Di Tempat Pertama Aku Menemukanmu

Di Tempat Pertama Aku Menemukanmu

Author:Nuhazard Omega

Kertas Kuning Dan Lily Putih

"Maaf, naskah Anda belum dapat kami terbitkan."

Rama membaca kalimat itu dalam diam. Jemarinya tidak bergerak untuk beberapa saat. Matanya masih terpaku pada layar ponsel, seolah berharap akan muncul kalimat lain yang bisa mengubah keputusan tersebut. Namun tak ada apa-apa selain ucapan terima kasih karena telah mengirimkan naskah.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengunci layar ponselnya.

Di hadapannya telah terbuka map berisi bahan ajar Bahasa Indonesia untuk pertemuan berikutnya. Beberapa lembar masih dipenuhi coretan tinta merah yang belum sempat dirapikan.

Rama menarik kursinya mendekat.

Menjadi guru selalu memberinya satu keuntungan. Saat hidup sedang berantakan, selalu ada pekerjaan yang memaksanya tetap berjalan.

Belum sempat ia membuka halaman pertama, suara gaduh tiba-tiba memecah ruang guru.

"Mana Pak Rama?"

Seorang pria menerobos masuk dengan langkah lebar. Wajahnya merah padam. Di belakangnya berdiri seorang anak laki-laki berseragam sekolah yang hanya menunduk sejak tadi.

Rama spontan mengangkat kepala.

"Ada apa, Pak?"

Pria itu baru hendak menghampiri ketika satpam sekolah lebih dulu menahannya. Beberapa guru ikut berdiri. Suasana ruang guru yang semula tenang berubah riuh dalam hitungan detik.

Tak lama kemudian Kepala Sekolah datang dan membawa pria itu keluar ruangan.

Beberapa menit berlalu. Pintu ruang guru kembali terbuka.

"Pak Rama, tolong sabar, ya."

Kepala Sekolah menepuk pelan bahunya.

Rama mengangkat wajah. Senyum pria itu nyaris tenggelam di balik kumis lebat yang mulai dipenuhi uban.

"Orang tua muridnya sudah saya ajak bicara lagi."

Rama mengangguk pelan.

Pagi tadi ia menyita ponsel seorang murid yang bermain gim saat pelajaran berlangsung. Baginya itu hal biasa. Namun bagi sang ayah, tindakan itu dianggap telah mempermalukan anaknya di depan teman-teman sekelas.

"Tidak semua orang bisa menerima kalau apa yang mereka lakukan ternyata salah arah," lanjut Kepala Sekolah.

"Iya, Pak."

"Jangan terlalu dipikirkan."

Rama tersenyum tipis. Andai semua hal semudah itu untuk tidak dipikirkan.

"Terima kasih, Pak."

Kepala Sekolah mengangguk sebelum kembali ke ruangannya sendiri.

Ruang guru kembali tenang.

Rama menatap tumpukan administrasi di depannya. Tangannya merapikan beberapa map yang sebenarnya sudah tersusun rapi, seolah ada sesuatu yang bisa ia benahi meski bukan itu yang sedang berantakan.

Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napas.

Lalu tangannya merogoh tas dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam. Sudut-sudutnya mulai aus karena terlalu sering dibuka dan dibawa ke mana-mana.

Catatan kecil itu selalu menemani hari-harinya.

Saat menemukan sebuah kalimat yang sayang jika dibiarkan hilang. Saat pikirannya terlalu penuh untuk dipendam sendiri. Atau saat hidup terasa lebih berat daripada biasanya.

Rama membuka halaman terakhir. Lembar-lembar kertas kuning itu dipenuhi tulisan pendek. Ada yang hanya terdiri dari satu kalimat. Ada pula yang berhenti di tengah paragraf, seolah penulisnya kehilangan keberanian untuk menyelesaikannya.

Di antara ratusan catatan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Rama tidak pernah benar-benar berhenti menulis.

Ia hanya mulai takut.

Takut setiap kali mencoba melangkah lagi, ia akan kembali jatuh di tempat yang sama.

Rama membuka halaman terakhir.

