BAB 1
Hujan turun sejak sore.
Butir-butir air membasahi kaca besar ruang makan rumah keluarga Mahendra, membuat lampu-lampu kota di luar tampak seperti garis-garis cahaya yang berpendar.
Alya duduk di ujung meja makan.
Di hadapannya terdapat sepiring makanan yang hampir tidak disentuh.
Tangannya menggenggam sendok dengan lemah.
Di seberang meja, Arga masih sibuk dengan ponselnya.
Pria itu bahkan tidak mengangkat wajah sejak mereka mulai makan.
“Apa makanannya tidak enak?”
Suara Arga terdengar datar.
Alya mengangkat wajah.
“Enak.”
“Lalu kenapa tidak dimakan?”
“Aku tidak terlalu lapar.”
Arga akhirnya meletakkan ponselnya.
Tatapannya jatuh kepada Alya.
“Belakangan ini kamu sering tidak nafsu makan.”
Alya tersenyum tipis.
“Capek saja.”
“Capek?”
“Iya.”
Arga kembali menatapnya beberapa detik.
Kemudian pandangannya turun ke meja.
Hening.
Sampai suara sendok Bu Ratna, ibu Arga, terdengar dari sisi meja yang lain.
“Kalau capek, jangan terlalu banyak bekerja.”
Alya mengangguk.
“Iya, Bu.”
Bu Ratna tersenyum kecil.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
“Lagipula, sekarang seharusnya kamu lebih banyak menjaga kesehatan.”
Alya terdiam.
Ia sudah tahu arah pembicaraan itu.
Arga juga tahu.
Tetapi pria itu memilih diam.
Bu Ratna melanjutkan,
“Sudah hampir tiga tahun kalian menikah.”
Jari Alya mengencang di gagang sendok.
“Iya, Bu.”
“Teman-teman Arga yang menikah setelah kalian bahkan sekarang anaknya sudah dua.”
Alya menundukkan kepala.
“Setiap orang punya waktunya masing-masing, Bu.”
“Benar.”
Bu Ratna mengangguk.
“Tapi waktu juga tidak boleh dijadikan alasan.”
Arga menghela napas.
“Bu, jangan mulai lagi.”
“Aku hanya bertanya.”
“Tidak perlu membicarakan anak setiap makan malam.”
Bu Ratna menatap putranya.
“Justru karena kamu selalu menghindari pembicaraan ini, masalahnya tidak pernah selesai.”
Alya menatap Arga.
Untuk sesaat, ia berharap suaminya akan membelanya.
Tetapi Arga hanya diam.
Dan diamnya Arga jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata ibunya.
Bu Ratna kemudian menatap Alya.
“Kamu sudah pernah periksa ke dokter?”
Alya mengangguk pelan.
“Pernah.”
“Dan?”
“Dokter bilang kami harus bersabar.”
“Kami?”
Bu Ratna menaikkan alis.
“Kenapa menggunakan kata kami?”
Alya terdiam.
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Yang saya tanyakan adalah kamu.”
Arga mengangkat wajah.
“Bu.”
“Apa?”
“Cukup.”
“Tapi, Ga, kalau memang ada masalah, bukankah lebih baik diketahui?”
Arga tidak menjawab.
Bu Ratna kembali menatap Alya.
“Jangan-jangan memang kamu yang punya masalah.”
Sendok Alya berhenti bergerak.
Dadanya terasa sesak.
Namun ia memaksakan senyum.
“Aku akan periksa lagi, Bu.”
“Bagus.”
Bu Ratna mengangguk puas.
“Karena keluarga ini membutuhkan penerus.”
Kalimat itu membuat Alya kehilangan selera makan sepenuhnya.
Ia menatap pria yang sudah menjadi suaminya selama hampir tiga tahun.
Arga.
Orang yang dahulu berjanji akan berdiri di sampingnya dalam keadaan apa pun.
Orang yang dahulu berkata bahwa anak bukan alasan seseorang menikah.
“Aku menikahimu karena mencintaimu,” begitu kata Arga pada malam pernikahan mereka.
“Aku tidak peduli kapan kita punya anak.”
Tetapi sekarang semuanya terasa berbeda.
Setelah makan malam selesai, Alya masuk ke kamar.
Ia duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya.
Pintu kamar terbuka, Arga masuk.
Ia melepaskan jasnya dan meletakkannya di kursi.
Alya memandang melalui cermin.
“Mas.”
“Hm?”
“Mas marah?”
“Untuk apa?”
“Soal tadi.”
Arga diam.
Alya berbalik.
“Mas?”
“Tidak.”
“Aku tahu Mama sering membicarakan soal anak.”
“Dia memang begitu.”
“Mas sebenarnya ingin punya anak secepatnya?”
Pertanyaan itu membuat Arga berhenti.
