BAB 1 - INVESTASI DUA RATUS RIBU
Kegelapan di gudang belakang SMA Cendekia Arunika ini benar-benar tidak tahu diri. Ini bukan sekadar gelap biasa. Ini adalah jenis kegelapan yang seolah punya massa, punya berat, dan punya niat jahat untuk masuk ke pori-pori kulit lalu memeras ginjalmu sampai kering. Aroma debu kayu yang melapuk bercampur bau apek seragam olahraga usang di sini sudah cukup untuk membuat nyali preman pasar sekalipun menciut drastis.
Tapi tidak bagi Abhinaya Arkatama.
Pemuda ini sedang duduk bersila di atas lantai semen yang dinginnya minta ampun. Di depannya, sebatang lilin merah pendek menyala dengan api yang goyang patah-patah seperti penari yang sedang encok. Cahaya merahnya memantul di wajah Abhi yang kaku. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan irama yang sangat tidak beraturan.
(Ayo, Abhi! Fokus! Jangan sampai dua ratus ribu ini jadi donasi cuma-cuma lagi! Kalau sampai gagal, gue mending makan kerupuk doang sebulan!) batinnya sambil mengatur napas yang sudah mirip orang sesak napas beneran.
Di tangan kanannya, ia memegang botol kaca kecil tanpa label. Isinya? Cairan keruh yang baunya adalah kombinasi maut antara bunga kamboja busuk dan amis darah kering. Cairan ini adalah hasil transaksi gelap dengan Master_Mistik66 di sebuah forum supranatural setelah debat kusir panjang di kolom komentar. Penjual itu bahkan memberikan panduan PDF yang katanya bisa membuat mata manusia menembus batas dimensi.
"Langkah ketujuh," gumam Abhinaya pelan. Suaranya bergema tipis, terdengar menyedihkan di ruangan sunyi itu. "Oleskan searah jarum jam pada kelopak mata sembari menahan napas selama empat puluh detik."
Dengan jari telunjuk yang gemetar hebat seolah sedang memegang bom aktif, ia menyentuh cairan itu.
Awalnya? Dingin. Dingin sekali. Seolah ada jarum es yang mencoba menembus tengkoraknya. Tapi begitu cairan itu meresap, rasanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat dalam satu milidetik.
PANAS!
Ini bukan panas biasa! Rasanya seperti kornea matanya sedang digores pakai ujung sendok logam yang baru saja dibakar di atas api kompor selama tiga jam!
Abhi mengatupkan rahangnya kuat-kuat sampai giginya bergeletuk keras. Air mata mengalir deras seperti keran bocor. Tapi dia bertahan. Dia harus bertahan! Menurut panduan itu, rasa sakit ini adalah tanda bahwa selaput duniawi sedang dikikis paksa oleh energi murni. (Energi murni matamu! Ini sih namanya iritasi tingkat dewa!)
Tiba-tiba, di tengah perjuangannya menahan perih yang membakar jiwa dan raga itu...
BRAKK!
Pintu gudang yang berkarat itu dihantam sampai menghantam dinding beton dengan suara yang sanggup membuat jantung copot dari tempatnya. Abhi tersentak hebat sampai keseimbangannya hilang dan dia terjatuh terjengkang ke belakang. Lilin merah di depannya mati seketika, menyisakan asap hitam yang baunya sangit luar biasa.
"Abhinaya Arkatama! Ngapain lo di sini jam segini?!"
Suara itu setajam pisau bedah yang baru diasah. Sangat penuh otoritas. Cahaya senter yang sangat terang langsung menyambar wajah Abhi, membuat matanya yang sudah perih menjadi buta total seketika. Abhi mengerang, mencoba menutupi matanya dengan telapak tangan. Cahaya itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk sisa-sisa penglihatannya.