Sebuah lembar kertas kuning masih kosong.

Ia memutar bolpoin di sela-sela jarinya beberapa saat, lalu mulai menulis dengan perlahan.

"Aku berharap semuanya baik-baik saja. Hari ini dan seterusnya."

28 Februari 2026.

Titik terakhir ia bubuhkan dengan sedikit jeda.

Sesaat Rama hanya memandangi tulisan itu. Tak ada yang istimewa. Hanya satu kalimat sederhana yang entah sejak kapan selalu ia sisakan untuk dirinya sendiri di akhir hari.

Ia menutup buku catatan itu perlahan, lalu menyelipkannya kembali ke dalam tas.

Ruang guru kembali dipenuhi suara kipas angin yang berputar pelan dan gesekan kertas di atas meja. Rama menarik map administrasi ke hadapannya.

Beberapa hari lagi ujian akhir semester dimulai.

Catatan perkembangan siswa masih harus diselesaikan sebelum nilai akhir diolah. Satu per satu lembar ia periksa, memberi tanda, lalu memindahkannya ke tumpukan yang sudah selesai.

Di luar, gerbang sekolah mulai ramai.

Gerombolan murid memenuhi jalan, disusul deru sepeda motor yang saling bersahutan. Tawa mereka perlahan menjauh bersama bel pulang yang sejak beberapa menit lalu berhenti berdentang.

Ruang guru semakin lengang. Namun Rama tetap duduk di tempatnya. Tangannya terus bergerak menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya masih bisa ditunda hingga esok hari.

Sebagian karena tanggung jawab.

Sebagian lagi karena ia ingin menghindari kemacetan.

Dan sebagian lainnya, karena ia hanya ingin hari itu berakhir sedikit lebih pelan.

...****************...

Rina duduk di kursi goyang di teras rumah. Kursi itu berayun pelan mengikuti dorongan kakinya. Pandangannya tak pernah jauh dari jalan di depan rumah.

Setiap deru sepeda motor yang terdengar membuat kepalanya terangkat. Namun setiap kali pula, kendaraan itu terus melaju melewati rumah mereka.

"Mungkin masih banyak kerjaan," gumamnya pelan.

Sore mulai turun. Peluh tipis membasahi pelipisnya. Ia akhirnya berdiri dan masuk ke dalam rumah. Kursi goyang itu masih bergoyang pelan ketika suara sebuah motor benar-benar berhenti di depan pagar. Rina segera menoleh.

Rama melepas helmnya sambil mengusap wajah yang dipenuhi debu jalanan.

"Nah, akhirnya pulang juga."

Belum sempat Rama menjawab, tangan ibunya sudah lebih dulu menggenggam lengannya.

"Ayo."

"Buk... ada apa?"

"Udah, ikut dulu."

Rama hanya menghela napas kecil. Ia membiarkan dirinya ditarik masuk hingga tiba di ruang makan.

Berbagai masakan memenuhi meja. Sayur bening, ikan goreng, sambal, dan sepiring tempe hangat yang baru diangkat dari penggorengan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.

"Kenapa sih, Buk?" tanyanya sambil melepas tas dari bahu.

"Cuma ngajak makan?" Nada suaranya datar.

Matanya hanya singgah sebentar ke arah meja sebelum berbalik menuju kamarnya. Langkahnya terdengar pelan di lorong rumah.

Rina tetap berdiri di tempatnya. Tangannya saling menggenggam tanpa sadar.

Sejak siang ia menunggu kepulangan anaknya. Berharap Rama pulang dengan wajah yang sedikit lebih ringan.

Namun seperti hari-hari sebelumnya...anak itu tetap membawa pulang lelah yang sama.

Rama berdiri di depan jendela kamarnya. Langit sore mulai kehilangan warna. Cahaya jingga yang masuk dari sela kaca hanya menyentuh sebagian wajahnya.

Ia memandang pantulan dirinya cukup lama.

Lalu, tanpa diminta, sebuah suara kembali muncul di kepalanya.

"Maaf, kami memilih pelamar lain."

Suara itu berganti.

"Sudah ada yang lebih mapan."

