Bekerja Di Toko Pak Jaya
"Aku sangat bersyukur. Entah bagaimana jika aku tidak menemukan sepatu itu mungkin aku tidak akan berdiri disini atau bahkan tidak akan bertemu denganmu".
"Kala itu aku sangat putus asa atas keadaan yang ku alami. Saat sedang berjalan di bawah hujan tanpa payung".
Aku melihat satu toko yang sedang sepi pembeli. Toko sepatu pak Jaya. Saat lewat di depan toko itu, aku menoleh kearah sepasang sepatu sekolah yang di pajang di luar.
Mengingat sepatu yang ku miliki sudah tidak layak pakai. Aku rasa aku ingin membelinya. Tapi dengan keadaan ku yang sekarang aku tidak bisa.
Aku duduk di bangku taman, di depan Toko Sepatu Pak Jaya. Sambil melihat sepatu itu dan memikirkan apa yang harus ku lakukan. Aku berjalan mendekati toko dan setelah itu pulang sambil berlari. Pemilik toko itu sadar dan mulai berlari menghampiri ku.
Aku tertangkap dan kemudian jatuh. Untungnya aku tidak terluka tapi sepatunya kotor terkena lumpur. Pemilik toko menahanku.. Pemilik toko bertanya kenapa aku melakukan ini. Aku hanya terdiam dengan wajah yang ketakutan. "Aku bisa saja berteriak maling, dan orang-orang bisa saja mengejar mu" ujar pemilik toko.
Dengan wajah yang sedih dan takut aku meminta maaf kepemilik toko. Dan berharap agar tidak di laporkan ke polisi. Pemilik toko itu ingin membiarkan ku. Tapi aku merasa tidak tenang jika hanya minta maaf. Aku bertanya apa yang harus ku lakukan kepada pemilik toko.
Yang awal nya pemilik toko itu terlihat menakutkan . Dia tersenyum dan kemudian menepuk pundak ku. "Kalo memang kamu ingin benar benar bertanggung jawab kamu boleh bekerja di toko ku selama sebulan".
"Baiklah" Aku menyetujui tawaran itu.
Tapi aku berpikir yang di tawarkan pak Jaya bukan lah bekerja tapi sebagai hukuman dan tidak akan di gaji. Walaupun begitu aku seharusnya senang karena tidak di laporkan kepolisi atau pun di viralkan.
Aku di pekerjakan sebagai penjaga toko. Aku bekerja Setelah pulang sekolah dan pulang sekitar jam 10 malam. Yang ku tau toko pak Jaya tutup jam 12 malam. Aku mencoba menawarkan diri untuk pulang sesuai jam tutup toko. Namun pak Jaya menolak karena dia menyuruh ku untuk menyempatkan waktu untuk belajar.
Di sekolah aku selalu menyendiri. Tapi itu bukan lah masalah bagi ku. Karena aku merasa lebih tenang. Dulu saat Smp aku ingin sekali mempunyai banyak teman. Aku berusaha menjadi anak yang baik, rajin, dan berprestasi.
Aku punya 4 teman baik. Aku sangat baik kepada teman-teman ku. Tapi pada suatu hari aku mendengar obrolan mereka yang membicarakan diriku.
"Revan itu mudah sekali di manfaatkan ya" obrolan mereka. kata-kata itu selalu teringat di pikiran ku.
Mereka hanya menggunakan kebaikan orang lain untuk diri mereka sendiri. Saat aku tau kalau mereka hanya memanfaatkan ku. Sifat mereka yang dulu nya sangat baik malah berbalik. Saat bertemu mereka selalu mengejekku miskin, jelek, babu, dan banyak lagi. Tidak hanya di ejek mereka lebih kelihatan membully ku.
Lulus SMP aku memutuskan untuk masuk ke SMA Mekar Raya yang jauh dari tempat tinggal ku. Alasan nya cuma karena aku tidak ingin bertemu dengan mereka atau pun orang yang ku kenal dari SMP ku.
Saat SMA aku hanya menyendiri. Setiap kali ada yang mau berteman dengan ku. Aku selalu teringat kata kata mereka. Walau merasa tenang aku lebih merasakan kesepian. Aku masih ingin mempunyai teman.
