Rumah Baru, Wajah Lama
Sore itu, langit Bandung berwarna jingga pucat, seperti enggan untuk benar-benar terbenam.
Arka baru saja menaruh kardus terakhir di sudut ruang tamu ketika ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Rumah baru ini masih terasa asing-dinding-dindingnya belum menyimpan kenangan apa pun, belum ada bau kopi yang biasa menempel di baju kerjanya, belum ada suara apa pun selain langkah kakinya sendiri.
Ia berjalan tanpa tujuan, menyusuri trotoar kompleks yang rapi, melewati taman kecil dengan beberapa bangku kayu dan ayunan yang berderit pelan ditiup angin sore.
Di situlah ia melihatnya.
Seorang anak perempuan, mungkin belum genap dua tahun, duduk di rumput sambil memegangi bunga liar berwarna ungu. Ia mendongak ke arah Arka, matanya besar dan penuh rasa ingin tahu, lalu-entah kenapa-tersenyum lebar, memperlihatkan dua gigi kecil di depan.
Arka berhenti. Ada sesuatu dari senyum itu yang terasa familiar, meski ia tidak bisa menjelaskan apa.
"Hai," katanya pelan, berjongkok sedikit. "Bunganya bagus."
Anak itu mengulurkan bunganya, seolah ingin membagi.
Tidak jauh dari situ, seorang perempuan-mungkin pengasuh, atau neneknya-buru-buru menghampiri. "Maaf, Pak, dia memang suka samperin orang."
Arka hanya tersenyum, menggeleng pelan. "Gak apa-apa. Anaknya lucu."
Ia tidak bertanya siapa nama anak itu. Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menyesal tidak bertanya.
***
Beberapa hari setelah itu, Arka kembali lewat taman yang sama-bukan sengaja, hanya karena rute itu jadi bagian dari rutinitas barunya.
Ia hampir tidak menyadari sosok yang duduk di bangku paling ujung, kepala menunduk, bahu sedikit gemetar. Ponsel di tangannya masih menyala, layar menunjukkan panggilan yang baru saja berakhir.
Arka nyaris berjalan terus. Tapi sesuatu membuatnya menoleh sekali lagi.
Rambut itu. Cara ia duduk, memeluk lututnya sendiri seperti mencoba membuat dirinya sekecil mungkin.
Langkah Arka melambat, lalu berhenti total.
"...Inara?"
Perempuan itu mendongak cepat, buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan, seolah bisa menghapus jejak air mata secepat itu.
Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya angin sore yang menggerakkan daun-daun di atas mereka, dan suara ayunan yang berderit pelan-ayunan yang sama tempat ia melihat Reena beberapa hari lalu.
"Arka?" Suara Inara terdengar serak, tidak percaya. "Kamu... ngapain di sini?"
"Aku pindah," jawab Arka pelan, masih berdiri di jarak yang canggung. "Rumah baru, deket sini."
Inara tidak menjawab. Ia hanya menatap Arka, seolah sedang menghitung berapa lama waktu telah berlalu sejak terakhir kali mereka bicara-empat tahun, tanpa kabar, tanpa penjelasan.
"Kamu... baik-baik aja?" tanya Arka akhirnya, meski jawabannya sudah cukup jelas dari wajah Inara yang masih basah.
Inara tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Baik. Cuma... capek aja."
Arka ingin bertanya lebih jauh. Tapi sesuatu dalam dirinya-entah insting atau kenangan lama-memberitahunya untuk tidak memaksa.
"Boleh aku duduk?" tanyanya, lebih ke arah izin daripada pertanyaan.
Inara ragu sesaat, lalu mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, mereka duduk berdampingan lagi-dalam diam yang sama seperti dulu, di kedai kopi yang kini hanya jadi kenangan.
Untuk beberapa menit, mereka hanya duduk dalam diam yang canggung namun familiar-sama seperti dulu, sebelum akhirnya Inara yang memecahnya.
"Kamu... masih kerja di tempat yang sama?" tanyanya, suaranya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Arka mengangguk. "Masih. Pindah divisi doang."
"Masih suka pesen yang itu? Americano, tanpa gula?"
Sudut bibir Arka nyaris membentuk senyum. Ia tidak menyangka Inara masih ingat. "Masih."
Inara tertawa kecil-tawa pertama yang terdengar tulus sejak Arka duduk di sampingnya. "Aku juga masih inget kamu selalu duduk di kursi paling pojok. Deket jendela."
"Kamu merhatiin?"
"Susah nggak merhatiin orang yang dateng jam yang sama, tiap hari, selama..." Inara berhenti, seperti baru sadar sedang menghitung waktu yang telah hilang. "Setahun, ya?"
"Setahun," Arka mengulang pelan.
Ada jeda lagi, tapi kali ini terasa berbeda-bukan canggung, melainkan penuh dengan hal-hal yang tidak terucap. Arka ingin bertanya kenapa Inara pergi tanpa kabar. Ingin bertanya kenapa empat tahun bisa berlalu tanpa satu pesan pun. Tapi sebelum kata-kata itu sempat tersusun, ponsel di pangkuan Inara bergetar keras, layarnya menyala terang di tengah cahaya senja yang mulai redup.
Inara melihat nama yang muncul di layar, dan seketika seluruh ketenangan di wajahnya menguap.
"Aku... harus balik," katanya buru-buru, sudah setengah berdiri sebelum kalimatnya selesai.
"Inara-"
"Senang ketemu kamu lagi, Arka." Suaranya terdengar terburu-buru, nyaris seperti hafalan. Ia sudah melangkah menjauh bahkan sebelum Arka sempat bertanya kapan mereka bisa ketemu lagi.
Arka duduk sendirian di bangku itu, menatap punggung Inara yang semakin kecil di kejauhan, sambil menjawab telepon dengan nada yang berubah drastis-lebih rendah, lebih hati-hati.
Ia tidak tahu siapa yang meneleponnya. Ia tidak tahu bahwa perempuan yang baru saja tertawa kecil di sampingnya, beberapa menit lalu, akan pulang ke rumah dengan hati yang berdebar karena takut, bukan karena rindu.
Yang Arka tahu hanya satu: ia ingin bertemu Inara lagi.
...- Bersambung -...