Untuk Ketiga Kalinya

Untuk Ketiga Kalinya

Author:Cerita pelan pelan

PROLOG : "AKU BUKAN RUMAH SINGGAH"

Aku pernah menjadi tempat pulang seseorang.

Bukan sekali.

Bukan dua kali.

Tapi berkali-kali.

Dan mungkin itulah kesalahan terbesarku.

Aku terlalu percaya bahwa setiap orang yang kembali berarti akhirnya memilih untuk menetap.

Padahal tidak semua orang yang kembali datang karena cinta.

Sebagian hanya datang karena kehilangan arah.

Dulu, saat hidupnya masih berantakan, aku selalu ada.

Saat dia gagal, aku ada.

Saat dia sedih, aku ada.

Saat dia merasa tidak ada yang mendukungnya, aku berdiri di sampingnya.

Aku mendengarkan semua keluh kesahnya.

Aku menyemangatinya ketika dia hampir menyerah.

Aku merayakan keberhasilannya bahkan ketika keberhasilan itu belum bisa dia lihat sendiri.

Aku percaya padanya lebih besar daripada dia percaya pada dirinya sendiri.

Dan aku melakukannya dengan senang hati.

Karena aku mencintainya.

Aku tidak pernah meminta apa pun.

Aku tidak meminta uangnya.

Aku tidak meminta hartanya.

Aku tidak meminta hidup yang mewah.

Aku hanya meminta waktu.

Aku hanya meminta perhatian.

Aku hanya ingin mendengar kabarnya.

Aku hanya ingin tahu bahwa aku masih ada di dalam hidupnya.

Sesederhana itu.

Namun ternyata, hal yang paling sederhana justru menjadi hal yang paling sulit dia berikan.

Yang paling menyakitkan bukan ketika dia pergi.

Yang paling menyakitkan adalah karena sebelum pergi, dia pernah membuatku percaya.

Dia pernah berkata,

"Jangan pernah tinggalin aku ya."

Dia pernah berkata,

"Kalau bosan sama aku, ngomong ya."

Dia pernah berkata,

"Aku yang akan nemenin kamu sampai tua."

Dan seperti perempuan yang sedang jatuh cinta pada umumnya, aku mempercayai setiap kata itu.

Aku menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.

Aku menjadikannya alasan untuk bertahan.

Aku menjadikannya alasan untuk memaafkan.

Aku menjadikannya alasan untuk membuka pintu yang sama berulang kali.

Ketika dia pergi karena perempuan lain, aku terluka.

Ketika dia kembali, aku menerima.

Ketika dia pergi lagi karena perempuan yang sama, aku menangis.

Ketika dia kembali lagi, aku membuka pintu sekali lagi.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa manusia bisa berubah.

Bahwa cinta bisa memperbaiki semuanya.

Bahwa kesabaran akan membuahkan hasil.

Sampai suatu hari aku sadar.

Aku bukan sedang memperjuangkan hubungan.

Aku sedang memperjuangkan seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Aku hanyalah tempat persinggahan.

Tempat yang dia datangi saat dunia menolaknya.

Tempat yang dia cari saat hatinya terluka.

Tempat yang selalu terbuka ketika semua pintu lain tertutup.

Dan lucunya...

Saat hidupnya mulai membaik.

Saat usahanya mulai berhasil.

Saat senyumnya mulai kembali.

Justru aku yang ditinggalkan.

Aku masih ingat malam itu.

Aku bertanya dengan suara yang gemetar,

"Kamu mau ninggalin aku?"

Dan dia hanya menjawab,

"Nanti ya..."

Sebuah jawaban yang tidak pernah benar-benar menjadi jawaban.

Hari itu aku mengerti.

Kadang seseorang tidak meninggalkan kita dalam satu langkah besar.

Mereka meninggalkan kita perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Sampai suatu hari kita sadar bahwa yang tersisa hanyalah kenangan dan kebiasaan.

Aku merindukan suaranya.

Aku merindukan teleponnya.

Aku merindukan kebiasaan saling bercerita tentang hari yang kami jalani.

Tapi lebih dari itu...

Aku merindukan diriku yang dulu.

Diriku yang percaya bahwa cinta akan selalu cukup.

Hari ini aku tidak lagi menunggunya.

Bukan karena aku sudah berhenti mencintainya.

Tetapi karena aku akhirnya mulai mencintai diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku...

Aku menutup pintu itu.

Bukan dengan kebencian.

Bukan dengan dendam.

Melainkan dengan sebuah kesadaran sederhana:

Aku bukan rumah singgah.

Aku adalah rumah.

Dan rumah tidak seharusnya ditinggalkan setiap kali seseorang menemukan tempat yang menurutnya lebih menarik.