Nadira Anindya berdiri di sana. Sosoknya tampak sangat sempurna sampai ke tahap yang menyebalkan. Seragam almamaternya rapi tanpa satu pun lipatan yang salah. Rambut hitamnya diikat kuda dengan sangat kencang, mungkin saking kencangnya sampai otaknya pun ikut tertarik. Kacamata bingkai hitamnya bertengger sempurna di atas hidungnya yang bangir.
"Dira... gila ya lo! Nyawa gue hampir terbang ke bulan, tahu!" seru Abhi sambil meraba-raba lantai, panik mencari botol minyaknya yang hampir terguling.
"Kaget?" Nadira melangkah masuk. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai semen terdengar sangat teratur. Tuk. Tuk. Tuk. Kedengarannya seperti detak jam yang sedang menghitung mundur sisa logika di ruangan itu. "Bhi, ini udah jam enam sore. Gerbang belakang kudunya udah dikunci. Terus ini bau apaan sih? Lo lagi bikin senjata kimia buat ngebom sekolah?"
Nadira mendekat dan mengarahkan senternya tepat ke botol kecil di tangan Abhi. Dia mengernyitkan dahi seolah sedang melihat kotoran paling menjijikkan di bawah mikroskop.
"Minyak kelapa, ekstrak belerang, sama formalin?" Nadira mendengus, lalu menatap Abhi dengan tatapan menghakimi yang sanggup membuat orang paling berdosa pun langsung tobat di tempat. "Secara biologis, apa pun yang lo oles ke mata itu cuma bakal ngerusak jaringan epitel. Lo beneran pengen liat hantu atau emang cita-citanya jadi donatur tetap RS Mata?"
Abhi akhirnya berhasil berdiri. Dia membersihkan debu dari celana abu-abunya dengan wajah cemberut maksimal. "Lo nggak paham, Dira. Ini tuh soal frekuensi! Dunia ini punya banyak layer, dan mata manusia cuma nangkep spektrum yang sempit banget. Gue cuma lagi usaha dikit biar jangkauannya makin luas!"
"Cahaya ya cahaya, Bhi. Fisika dasar, please," balas Nadira datar. Dia melipat tangan di depan dada. "Spektrum cahaya nggak bakal melebar cuma gara-gara lo pake minyak bau bangkai begini. Sesuatu yang nggak bisa diukur secara ilmiah itu artinya nggak ada. Itu cuma proyeksi ketakutan dari otak purba lo yang kebanyakan nonton film horor murahan."
Abhi menghela napas panjang. Berdebat dengan Nadira itu rasanya seperti menabrakkan kepala ke tembok beton. Sia-sia dan cuma bikin sakit kepala. Nadira adalah siswi terpintar, peraih medali emas olimpiade sains, dan orang yang paling tidak punya imajinasi di seluruh kota. Baginya, dunia adalah serangkaian rumus yang membosankan.
Tiba-tiba, dari balik bayangan di luar pintu, muncul satu lagi makhluk. Pemuda berwajah rupawan tapi tampangnya lesu sekali, seolah dia baru saja memikul beban seluruh dunia di pundaknya.
"Elah, kalian kalau mau pacaran di gudang berdebu gini minimal info-info lah. Gue nyariin ampe ke kantin, tau," gumam Kavindra tanpa mengangkat wajah dari layar ponselnya yang menyala terang. Dia mengembuskan napas panjang lalu memasukkan ponselnya ke saku.
"Vin, lo ikut juga?" tanya Abhi.
"Iyalah! Mana mungkin gue lewatin momen sohib gue cosplay jadi dukun sakti," Kavindra terkekeh hambar. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding gudang yang kusam. "Tapi sumpah, Bhi. Baunya lebih parah dari kaos kaki olahraga gue yang nggak dicuci seminggu. Pantesan tadi pagi cewek-cewek nggak ada yang nengok ke gue. Padahal gue udah dandan maksimal, tapi mereka malah asyik ngobrol kayak gue ini makhluk transparan."
Nadira menyentuh bingkai kacamatanya, gestur khas sebelum dia mengeluarkan kalimat maut. "Mungkin mereka bukan nggak liat lo, Vin. Mereka cuma punya selera yang bagus aja."
