Trip-Play

Trip-Play

Author:Hara Ha

Lobby

Ah, aku mulai bosan.

Kalimat itu terus terngiang-ngiang dikepalaku. Membuatku sejenak berpikir untuk log out secepatnya, tapi aku tau bahkan jika aku benar-benar keluar dari game aku akan tetap merasa bosan. Karena pada akhirnya aku akan tetap sendiri.

Tak banyak yang kini bisa kulakukan. Hanya duduk sembari melihat orang-orang berlalu lalang, mengobrol dengan kawan atau lawan dengan nada yang begitu keras, hingga kau bahkan bisa mendengar obrolan mereka dari jarak 5m lebih. Bukan maksudku untuk menguping pembicaraan mereka, tapi memang begitu keadaannya. Pada akhirnya telinga ku mendengar banyak suara bising tanpa henti meski aku tidak menginginkannya.

"*Hei, apa kabar? sudah lama tidak bertemu."

"Haha, aku baik-baik saja, hei bagaimana apa kau sudah yakin ingin bergabung dengan guild ku*?", kata seseorang yang memakai skin Butterfly (karakter dari game Arena Of Valor) kepada seorang pria berpenampilan seperti setengah malaikat.

"*Oh, kau tau? katanya sebentar lagi akan ada event yang menarik diakhir Oktober ini"

"Oh, maksudmu event Halloween?"

"Y*a...", kata 2 orang itu lagi.

Hm, event Halloween ya… kurasa aku sudah lihat itu sebelumnya. Event mengumpulkan item khusus yang rasio dropnya lebih tinggi dari hari biasanya, dan dapat ditukar dengan item lainnya di exchange room (ruang khusus untuk menukar item). Hm, kurasa aku juga harus mengingatkan mereka.

...----------------...

Sudah satu jam lebih aku menunggu di Hall Park Capital City. Mereka tak kunjung datang. Apa aku kembali saja ke Dead Forest dan mulai farming exp lagi ya? hm, kurasa tidak. Mereka pasti akan datang, tak peduli seberapa lama itu, mereka pasti akan datang, karena mereka sudah berjanji padaku.

...----------------...

Sial. Mereka tak kunjung datang. Apa yang harus kulakukan. Jika begini terus bisa-bisa aku mati dimakan kebosanan.

Ding!

Oh, sepertinya event itu sudah dimulai…

Ding!

Hm, apa aku pergi ke Main Hall saja ya? Mungkin ada lebih banyak informasi tentang event ini yang bisa ku dapatkan disana. Lagipula akan lebih menyenangkan jika bisa langsung bertanya ke GI (Game Informant \= NPC yang memberi tahu berbagai informasi tentang game, event, istilah, dll).

Hm, sudah kuputuskan. Aku akan ke Main Hall sekarang, aku sudah tak tahan lagi duduk sendirian ditaman seperti orang aneh yang sedang galau. Ya… nggak juga sih, itu hanya angan-anganku saja. Lagipula aku bisa mengirim pesan ke mereka kalau aku akan kesana. Dengan begitu lokasi pertemuan kami dapat disesuaikan. Dan mereka tidak perlu mencariku seperti sedang 'mencari anak hilang' lagi.

...----------------...

Ah, betapa bodohnya aku. Bagaimana bisa aku lupa kalau setiap ada event khusus para newbie (pemain pemula) akan berlomba-lomba datang dan bertanya langsung ke GI, sehingga Main Hall penuh sesak. Ha… seharusnya aku datang jauh lebih awal lagi.

Kepalaku mulai terasa pusing, disini terlalu banyak orang dan terlalu banyak suara bising yang tak kunjung henti. Aku rasa aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku harus pergi.

Bruk!

"Ah… maaf…", ucapku sambil menundukkan kepala kepada seseorang yang tidak sengaja ku tabrak.

"…"

Kurasa dia sudah terlalu kesal kepadaku hingga mengabaikan ucapanku. Tapi, kenapa dia tak berhenti menatapku. Aku mulai merasa risih sekarang.

"Mm… permisi kalau gitu..", kataku seraya meringkuk menjauh dari orang yang berpakaian seperti dukun itu. Hm, kuharap dia memaafkanku.

Sesampainya diluar Main Hall, akhirnya aku bisa bernafas lega. meskipun disini juga ramai, tapi setidaknya tidak sesesak didalam lobby Main Hall.

"Runa!! Maafkan aku..", kata seorang gadis berambut panjang selutut yang diikat dengan rapi, sehingga wajahnya dapat terlihat dengan jelas.

"Ah, aku juga.."

"Agh! Kamprettt!! Kenapa kamu selalu muncul tiba-tiba sih?!", teriak gadis itu kesal.

Hm, mereka berkelahi lagi. Gadis berambut panjang itu dia adalah saudariku, namanya Lea. Kami berpisah saat usia kami masih 9 tahun. Dia pergi bersama ibu, sedangkan aku dan laki-laki berhoodie hitam itu memutuskan menetap bersama ayah kami.

"Ya... wajarlah! kan aku tipe assassin, ya mainnya sembunyi-sembunyi dong!", kata laki-laki berhoodie hitam itu, dia adalah saudaraku.

