Pria dengan tinggi hampir 170 centi meter itu turun dari sebuah Jeep keluaran lama. Dengan gagahnya memasuki sebuah halaman rumah yang tidak terlalu luas itu.
Hingga langkahnya sempat terhenti dengan atensi yang mengarah ke rak sepatu.
'Hm, ada dua sepatu Keds. Yang satunya lagi punya siapa ya? Setahuku Kyra tidak memiliki model sepatu yang satunya,' batin pria itu.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia pun segera masuk ke rumah itu. Kehadirannya disambut dengan sepinya ruangan tamu. Dia kembali terheran dengan suasana rumah yang tidak seperti biasanya.
'Semua orang pada kemana ya?' gumamnya.
Kala kakinya akan melangkah mencari penghuni rumah, pria itu dikejutkan dengan lengkingan nyaring seorang perempuan paruh baya.
"LUCAS!!! KAPAN KAU PULANG???"
Pria itu tersentak hingga dia melompat kecil beberapa centi. Kala menoleh ke sumber suara, dia mulai bernafas lega sembari mengusap-usap dadanya.
"Ya ampun, Ma. Suaranya bisa diturunin beberapa oktaf gak? Kuping aku bisa pecah ntar," kesal pria itu yang panggil dengan nama Lucas itu.
Sementara sang mama yang diomelin Lucas hanya bisa nyengir kuda.
"Heheheee..... Maaf sayang. Habisnya kamu pulang tanpa ngasih tahu Mama. Jadi ya Mama cukup kaget tiba-tiba kamu udah ada di rumah," terang sang mama.
Lucas hanya menghela nafas dan berkata, "Gimana aku mau ngasih tahu, sementara Mama dihubungi saja tidak bisa. Pesanku tidak dibalas, telepon juga gak diangkat. Dan gak ada satupun yang bisa aku hubungi dari kalian."
Kala itu, Lucas benar-benar menumpahkan semua kekesalannya itu.
"Maaf ya, Sayang."
"Memangnya beberapa jam yang lalu kalian kemana? Kenapa tak ada satupun yang bisa aku hubungi? Dan kenapa di rak sepatu ada sepasang sepatu Keds yang tidak ku kenal? Sepatu itu punya siapa? Aku yakin itu bukan punyanya Kyra," tanya Lucas beruntun layaknya kereta.
Raut wajah Mama nampak kebingungan. Dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana pada putranya itu.
"Kamu, ikut Mama sekarang!" ajak Mama sembari menarik lengan panjang putranya. Sementara Lucas hanya pasrah saja mengikuti mamanya.
Tak lama, sampailah mereka di depan sebuah pintu kamar yang terbuka. Lalu sang mama menunjuk ke arah sebuah ranjang, yang mana sedang terbaring di sana seorang gadis dengan hijab panjang yang dikelilingi oleh Kyra dan Kakek Sidiq.
Pria dengan tubuh jangkung itu sedikit bingung dan mulai mendekati adik sepupunya dan juga kakeknya itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Kyra dan menoleh. "Eh Kak Lucas. Kapan pulang, Kak?" seru Kyra sembari menyalami kakaknya itu.
"Barusan. Kalau boleh tahu, dia siapa?" tanya Lucas yang sebelumnya juga menyalami kakeknya dan menunjuk ke arah gadis yang nampak terbaring lemah itu.
Tanpa menjawab pertanyaan dari salah satu cucunya itu, Kakek Sidiq justru menghampiri Lucas dan meminta pria itu untuk mengikutinya.
Walaupun masih dilanda kebingungan, Lucas tetap mengikuti kakeknya itu. Hingga sampailah mereka di dalam sebuah ruangan koleksi barang-barang antik milik Kakek Sidiq.
Lalu Kakek Sidiq nampak berhenti di depan sebuah etalase. Lucas pun juga mengikutinya.
"Lihatlah busur kecil itu!" titah Kakek Sidiq sembari menunjuk ke etalase di hadapannya.
Dengan sedikit kebingungan, Lucas ikut mengarahkan tatapannya ke arah yang ditunjuk kakeknya.
"Tidak ada yang berubah dengan busur itu. Lalu, apa masalahnya?" bingung Lucas.
Kakek Sidiq hanya menghela nafas berat. Pria tua itu pun menatap cucu laki-lakinya dengan tatapan serius.
"Busur itu sudah menemukan pemiliknya," jelas Kakek Sidiq.
Bola mata Lucas mulai membulat sempurna dan menatap sang kakek tak percaya.
"Kakek yakin? Memangnya siapa pemiliknya dan dimana dia sekarang?" tanya Lucas tak percaya.
"Huh. Dia adalah seorang gadis kecil sahabatnya Kyra dan dia sekarang sedang terbaring di kamar tadi," jawab Kakek Sidiq.
"Jadi.... Gadis..... Itu .... Tapi, bagaimana mungkin?" jawab Lucas tak percaya.
"Semuanya akan menjadi mungkin kalau itu sudah menjadi takdir. Dan sekarang tugasmu, adalah menjaga gadis itu sampai dia siap menerima busur itu,"
"Heh.... Kenapa harus aku?" protes Lucas.
"Karena hanya kamu satu-satunya yang memiliki kemampuan setara panglima. Dan hanya kamu yang bisa menjaganya dari pasukan darkness itu," final Kakek Sidiq.
"Tapi....."
"Tak usah banyak protes. Sudahlah, Kakek akan kembali ke kamar buat ngecek kondisinya. Barangkali dia sudah sadar," ucap Kakek Sidiq yang berlalu begitu saja.
Sementara Lucas hanya terdiam sembari memikirkan permintaan kakeknya itu.
'Iya sih. Terakhir kali bahkan Panglima Rain mengorbankan dirinya untuk pria mengerikan itu,' batin Lucas.
Lalu, siapakah Lucas dalam episode kehidupan Rain?