Sebelum aku bekerja di toko pak Jaya aku berjalan dan duduk di bangku taman di depan toko. Sambil memikirkan apakah yang harus ku lakukan. Saat tertangkap aku merasa takut. Tapi aku melihat kebaikan pak Jaya yang sangat berbeda dari orang lain.
Di hari terakhir aku bekerja entah apa yang ku pikirkan aku ingin sekali tetap bekerja di sini. Tak ada banyak tempat untuk bisa berbicara dengan banyak orang. Hanya di toko sepatu ini aku bisa berbicara tenang. Dan di toko ini aku banyak belajar tentang perdagangan. Ajaran pak Jaya sangat mudah di pahami.
Sebelum pulang aku pergi ke ruangan pak Jaya untuk berterimakasih.
"Pas sekali kau datang Revan padahal aku mau memanggilmu" kata pak Jaya.
"Hah, ya aku di sini mau berterimakasih atas yang di berikan bapak untuk ku" aku berkata sambil terkejut tipis dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Aku juga berterimakasih karena kamu bekerja di sini pekerjaan ku jadi ringan" balas pak Jaya.
Pak Jaya memanggilku untuk memberikan gaji ku selama sebulan dan juga beliau memberikan sepatu yang pernah ku curi.
Aku terkejut ku kira aku bekerja tanpa di gaji. Aku menganggap ini hukuman karena aku mencuri sepatu. "Tapi... pak.. bukannya saya bekerja agar tidak di laporkan kepolisi atau di viralkan ". "Kok... saya di gaji".
"Iyaa.. kamu memang bekerja untuk itu".
"Tapi pak bukannya saya..".
"Dan karena kamu bekerja di sini kamu berhak mendapatkan gaji".jawab pak Jaya yang memotong ucapanku.
"Tapi sepatu ini"kataku bertanya.
"Anggap saja sepatu itu aku yang kasih, karena kamu sudah bekerja keras"jawab pak Jaya.
"Lagi pula kamu membutuhkan nya kan?"tanya pak Jaya.
Aku sangat berterima kasih kepada pak Jaya dan aku bingung apa yang mau aku lakukan kedepannya.
"Pak kalau saya boleh melamar kerja di sini apakah saya boleh saya bekerja di sini".
"Wah tentu saja boleh, padahal saya mau menawarkan nya untuk mu. Tapi untuk sekarang kamu tidak boleh bekerja"jawab pak Jaya.
Pak Jaya senang kalau aku bekerja disini. Tapi pak Jaya melarang ku dia tau kalau aku akan menghadapi UAS (ulangan akhir semester) kelas 11. Pak Jaya ingin aku belajar untuk menghadapi UAS dan mendapatkan nilai yang baik.
Pak Jaya juga menyuruh putrinya untuk tidak bekerja. Putri pak Jaya juga bekerja di toko. Nama putri pak Jaya adalah Aluna. Aluna bekerja setiap hari rabu dan juga sabtu.
Aluna adalah siswi dari sekolah yang sama seperti ku dia duduk di kelas 11A sedangkan aku duduk di kelas 11F. Sangat jarang sekali aku melihat Aluna secara langsung di sekolah karena jarak kelas yang lumayan jauh. Aluna sangat aktif mengikuti acara acara sekolah dia selalu tampil menjadi bintang tamu.
Pak Jaya menyarankan kan putri nya untuk belajar bersama ku. Seperti nya pak Jaya tau kalau aku tidak sepintar anak nya yang selalu mendapatkan peringkat 2 seangkatan. Aku yang berada di peringkat seratusan harus nya senang karena bisa belajar bersama Bintang Mekar.
Bintang Mekar adalah gelar Aluna di sekolah. Tidak diketahui apa alasan nya tiba tiba saja ada yang memanggilnya begitu dan semua orang ikut memanggil nya begitu.
Aku mencoba menolak karena aku takut mengganggu Aluna belajar. Tapi Aluna setuju dengan saran ayah nya.
"Mungkin Aluna tidak bisa menerima pekerja yang seperti ku" pikirku.
"Revan boleh kah kita bertukar nomor" kata Aluna.
Setelah bertukar nomor Aluna langsung pergi " sampai jumpa besok ya Revan".
Besoknya Aluna mengajak untuk belajar di rumahnya. Rumah Aluna tidak jauh dari toko. Penjelasan Aluna sangat mudah untuk di pahami.
"Bintang Mekar sekolah memang pintar ya" ucap ku di dalam hati sambil mendengarkan Aluna menjelaskan kan. Tidak hanya pintar dia juga cantik dan baik.