Beberapa detik berlalu.
“Iya.”
Alya menundukkan kepala.
“Seberapa ingin?”
“Semua orang ingin punya anak.”
“Aku bertanya tentang Mas.”
Arga menatapnya.
“Ya. Aku ingin.”
Alya tersenyum kecil.
“Kalau ternyata aku tidak bisa?”
Arga terdiam.
Pertanyaan sederhana itu ternyata menghasilkan keheningan panjang.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat senyum Alya menghilang.
“Tidak tahu?”
“Jangan berpikir terlalu jauh.”
“Aku cuma bertanya.”
“Dan aku sudah menjawab.”
Arga berjalan menuju lemari.
Alya tetap duduk.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau ternyata aku benar-benar tidak bisa memberi Mas anak…”
Arga berhenti.
Alya menarik napas panjang.
“Apakah Mas akan meninggalkanku?”
Arga tidak segera menjawab.
Hanya ada suara hujan di luar jendela.
Kemudian pria itu berkata,
“Aku tidak tahu, Alya.”
Dua kata.
Tidak lebih.
Tetapi dua kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Alya.
Malam itu, setelah Arga tertidur, Alya masih terjaga.
Ia menatap langit-langit kamar.
Air mata mengalir perlahan dari sudut matanya.
Ia tidak menangis keras.
Tidak ingin membangunkan suaminya.
Alya hanya berbisik,
“Aku juga ingin punya anak, Mas.”
Tangannya menyentuh perutnya sendiri.
“Bukan berarti aku tidak mau.”
Ia mengusap air matanya.
“Aku cuma takut…”
Takut kehilangan satu-satunya orang yang ia cintai.
---
Dua minggu kemudian, Alya kembali menemui dokter.
Ia duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit.
Arga tidak ikut, Katanya ada rapat penting.
Padahal pemeriksaan itu seharusnya menjadi pemeriksaan mereka berdua.
Nama Alya dipanggil.
Ia masuk.
Dokter memeriksa beberapa hasil laboratorium yang dibawanya.
“Bu Alya.”
“Iya, Dok?”
“Saya ingin bertanya. Apakah suami Anda sudah pernah melakukan pemeriksaan kesuburan?”
Alya terdiam.
“Setahu saya belum.”
Dokter mengangguk.
“Seharusnya pemeriksaan dilakukan oleh kedua pihak.”
Alya tersenyum pahit.
“Saya sudah bilang kepada suami saya.”
“Dan?”
“Katanya nanti.”
Dokter menatapnya beberapa saat.
“Jangan menyalahkan diri sendiri sebelum ada hasil pemeriksaan yang jelas.”
Alya mengangguk.
“Jadi saya tidak…”
“Dari hasil yang saya lihat sejauh ini, belum ada bukti bahwa Anda tidak bisa memiliki keturunan.”
Alya membeku.
“Apa?”
Dokter tersenyum.
“Tidak ada bukti bahwa Anda mandul.”
Air mata Alya hampir jatuh.
“Jadi masih ada kemungkinan?”
“Bukan hanya kemungkinan. Secara medis, peluang itu masih ada.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya merasa sedikit lega.
Ia keluar dari ruang dokter dengan senyum kecil.
Tangannya segera meraih ponsel.
Ia ingin menghubungi Arga.
Ingin mengatakan bahwa mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Namun sebelum ia sempat menekan tombol panggil, sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenalnya.
“Jangan terlalu berharap, Alya. Arga sudah menemukan perempuan yang bisa memberinya anak.”
Alya menatap pesan itu.
Jantungnya berhenti sejenak.
Tangannya mulai gemetar.
Ia membaca pesan tersebut sekali lagi.
Kemudian sebuah foto masuk.
Foto Arga.
Bersama seorang perempuan.
Mereka sedang duduk berdua di sebuah restoran.
Terlalu dekat.
Terlalu mesra.
Alya menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Seketika semua suara di rumah sakit terasa menghilang.
Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Alya mulai memahami sesuatu.
Mungkin masalah sebenarnya bukan tentang seorang anak.
Mungkin ada seseorang yang sedang berusaha mengambil suaminya.
Dan orang itu sudah berada di antara mereka jauh sebelum Alya menyadarinya.
Alya menggenggam ponselnya erat-erat.
Air mata jatuh.
Tetapi kali ini, bukan karena takut tidak bisa memiliki anak.
Melainkan karena ia mulai takut kehilangan suaminya kepada perempuan lain.
Ia belum tahu bahwa foto itu hanyalah awal.
Ia juga belum tahu bahwa beberapa bulan kemudian, kebenaran yang jauh lebih menyakitkan akan terungkap.
Bukan Alya yang mandul.
Melainkan pria yang selama ini menyalahkannya.
...****************...