Dua bulan lalu. Ia masih mengingat rumah itu.

Ruang tamu yang dipenuhi senyum basa-basi. Cangkir-cangkir teh yang perlahan mendingin. Percakapan yang awalnya terdengar hangat, sebelum berubah menjadi penolakan yang disampaikan dengan sopan.

Tak ada yang membentaknya.

Tak ada yang merendahkannya.

Namun satu kalimat itu cukup tinggal jauh lebih lama daripada seluruh percakapan hari itu.

"Sudah ada yang lebih mapan."

Rama menundukkan kepala. Ia beberapa kali mencoba mencari penghasilan tambahan. Menulis menjadi harapan yang paling lama ia pertahankan.

Namun harapan itu baru saja kembali ditolak pagi ini.

Ia mengembuskan napas panjang. Entah harus memulai dari mana lagi. Ruangan perlahan menggelap.

Rama menutup jendela, lalu menyalakan lampu kamar.

Dinding yang semula tenggelam dalam bayangan kini memperlihatkan puluhan kertas kecil berwarna kuning yang tertempel rapi. Ada puisi pendek, pantun jenaka, kutipan buku, hingga kalimat-kalimat yang pernah ia tulis untuk dirinya sendiri.

Beberapa sudutnya mulai mengelupas. Biasanya Rama akan menggantinya dengan yang baru. Namun kali ini, sebuah kertas jatuh sendiri. Meluncur pelan hingga mendarat tepat di dekat kakinya.

Rama membungkuk mengambilnya. Ia meniup debu tipis yang menempel di permukaannya.

Tulisan itu masih jelas terbaca.

Coba dulu, mungkin nanti berhasil.

24 November 2024.

Rama terdiam. Entah kapan terakhir kali ia menulis kalimat itu dan orang yang menuliskannya dulu terdengar jauh lebih berani daripada dirinya hari ini.

Ia mengambil selotip dari meja belajar. Perlahan, kertas kecil itu ditempel kembali di tempat semula.

Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Rama membukanya.

Rina berdiri sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk.

"Makan dulu, ya."

Rama menatap wajah ibunya beberapa saat.

"Iya, Buk."

Ia mengambil piring itu.

"Aku makan di meja."

Rina tersenyum kecil.

"Ya."

......................

Ruang makan terasa jauh lebih hidup dibanding kamar Rama. Televisi menyala cukup keras di ruang tengah. Eko tertidur di kursinya dengan kepala sesekali terangguk mengikuti suara acara yang bahkan tidak sedang ia tonton.

Rama duduk di hadapan sepiring nasi. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya bunyi di antara mereka.

Rina sesekali mencuri pandang. Memastikan nasi di piring anaknya benar-benar berkurang.

"Enak?"

Rama mengangguk sambil terus mengunyah.

"Hm."

Rina tersenyum tipis. Lalu, setelah beberapa saat, ia kembali membuka suara.

"Ram."

Rama mengangkat kepala.

"Kamu masih kepikiran soal lamaran itu?"

Sendok di tangan Rama berhenti.

"Lebih dari itu, Buk."

Rina menunggu.

"Aku ngerasa..."

Rama mengembuskan napas pelan.

"...ada banyak hal yang seharusnya udah bisa aku capai di umur sekarang."

Ia menatap nasi di piringnya.

"Tapi setiap kali nyoba..."

Kalimatnya menggantung.

"...rasanya selalu kurang."

Rina bangkit mengambil dua botol air dari kulkas. Satu ia letakkan di samping piring Rama.

"Ibu mungkin nggak ngerti persis apa yang kamu rasain."

Ia duduk kembali.

"Tapi jangan terlalu lama tinggal di situ."

Rama terdiam.

"Kalau terus dibawa ke mana-mana..."

Rina tersenyum lembut.

"...capek, Ram."

Ia mengusap pelan lengan anaknya.

"Yang udah lewat... ya udah lewat."

"Nggak semua hal harus terus kamu bawa di kepala."

......................

Malam turun tanpa suara. Rama kembali berdiri di depan jendela kamarnya. Pantulannya masih ada di sana, sama seperti sebelumnya. Namun kali ini pandangannya sempat beralih ke dinding. Ke arah selembar kertas kuning yang baru saja ia tempel kembali.

