My Poor Husband

My Poor Husband

Author:ErKa

Ch 1 - Aku Tidak Berdaya

Tia menatap neneknya dengan mulut ternganga. Rasanya masih tidak percaya dengan pendengarannya

sendiri.

“Apa nek?? Tia harus nikah dengan siapa?”

Nenek menghela nafas, sepertinya kurang sabar menghadapi cucunya.

“Ndu, ini demi kebaikanmu. Nenek sudah tua, sudah tidak bisa menemanimu selamanya.

Kamu butuh orang yang bisa membimbing dan melindungimu dalam jangka waktu yang

lama”

“Tia bisa melindungi diri sendiri nek. Tia tidak butuh orang lain dalam hidup Tia.

Yang Tia butuhkan hanya nenek.” Tia berjalan mendekati neneknya, memeluknya sembari

terisak.

“Nek, jangan paksa Tia Nek. Please…” Tia terisak. Sang nenek memeluk cucunya sembari

mengusap kepalanya.

“Semua sudah nenek tentukan Ndu. Tidak bisa nenek batalkan. Rizal laki-laki yang baik

ndu. Dia akan menjadi suami yang baik bagimu. Pekerjaannya mungkin tidak sesuai

keinginanmu, tapi laki-laki baik tidak dipandang dari pekerjaannya kan?”

“Tapi nek…” Tia terdiam. Tidak berani melanjutkan kata-katanya. Dia tidak habis

pikir, kenapa neneknya tega menikahkan dirinya dengan seorang buruh bangunan??

Bukannya mau merendahkan profesi orang, tapi dirinya lulusan S1, bekerja di

bank pemerintah. Setidaknya dirinya dapat pasangan seprofesi kan?? Bukan malah

yang jauh dibawah dirinya, pikir Tia.

Tia adalah seorang anak yatim piatu, dia tidak tahu siapa orang tuanya. Kata orang,

waktu dia masih bayi ibu kandungnya meletakkannya didepan pintu wanita paruh

baya (wanita yang telah dianggap sebagai neneknya sekarang). Nenek adalah

seorang janda yang sangat berkecukupan. Suaminya meninggalkan banyak warisan

untuknya. Malangnya, dalam pernikahan tersebut nenek tidak dikarunia seorang

putra satu pun, sehingga ketika suaminya meninggal dia harus hidup sendiri

dirumah warisan almarhum suaminya. Kedatangan Tia yang tidak di undang dianggap

sebagai hadiah Tuhan untuknya. Nenek menyayanginya seolah-olah dia anak plus

cucu sendiri.

Tia menatap neneknya, dia berpikir akan bagaimana hidupnya bila tidak bertemu

dengannya. Walaupun ia tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dan ibu,

tapi kasih sayang yang diberikan nenek lebih dari cukup untuk mewakili semua

perasaan itu.

“Nek…nenek beneran ingin Tia nikah dengan laki-laki itu?? Apa tidak ada cara lain

yang bisa Tia lakukan untuk membahagiakan Nenek??”

“Tidak ada Ndu, Nenek hanya ingin kamu menikah dengan Rizal. Dengan begitu Nenek akan

merasa sangat lega karena telah menitipkanmu ditangan dia”

“Tapi Nek, pekerjaan laki-laki itu dibawah pekerjaanku. Apa nantinya dia tidak akan

merasa minder memiliki istri yang memiliki pekerjaan lebih bagus dari dirinya?”

Nenek tersenyum mendengar berbagai alasan yang dilontarkan Tia. Dengan sabar nenek

menjawab.

“Ndu, kalau laki-laki itu merasa minder dengan menikahimu maka dari awal dia juga

tidak akan pernah mengajukan lamaran ke nenek”

“Lalu mengapa Nenek menerimanya? Apakah Nenek tidak takut dia tidak akan mampu

membahagiakan Tia? Mencukupi segala kebutuhan Tia?

“Nenek sangat yakin dengan pilihan Nenek sayang. Tia harus percaya sama Nenek. Apapun

yang Nenek lakukan semuanya untuk kebaikanmu Ndu”

Tia menghela nafas, sepertinya tidak ada satu hal pun yang dapat merubah pendirian

neneknya. Tia juga berpikir, mungkin ini saatnya dia bisa membalas semua

kebaikan neneknya. Dengan berat hati, Tia menjawab.

“Baiklah Nek, bila dengan menyetujui hal ini dapat membahagiakan Nenek maka Tia akan

setuju menikah dengan pria manapun yang nenek pilih” Tia tertunduk lesu.

“Keputusan yang bagus Ndu, sudah nenek putuskan pernikahan kalian akan dilaksanakan bulan

depan!!”