bergelombang, mengenakan kimono hitam yang sedikit lusuh. Tapi yang paling aneh—tubuhnya sedikit tembus pandang!
"AAAAHHHHH HANTU!!!" teriak Rina sambil mengambil bantal sebagai perisai.
Pria itu terkejut dan melompat mundur. "Jangan marah dong! Aku cuma mau bilang, kalau kamu tidak suka mawar, aku bisa ganti dengan melati lho!"Kenalan dengan Hantu Cantik
Setelah beberapa menit berteriak dan berlari bolak-balik di kamar, akhirnya mereka bisa duduk dan berbincang dengan tenang. Namanya Hiroshi, hantu yang sudah tinggal di kamar itu selama 50 tahun.
"Aku bukan hantu jahat kok," ujar Hiroshi dengan wajah sedih. "Cuma saja aku belum bisa pergi karena ada sesuatu yang belum selesai."
"Apa yang belum selesai? Mungkin aku bisa bantu?" tanya Rina, yang sudah mulai tidak takut lagi. Malah dia melihat Hiroshi cukup tampan—meskipun sebagai hantu.
Hiroshi mengeluarkan surat kuno dari dalam kimononya. "Aku mau mengirimkan surat cinta ini ke kekasihku dulu, tetapi sebelum sempat aku mengalami kecelakaan dan meninggal. Sekarang aku tidak tahu di mana dia berada."
Rina mengambil surat itu dengan hati-hati. Alamatnya masih jelas: Jl. Kenangan No. 12, Surabaya. "Wah, alamatnya masih ada lho! Bisa kubantu cari dia!"
"Apa benar? Terima kasih banyak!" seru Hiroshi dengan mata yang bersinar. Tapi tiba-tiba dia meremas perutnya dan mengerang kesakitan.
"Apa kamu sakit?" tanya Rina khawatir.
"Wahai Tuhan, aku lupa kalau hantu tidak bisa merasa senang terlalu banyak—tubuh akan jadi tembus pandang lebih parah!" ujar Hiroshi sambil tertawa canggung, sampai bagian badannya mulai menghilang sedikit-sedikit.
Rina tidak bisa menahan tawa. "Hahaha hantu yang ketawa jadi menghilang? Ini cerita apa ya!"Petualangan Mencari Kekasih Lama
Hari berikutnya, Rina pergi ke alamat yang tertulis di surat. Ternyata rumah itu sekarang menjadi toko buku tua yang bernama Toko Buku Kenangan.
Ketika masuk, dia disambut oleh nenek tua yang ramah dengan rambut putih keriting. "Ada yang bisa saya bantu, nak?"
"Maaf bu, apakah bu tahu seseorang bernama... Yukiko?" tanya Rina sambil menunjukkan nama yang tertulis di surat.
Nenek itu langsung menangis bahagia. "Yukiko adalah nama saya! Sudah lama tidak ada yang menyebutkan nama itu dengan cara seperti ini..."
Rina menunjukkan surat dari Hiroshi. Ketika nenek Yukiko membacanya, tangisan dia semakin deras tapi wajahnya penuh kebahagiaan.
"Aku selalu menunggu suratnya Hiroshi," ujarnya sambil menyeka air mata. "Aku juga sudah menikah dan punya cucu sekarang, tapi cinta pertama itu selalu ada di hati. Aku selalu berharap bisa bilang padanya bahwa aku juga mencintainya dulu."
Rina mengambil ponsel dan mengambil foto nenek Yukiko. "Bolehkah aku mengambil fotomu bu? Supaya Hiroshi bisa melihatmu sekarang?"Kisah yang Sudah Waktunya Berakhir
Ketika kembali ke kamar, Rina menunjukkan foto nenek Yukiko kepada Hiroshi. Wajah hantu itu penuh emosi—senang tapi juga sedikit sedih.
"Dia sudah bahagia ya... itu yang penting," ujar Hiroshi dengan suara lembut. "Aku sudah bisa tenang sekarang. Akhirnya bisa menyelesaikan urusan duniawi."
Tiba-tiba tubuh Hiroshi mulai bersinar dengan cahaya keemasan. Rina tiba-tiba merasa sedih tanpa tahu mengapa.
"Kamu akan pergi ya?" tanya dia dengan suara sedikit menggigil.
Hiroshi mengangguk dan mendekat ke Rina. "Terima kasih sudah membantuku. Sebenarnya... selama kamu tinggal di sini, aku sudah mulai merasa sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelum ini. Rasanya seperti... aku mau selalu ada di sisi kamu."
Rina merasa wajahnya menjadi panas. "Aku juga... mulai merasa tidak nyaman kalau kamu tidak ada di kamar ini."
Hiroshi tersenyum manis. "Tapi aku adalah hantu, kamu manusia. Kita tidak bisa bersama."
Saat itu, Rina tiba-tiba meraih tangan Hiroshi—dan mengejutkannya, tangan itu bisa diraba! "Tapi tanganmu bisa diraba lho! Kok bisa?"
"Wah, mungkin karena aku sudah hampir selesai di dunia ini jadi bisa menyentuh manusia sebentar!" seru Hiroshi dengan mata bersinar.
Mereka saling melihat mata, dan sebelum Hiroshi benar-benar pergi, mereka saling mencium sebentar. Rasanya seperti mencium awan yang lembut dan hangat.
Setelah itu, cahaya di tubuh Hiroshi semakin terang dan dia perlahan menghilang, dengan suara terakhirnya:
"Jangan lupa tulis cerita tentang kami ya, penulis cantik!"Akhir yang Tidak Terduga
Beberapa bulan kemudian, Rina sudah menyelesaikan ceritanya dan sedang duduk di taman kos sambil meninjau naskahnya. Tiba-tiba ada suara dari belakangnya:
"Maaf, apakah kamu Rina? Saya baru pindah ke kamar 304. Nama saya Hiro—Hiroshi Sato."
Rina menoleh dan melihat pria muda tampan dengan rambut hitam bergelombang, mengenakan baju kantor modern. Wajahnya persis sama dengan hantu yang pernah dia temui!
"K-Kamu... Hiroshi?" ujar Rina terkejut.
Pria itu tersenyum manis. "Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa sudah mengenalmu dari dulu. Bolehkah aku membawamu makan malam sebagai kenalan pertama?"
Rina tidak bisa menahan senyumnya. Mungkin cinta memang bisa menemukan cara sendiri, bahkan setelah lintasan waktu dan dunia yang berbeda.
Sambil berdiri dan mengikuti pria itu, Rina berbisik perlahan: "Baiklah, hantu yang manis (◠‿◕)