"Aluna kenapa kamu tidak belajar bersama teman-teman mu" tanya ku.
"Loh. Bukannya kamu juga temanku" jawab Aluna.
"Eh.. maksudku sahabat atau pacar mu?" Tanya ku lagi.
"Aku gak punya pacar dan sahabat ku sedang belajar berduan dengan pacarnya "jawab Aluna.
Kupikir siswi populer seperti Aluna mempunyai pacar. Kalau punya pun pastinya banyak yang akan tau. Apa cocok ya aku dan Aluna. Hmmm bicara saja masih canggung. Mana mungkin Aluna mau seperti ku.
"Kamu sendiri gimana nggak belajar bareng teman-teman mu kah" tanya Aluna.
"Oh aku hanya ingin sendiri" jawab ku.
Seminggu belajar bersama Aluna, yang ku kira cuma belajar sehari doang ternyata malah seminggu dan itupun Aluna yang mengajak ku. Di hari terakhir belajar bersama karena esok sudah mulai UAS. Aluna menantang ku untuk adu nilai.
Aku yang berada di peringkat ratusan ditantang oleh Bintang Mekar yang peringkat 2 rasa nya tidak mungkin untuk mendapat peringkat 1. Peringkat 50 besar pun belum tentu.
Aluna pun mengganti tantangan nya. Jika aku bisa mencapai 50 besar aku boleh meminta apapun dan jika tidak bisa maka Aluna yang boleh meminta apapun. Aku menyetujui saja tantangan Aluna. Lagi pula kapan lagi bisa seperti ini.
UAS pun tiba dan aku menjawab pertanyaan dengan sungguh sungguh walaupun ingin menang tapi aku tidak tau apa yang akan ku pinta. Apa Karena aku belajar bersama Aluna, banyak soal yang mudah ku kerjakan.
Aluna yang percaya padaku bahwa aku bisa mencapai 50 besar selalu memberikan ku semangat melalui pesan wa. Lalu tiba hari yang ditunggu tunggu. Pengumuman nilai UAS.
Peringkat 3 besar sudah di pastikan di pegang oleh para Bintang sekolahan yaitu Bintang Mekar yaitu Aluna, Bintang Sejati yaitu si peringkat 1 Fathan Alfarizi, dan Bintang pilihan yaitu si peringkat 3 Rania Fathia Rahma.
Di depan papan pengumuman sangat heboh namun Aluna terlihat sangat senang. Dia berhasil merebut peringkat 1 dan menjatuhkan Bintang Sejati. Bintang Sejati yang melihat itu hanya tertawa dan dia mengucapkan sesuatu kepada Aluna yang tidak bisa didengarku.
Sementara itu, aku gagal masuk ke 50 besar. Aluna melihat kearahku dan aku hanya menggelenkan kepala. Aku hanya bisa mencapai peringkat 51 dengan rata-rata nilai 80,6.
Setelah selesai UAS aku ingin kembali bekerja di toko pak Jaya. Sudah seminggu lebih aku tidak kesini. Walaupun aku kerumahnya Aluna. Aku tak sempat mampir ke toko. Aku pergi menemui pak Jaya untuk meminta izin agar bisa kembali bekerja. Pak Jaya sangat senang saat aku kembali bekerja. Tapi pak Jaya menyuruh ku untuk istirahat hari ini dan mulai bekerja di hari senin.
Saat aku keluar ruangan pak Jaya aku bertabrakan dengan seseorang.
"Aduh eh maaf aku... eh Aluna!"
"Aduh... eh Revan! Maaf ya aku nggak liat liat".
"Eh nggak aku yang minta maaf" kata ku.
"Aku yang minta maaf tadi aku buru buru"
"Aku yang minta maaf tadi aku buru buru"
"Hahahah"
"Yaudah kalau begitu kita saling memaafkan aja" kata Aluna sambil mengangkat tangan dan tersenyum.
Senyuman Aluna bagaikan bunga baru Mekar. Begitu indah dipandang. Benar benar Bintang Mekar ya.
"Kamu bekerja di lagi kan" tanya Aluna.
"Iya, senin aku akan kembali bekerja" jawab ku.
"Oh, sampai jumpa lagi ya aku mau ke ruangan ayah ku dulu" kata Aluna.
"Oh ya"