"Emely...." Panggil Kyra dengan nada manjanya. Namun hanya dibalas deheman kecil dari sang empunya.
"Lo lagi sibuk ya?" Pertanyaan basa-basi itu keluar, berharap yang ditanya mau merespon baik.
Tapi sepertinya apa yang dia harapkan sangat jauh berbeda. Dimana Emely hanya membuang nafasnya kasar.
"Lo gak liat gue lagi ngerjain tugas? Kenapa? Lo butuh sesuatu ?" ketus Emely.
"Galak bener bestie. Ko Lo tau kalau gue butuh sesuatu?" tanya Kyra pura-pura polos.
"Udah hafal," celetuk Emely. "Udah cepetan. Lo mau apa?"
"Lo masih inget gak kakek gue yang pernah gue ceritain ke Lo?" tanya Kyra.
"Terus!!!"
"Besok dia mau pulang ke rumah Tante gue. Jadi.... Lo mau ya nginep di tempat gue?" pinta Kyra dengan puppy eyes andalannya.
"Heh???!!!!"
Niat hati mau protes, tapi melihat matanya Kyra yang sangat memohon membuat Emely tidak tega. Kembali Emely menghela nafas kasar.
"Ok. Tapi cuma sehari ya," ucap Emely.
Kyra langsung memeluk tubuh Emely dengan sangat erat. Sampai sahabatnya itu tersentak kaget.
"Thank you bestie. Lo emang yang terbaik," ucap Kyra senang.
Waktu tanpa terasa bergulir pergi. Tepat kala mentari hampir menuju peraduannya, Emely dan Kyra pulang bersama ke tempat tantenya Kyra.
Kala waktu hampir menunjukkan malam, mereka pun sampai di tempat tujuan. Keduanya keluar dari taxi itu tepat di halaman sebuah rumah. Bangunan yang cukup kokoh itu nampak seperti rumah-rumah lain pada umumnya. Tidak terlalu mewah, tetapi cukup nyaman untuk ditinggali.
Mereka pun mulai berjalan menuju rumah itu dan tak lupa mengucap salam dan mengetuk pintu.
"Assalamualaikum," sahut Kyra.
Tak lama, pintu itu mulai terbuka dan nampak wanita paruh baya berdiri di sana. Nampak jelas, wanita itu tersenyum hangat dan menyambut kedatangan mereka.
"Waalaikumsalam. Eh, Kyra. Udah pulang, Nak?" sambut Tantenya Kyra.
Sebelum menjawab, Kyra lebih dulu menyalami tantenya dan disusul Emely yang ikut menyalami beliau.
"Udah Tante. Oh ya, Kakek udah datang belum?" tanya Kyra tiba-tiba.
"Udah. Sekarang kakekmu sedang berada di taman belakang," jawab Tantenya Kyra.
"Oh, baiklah. Em, ayo ikut gue!" ajak Kyra langsung menggandeng tangan Emely.
"Eh... Eh.... Tunggu!" Suara itu menginterupsi Kyra sehingga langkahnya terhenti sejenak.
"Kenapa, Tante?" bingung Kyra.
"Gadis di samping kamu itu.... Dia yang akan menemanimu malam ini?" tanya Tantenya Kyra tiba-tiba.
Kyra hanya tersenyum simpul dan menjawab, "Iya. Namanya Emely. Ya udah ya, Tante. Aku ingin menemui kakekku. Aku duluan."
Kyra berlalu begitu saja sambil masih menarik lengan Emely. Sementara itu sang Tante hanya merenung sembari memikirkan sesuatu.
'Gadis itu, kenapa wajahnya begitu mirip dengan panglima perempuan zaman dulu yang pernah ditunjukkan ayah ya?' gumamnya membatin.
***
Setelah menariknya cukup lama, Kyra mulai melepaskan genggaman tangannya dari Emely. Kyra pun segera berlari kecil dan menghampiri seorang pria tua yang tengah duduk santai di sebuah sofa di teras taman itu.
Dari penglihatan Emely, kedua orang itu terlihat begitu akrab. Selayaknya seorang cucu yang sangat merindukan kakeknya.
Terlalu asyik memperhatikan kehangatan keluarga sahabatnya, Emely sampai tidak sadar kalau dia sudah dipanggil berkali-kali oleh Kyra. Emely baru tersadar saat Kyra memanggilnya dengan menepuk pundaknya.
"Heh, Lo!!! Gak usah bengong gitu. Kakek gue juga termasuk kakek Lo," ucap Kyra.
"Ah, iya," angguk Emely dan segera mengikuti langkah Kyra menuju sang kakek.
Tak lupa, Emely punyalami kedua tangan kakek itu. Sementara itu, sang kakek nampak terkejut kala melihat dengan jelas raut wajah Emely.
'Panglima Rain??? Bagaimana dia bisa ada di sini?' batinnya.