Coba dulu, mungkin nanti berhasil.

Rama memandangnya cukup lama. Lalu mematikan lampu kamar.

Besok...

setidaknya masih layak untuk dicoba lagi.

...****************...

Dan pagi datang tanpa meminta izin.

Seorang gadis berseragam putih abu-abu berdiri di tepi jalan sambil melambaikan tangan. Jalanan pagi telah dipenuhi orang-orang yang berangkat bekerja. Asap knalpot motor tua menggantung rendah, menutupi udara yang seharusnya masih terasa segar.

"Ojek, Neng?"

"Iya, Pak."

"Nih, helm."

"Terima kasih."

Gadis itu naik sambil mendekap sebuah novel di dadanya. Tas sekolah tetap menggantung di bahu kirinya, sementara novel itu tak pernah ia lepaskan, seolah takut bercampur dengan buku-buku lain.

Beberapa menit kemudian motor berhenti di depan gerbang sekolah.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

Sebelum melangkah masuk, ia mengeluarkan ikat rambut dari saku roknya. Rambut panjang yang semula tergerai segera diikat rapi. Sebuah ikat rambut bunga lily kecil berwarna putih menghiasi ikatan itu.

"Pagi, Lily."

"Pagi."

Ia membalas sapaan itu dengan senyum kecil, lalu berlari mengejar teman-temannya. Namun saat melewati ruang guru, langkahnya melambat. Matanya mengintip ke dalam.

Belum ada Rama.

Lily menunduk memandangi novel di pelukannya.

"Nanti aku balikin pas di kelas aja."

"Lagi nyari siapa?"

Suara dari belakang membuatnya tersentak.

"Nggak... kok."

"Yuk."

Temannya menarik lengannya pelan. Lily menurut, sambil kembali mendekap buku itu erat-erat.

Di dalam kelas suasana masih ramai. Beberapa murid laki-laki yang sedang piket mengayunkan sapu terlalu tinggi hingga debu beterbangan ke mana-mana.

"Hei! Pelan-pelan dong!"

Mereka tertawa kecil sebelum kembali menyapu.

Lily menggeleng pelan lalu duduk di bangkunya, tepat di depan meja guru. Ia membuka laci, meletakkan novel itu dengan hati-hati, lalu menutupnya kembali.

Bel berbunyi.

Tak lama kemudian Rama memasuki kelas.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak."

Suara murid-murid menjawab hampir bersamaan. Di antara semuanya, suara Lily terdengar sedikit lebih jelas.

Hari itu Rama mengajar seperti biasa. Namun hanya beberapa menit berlalu sebelum ia menyadari bahwa pikirannya sendiri belum benar-benar berada di ruang kelas. Beberapa murid mulai menopang dagu, sebagian lainnya menatap papan tulis tanpa benar-benar memperhatikan. Sesekali Rama berhenti untuk menarik napas, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.

Di bangkunya, Lily sempat mengangkat tangan. Namun ketika melihat wajah gurunya yang tampak lebih lelah daripada biasanya, Ia kembali mengurungkannya. Tangannya membuka laci. Jarinya menyentuh sampul novel itu perlahan.

"Nanti pas pulang aja..."

Laci itu kembali ia tutup.

......................

Sekolah mulai lengang. Suara murid-murid semakin jauh hingga akhirnya menghilang di balik gerbang.

Di lantai tiga, Rama duduk sendirian di depan kelas. Angin siang berembus pelan, membawa aroma daun-daun kering dari halaman sekolah. Untuk pertama kalinya sejak pagi, tak ada lagi yang harus ia jelaskan kepada siapa pun.

Perkataan ibunya semalam kembali terlintas.

"Yang udah lewat... ya udah lewat."

Rama mengusap wajahnya pelan.

"Bukan ini yang aku mau..."

Kalimat itu nyaris tak terdengar. Ia menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya.

Suara langkah kaki membuatnya menoleh.

"Lily?"

Gadis itu berdiri di dekat pintu kelas.

