Episode 1 : Dia Bos atau seorang Tirani?
Bab 1: Kopi Pertama di Pagi Hari
Langkah kaki Maya terdengar terburu-buru menyusuri koridor berlantai marmer di lantai 42. Tangan kirinya memegang erat binder tebal berisi jadwal rapat harian, sementara tangan kanannya menggenggam segelas Americano panas tanpa gula—suhu tepat 75 derajat Celsius, persis seperti yang selalu disyaratkan oleh sang atasan.
"Selamat pagi, Maya. Pak Aris sudah datang?" bisik Siska, sekretaris divisi keuangan, saat Maya melintas di depan mejanya.
Maya menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. "Sudah. Sepuluh menit yang lalu."
Siska meringis pelan. "Semoga harimu menyenangkan. Kudengar berkas proyek Sentul dikembalikan lagi kemarin sore."
Maya hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkah. Ia mengetuk pintu kaca tebal berkaca es tiga kali sebelum memutar gagang pintu.
Di balik meja kayu mahoni besar, berdiri sesosok pria berjas hitam membalas tatapannya. Aris Pratama—CEO Pratama Group yang terkenal dingin, berjarak, dan tanpa kompromi. Katanya, pria itu tidak pernah tersenyum pada siapa pun di kantor ini selama tiga tahun terakhir.
"Kopi Anda, Pak Aris," kata Maya sopan sembari meletakkan cangkir di sisi kanan meja.
Aris tidak langsung menyentuh cangkirnya. Tatapan matanya yang tajam menatap Maya datar. "Kamu terlambat dua menit, Maya."
"Maaf, Pak. Antrean di lift tadi cukup panjang," jawab Maya menunduk sedikit.
"Saya membayar kamu bukan untuk mengantre, tapi untuk siap sebelum saya membutuhkan sesuatu. Jadwal hari ini?" tanya Aris dingin, memotong pembelaan Maya tanpa ragu.
Maya segera membuka bindernya. "Pukul sembilan ada rapat evaluasi dengan tim pemasaran. Pukul sebelas makan siang bersama investor dari Singapura di Restoran Mulia, dan pukul dua siang peninjauan lokasi di Cikarang."
Aris menggeser berkas di depannya. "Batalkan peninjauan ke Cikarang. Geser ke besok pagi. Dan minta tim pemasaran menyajikan data versi terbaru, bukan laporan setengah matang seperti kemarin."
"Baik, Pak. Segera saya urus," sahut Maya cepat.
"Satu lagi," tambah Aris saat Maya berniat berbalik menuju pintunya. "Maaf tidak pernah ada dalam kamus bisnis saya, Maya. Jadi pastikan kamu tidak mengulang keterlambatan ini."
Maya menahan napas sejenak, mengontrol emosinya, lalu mengangguk profesional. "Baik, Pak Aris. Permisi."
Bab 2: Kesalahan Kecil yang Berakhir Fatal
Suasana ruang rapat lantai 40 terasa begitu tegang. Pendingin ruangan seolah dipasang di suhu terendah. Di ujung meja, Aris menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam, memperhatikan presentasi direktur pemasaran dengan pandangan mengintimidasi.
"Jadi, target pasar kita untuk kuartal ini difokuskan pada kaum muda..."
Brak....
Aris meletakkan pulpennya cukup keras di meja. Suara itu cukup untuk membuat seluruh ruangan mendadak hening.
"Data populasi yang kamu gunakan di slide kelima itu data tahun lalu," kata Aris tenang, namun suaranya menekan. "Bagaimana bisa kita menentukan strategi kuartal ini berdasarkan analisis yang sudah kedaluwarsa?"
Direktur pemasaran itu tampak pucat. "M-maaf, Pak Aris. Berkas data pendukungnya disiapkan oleh tim asisten..."
Aris langsung memalingkan wajahnya ke arah Maya yang berdiri di dekat layar proyektor. Maya tertegun. Ia ingat betul telah memeriksa ulang angka-angka itu tadi malam. Namun saat melirik lembar cetakan di tangannya, ia menyadari lembar lampiran yang terselip adalah draf lama yang tertukar saat pencetakan cepat pagi tadi.
"Maya," panggil Aris pendek.
"Saya... mohon maaf, Pak Aris. Ada kekeliruan saat penyusunan draf akhir cetakan," kata Maya jujur, memutuskan untuk mengambil tanggung jawab sepenuhnya daripada melempar kesalahan.
Ruangan menjadi makin hening. Semua orang tahu apa akibat dari kesalahan dokumen di depan Aris Pratama.