"Sembunyi-sembunyi ya nggak apa, tapi jangan ngagetin juga dong!", kata Lea dengan wajah kesalnya.

"Hei... kurasa kita tidak bisa masuk Main Hall"

"...", akhirnya mereka berhenti bertengkar dan mulai memperhatikanku.

"Eh.. Kenapa?", Lea.

"Disana terlalu ramai, kita bahkan tidak bisa mengambil nomor antriannya, karena terhalangi banyak orang", kataku.

"Hm, kalau gitu sekarang kita mau apa?", kata Chio adik laki-lakiku.

"Entahlah.. aku juga tidak tahu", Lea.

"Kalau gitu bagaimana jika kita pergi ke Suffer Land? Aku sudah baca sedikit informasi mengenai event ini, katanya kita hanya perlu mengumpulkan Spooky Item yang didrop oleh monster", jelasku.

"Suffer Land ya? Tapi, tapi Spooky Item apa itu?? Aku nggak paham ****..", kata Lea sembari memasang wajah sedih nggak jelasnya.

"Ya masak kamu nggak liat sih? Kan sudah di beritahu sebelumnya, kalo Spooky Item itu sejenis item yang dipakai buat keperluan sihir. Kayak, tulang, gigi, kulit, rambut, kuku, serangga, atau bangkai binatang tertentu.", jelas Chio kesal.

"Hm, wajar dong.. kan Lea sibuk, saking sibuknya dia nggak pernah baca informasi apapun yang dikirim lewat Mail", ucapku mengejeknya.

"Aku dah baca!! Tapi lupa!", katanya kesal sekaligus malu karena ucapanku.

"Jadi gimana? Mau langsung ke Suffer Land? Disana katanya spawn time monster zombienya dipersingkat, jadi kalau mau farming dan cari item lebih gampang.", kataku.

"GAS!!", kata mereka kompak.

Hm, tak peduli berapa kali pun aku melihatnya tetap saja, meski mereka sering bertengkar bukan berarti mereka tidak akur.

...----------------...

Setelah tiba di depan DG (Dimension Gate), Chio menyampaikan lokasi tujuan kami kepada seorang NPC yang berpenampilan seperti grim-reaper (malaikat pencabut nyawa), dan memberi kami jalan untuk melewati gerbang itu.

Begitu kaki ku melewati gerbang itu, muncul sedikit rasa mual dan berbagai kerlip cahaya yang bersinar dimataku, dan sedikit pening dikepalaku. Ah… aku tidak suka perasaan itu. Perasaan seperti mabuk kendaraan yang muncul tiap kali melewati DG, seringkali ku alami meski tidak setiap saat.

"Anjirlah.. sejak kapan ni tempat jadi makin serem", Lea.

"Ah, itu karena efek event Halloween. Developernya menambahkan detail khusus di setiap Land yang memang punya kesan horor.", jelasku padanya, sambil berusaha mengendalikan diriku yang masih mual.

"Kau baik-baik saja?", Chio.

"Ya...", jawabku.

"Grraaaaaahh!!!"

"Ah! Awas!", jerit Lea tepat dikupingku.

"Shadow Dance!", ucap Chio lantang seraya bergerak kesana kemari.

Kau tahu? bahkan jika kau bisa mendengarnya mengatakan nama skillnya (jurus) tetap saja kau akan kesulitan melihat pergerakannya. Kecuali kau punya kemampuan yang cukup hebat untuk menyeimbangi pergerakannya.

"Monster apa itu?? Sejak kapan ada monster kayak gitu di tempat ini?", kata Lea sambil meringis kesal.

"Sejak event itu dimulai, tepatnya 15 menit yang lalu.", kataku.

"Ah, aku juga belum pernah melihat mereka sebelumnya.", ucap Chio sambil mengibas pedangnya yang berlumur darah.

"Hm, itu monster Plague, seingatku mereka punya story base (latar belakang) tentang manusia yang terkena wabah penyakit berbahaya yang membuat mereka menjadi seperti ini.", jelasku.

"Hm, jadi mereka Zombie ya? Tapi kenapa desain mereka tidak sama seperti sebelumnya sih?? Kan sekarang jadi makin serem", Lea.

"Hei, itu namanya upgrade", kata Chio dengan nada mengejek.

"Ihh..", Lea.

"Hm, itu benar. Walau bagaimanapun juga jika davelopernya nggak merubah tampilan Zombienya. Itu berarti game ini tidak berkembang. Lagipula sebenarnya Zombie dan Plague punya sedikit perbedaan.", terangku.

"Ha? Ada toh?", Lea.

"Hooh, kalau Zombie itu kan mayat hidup, nah kalo Plague itu orang yang masih terkena wabah dan jika mereka berhasil menyerang kita. Kita akan terkena efek venomous (keracunan) selama, hm, selama 5 menit." kataku lagi.

"Begitu ya..", Lea.

"Ah, lihat siapa yang datang", ucapku sambil menyiapkan buku sihirku.

"Hm, it's show time. Shadow Dance".