"Novel yang Bapak pinjamkan kemarin ketinggalan di laci. Sekalian mau saya balikin."

Rama tersenyum tipis.

"Bawa saja. Di rumah masih banyak."

Lily mengangguk pelan. Namun ia tidak segera pergi. Tatapannya tetap tertuju pada Rama.

"Bapak..."

"Iya?"

"Bapak baik-baik saja?"

Rama terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru terasa paling sulit dijawab.

Ia tersenyum kecil.

"Bohong kalau saya bilang baik-baik saja."

Lily melangkah mendekat satu langkah.

"Cerita aja, Pak."

Begitu kalimat itu keluar, matanya langsung membesar. Pipinya memerah. Ia sendiri tampak terkejut telah mengucapkannya. Ingin rasanya menarik kembali kata-kata itu.

Namun semuanya sudah terlambat.

Anehnya, Rama sama sekali tidak merasa terganggu.

Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju pembatas koridor. Dari sana seluruh halaman sekolah terlihat jelas. Lily ikut berdiri di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya memandang halaman sekolah yang kosong.

"Lily..."

Rama membuka suara.

"Akhir-akhir ini saya merasa seperti kehilangan arah."

Angin kembali berembus pelan.

"Saya terus menjalani hari seperti biasa. Mengajar. Pulang. Besok mengulang lagi."

Ia tersenyum hambar.

"Tapi rasanya... ada sesuatu yang tertinggal."

Rama menoleh.

"Menurut kamu saya kenapa?"

Lily ikut memandang langit. Bunga lily putih di rambutnya bergoyang pelan diterpa angin.

"Saya nggak tahu jawaban yang benar," katanya hati-hati. "Tapi menurut saya... mungkin Bapak cuma perlu mengejar lagi impian yang pernah Bapak tinggal."

Rama terdiam.

"Impian..."

gumamnya pelan.

Lily mengangguk.

"Iya."

"Menurut kamu saya masih mampu?"

"Mampu."

Jawabannya datang begitu cepat, tanpa sedikit pun keraguan.

"Mumpung Bapak belum berkeluarga..."

Lily menutup mulutnya sendiri.

"Eh..."

Pipinya langsung memerah.

"Maaf, Pak..."

Rama tertawa.

Tawa yang benar-benar lepas. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suaranya sendiri seperti itu.

Setelah tawanya reda, ia kembali memandang halaman sekolah.

"Saya rasa..."

"...kamu benar."

Lily ikut tersenyum.

"Oh ya," tanya Rama kemudian. "Setelah lulus kamu mau ke mana?"

Lily mendekat beberapa langkah hingga kini mereka berdiri hampir sejajar. Ia mendongak ke arah langit yang biru.

"Saya mau kuliah."

Lalu ia menoleh kepada Rama.

"Bapak juga jangan berhenti sama impian Bapak.”

Rama memandang muridnya beberapa saat. Angin kembali bertiup, membuat bunga lily putih di rambut gadis itu bergoyang pelan.

"Semoga lancar," ucapnya lirih.

Lily mengangguk.

"Terima kasih, Pak."

......................

Percakapan itu akhirnya berakhir.

Rama melangkah menuju tangga. Langkahnya terasa lebih ringan dibanding saat ia datang ke sekolah pagi tadi. Bahkan tanpa sadar ia mempercepat langkahnya ketika mulai menuruni anak tangga.

Di sisi lain, Lily berjalan ke arah yang berlawanan. Novel itu kembali ia dekap erat di dadanya. Sesaat ia menoleh ke belakang.

Koridor itu sudah kosong.

Rama telah menghilang di balik tangga.

Lily memandangi novel di pelukannya. Ujung bibirnya perlahan terangkat menjadi senyum kecil. Lalu ia kembali melangkah.

Angin siang berembus lembut. Bunga lily putih di rambutnya bergoyang pelan, mengikuti langkahnya.

Hari itu, sekolah tetap sama.

Koridor itu tetap sama.

Namun terkadang, sesuatu yang mengubah hidup seseorang memang berawal dari percakapan yang terlihat sangat sederhana.