"Ikut saya ke ruangan sekarang," tegas Aris berdiri, mengancingkan jasnya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Bab 3: Di Balik Pintu Tertutup
Maya melangkah masuk ke ruangan kerja Aris dengan jantung berdebar keras. Pria itu berdiri membelakanginya, memandang pemandangan gedung-gedung pencakar langit di luar jendela besar.
"Kenapa kamu mengambil alih kesalahan yang bukan sepenuhnya milikmu?" tanya Aris tiba-tiba, tanpa membalikkan badan.
Maya terkejut. "Pak?"
Aris berbalik, melipat kedua tangannya di dada. "Saya tahu draf itu diserahkan oleh tim data sejam sebelum rapat. Kamu hanya punya waktu lima menit untuk mencetaknya."
"Tetapi tugas saya sebagai asisten adalah memastikan semua berkas yang sampai ke tangan Anda sudah benar, Pak," jawab Maya mantap. "Maaf, bos besar. Saya kurang teliti."
Aris berjalan mendekat, menghentikan langkahnya hanya beberapa meter dari Maya. Tatapannya tidak semarah saat di ruang rapat tadi. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di matanya—hal yang jarang sekali terlihat.
"Kamu selalu mengucapkan kata 'maaf' dengan sangat mudah," ujar Aris pelan. "Di dunia bisnis, kata itu tidak menyelesaikan masalah."
"Saya mengerti, Pak. Saya siap menerima sanksi atau teguran tertulis."
Aris diam sejenak, mengamati ketegasan di wajah asistennya itu. Maya tidak menangis atau gemetar seperti karyawan lain yang biasa ia tegur. Ada ketahanan yang berbeda dari wanita di depannya ini.
"Sanksimu sederhana," kata Aris akhirnya. Suaranya melunak sedikit. "Lembur malam ini. Dampingi saya menyusun ulang seluruh analisis data untuk presentasi investor besok pagi."
Maya mendongak, menatap mata hitam Aris. "Baik, Pak. Saya siap."
Bab 4: Larut Malam dan Sisi Lain
Pukul sembilan malam. Kantor sudah sangat sepi. Hanya lampu di ruangan CEO yang masih menyala terang. Maya duduk di meja kecil tak jauh dari meja Aris, merapikan barisan angka di laptopnya.
"Minumlah," sebuah cangkir diletakkan di samping laptop Maya.
Maya menengadah kaget. Aris berdiri di sana, memegang cangkirnya sendiri. Kali ini pria itu sudah melepas jasnya, melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku, dan melepas dasinya. Kesan dingin dan kaku yang biasa terpancar mendadak memudar, berganti dengan tampilan yang jauh lebih manusiawi.
"Teh chamomille. Kamu terlihat lelah," kata Aris singkat sebelum duduk di kursi di depan meja Maya.
"Terima kasih, Pak," bisik Maya ragu. "Bapak tidak perlu repot-repot..."
"Ini bukan repot. Ini perintah agar asisten saya tidak pingsan sebelum pekerjaannya selesai," balas Aris, ada nada humor tipis yang tersembunyi di balik kalimatnya.
Maya tersenyum kecil tanpa sadar. "Bapak ternyata bisa bercanda juga."
Aris menatap Maya, terdiam sejenak melihat senyuman tipis itu. "Saya manusia biasa, Maya. Hanya saja posisi ini menuntut saya untuk tidak banyak tersenyum."
"Mengapa?" tanya Maya berani, sedikit terbawa suasana malam yang tenang.
Aris memandang keluar jendela yang gelap. "Karena ketika kamu memperlihatkan kelemahan atau keramahan yang berlebihan di dunia ini, orang-orang akan menganggapmu mudah dimanfaatkan. Saya belajar itu dari cara ayah saya mempertahankan perusahaan ini."
Maya menatap profil wajah Aris dari samping. Ada bayangan kesepian yang dalam di balik sosok bos besar yang ditakuti semua orang ini.
"Tapi di sini, malam ini... Bapak tidak sedang memimpin rapat investor," kata Maya lembut. "Bapak tidak harus bersikap dingin pada semua orang."
Aris memalingkan pandangannya kembali ke Maya. Tatapan mereka bertemu dalam hening yang cukup lama.
"Mungkin," bisik Aris pelan. "Tapi hanya jika orang itu adalah kamu, Maya."
Maya menahan napasnya. Ruangan yang luas itu mendadak terasa begitu sempit saat Aris menyandarkan tubuhnya mendekat, menatapnya dengan intonasi yang tak lagi sekadar hubungan atasan dan bawahan.
...----------------...