"Anjir, Dira, pedes banget! Dada gue langsung sesek!" Kavindra meringis sambil memegang dadanya seolah baru saja kena serangan jantung beneran.
Abhi mencoba mengucek matanya yang masih terasa sangat perih. Alih-alih melihat makhluk halus yang keren, dunianya sekarang malah jadi buram dan berkunang-kunang. Warna-warna di sekitarnya tampak bergeser aneh. Kepalanya pening. Dia merasa sangat bodoh. Dua ratus ribu rupiah itu bisa buat makan nasi padang sepuluh porsi dengan rendang jumbo, dan dia membuangnya demi iritasi mata ini!
"Udahlah," Abhi mendesah kecewa berat. "Cabut yuk. Eksperimen hari ini gagal total. Master_Mistik66 beneran tukang tipu!"
Namun, saat dia berbalik untuk mengambil tasnya, langkahnya terhenti secara mendadak.
Di tengah pandangannya yang masih berbayang karena efek minyak sialan itu, Abhi melihat sesuatu. Di sudut gudang yang paling gelap, tepat di batas cahaya senter Nadira, tampak sekelibat distorsi udara. Bentuknya seperti uap panas yang membubung di atas aspal saat siang bolong, tapi yang ini berbentuk siluet tinggi yang memudar dalam sekejap.
Abhi mengerjap keras. Rasa perihnya kembali menusuk. Saat dia melihat lagi, siluet itu hilang. (Sial, apa ini cuma efek iritasi? Atau mata gue mau copot?)
"Bentar," Nadira menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Dia mengarahkan senter ke sudut gudang yang dipenuhi tumpukan meja kayu tua. "Bhi, lo yang mindahin kursi di pojok situ?"
Abhi menoleh. Di sudut itu, sebuah kursi kayu tua tampak terbalik di tengah lantai. Posisinya jauh sekali dari tumpukan asalnya yang tertata rapi.
"Enggak. Tadi kursinya masih ketumpuk rapi. Gue berani sumpah!" jawab Abhi jujur. Jantungnya mulai maraton lagi.
"Mungkin tikus gede kali. Tikus di sini kan makannya sisa kantin, badannya udah segede kucing," gumam Kavindra, meskipun sekarang dia sudah berdiri satu langkah lebih dekat ke pintu keluar.
Nadira berjalan mendekati kursi itu dengan gaya detektif. "Tikus nggak bakal kuat buat ngebalik kursi seberat ini. Dan angin? Nggak ada aliran udara di sini. Semua jendela ditutup rapet."
Mereka semua terdiam. Suasana mendadak jadi sangat tidak enak. Angin sore yang kering berdesir di luar, tapi di dalam gudang, udara mendadak jadi beku seperti di dalam freezer. Lalu, dari balik kegelapan di belakang tumpukan meja, terdengar suara geraman rendah yang sangat halus. Suaranya mirip statis radio rusak yang dicampur dengan suara orang sesak napas.
KREEKK...
Kursi kayu yang terbalik itu bergeser. Bergeser sendiri beberapa sentimeter ke arah mereka! Suara gesekannya di lantai semen terdengar sangat memilukan, seolah sedang menggores saraf mereka.
Abhi mematung. Matanya yang merah masih terasa terbakar, tapi sekarang dia benar-benar tidak bisa berpaling.
"Vin..." bisik Abhi, matanya tak lepas dari kursi itu. "Itu bukan lo yang tarik pake benang pancing, kan? Kalau iya, nggak lucu, sumpah!"
Kavindra menggeleng cepat dengan kecepatan cahaya. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah pucat pasi, sudah seperti kertas HVS. "Bhi... kaki gue bahkan nggak napak di deket situ! Gue mau balik!"
Tepat saat Kavindra selesai bicara, dari sudut tergelap gudang, terdengar suara batuk kering yang tajam. Kedengarannya seperti dua keping tulang yang digesekkan dengan paksa.
UHUK!