Prolog - [ REVISI ]
Ada sebuah cerita yang ingin Aku sampaikan tapi Aku tak tau dengan siapa Aku kan bercerita.
Tapi apakah Kau pernah merasakan betapa menyakitkan ditinggal begitu saja oleh orang yang kita cinta? Di tinggal pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali?.
Oh iya sebelumnya perkenalkan nama ku Antasya Sabil Nugroho. Nugroho adalah nama belakang Papaku.
Di keluarga ku hanya papa yang sayang padaku entah kenapa aku juga tidak tahu.
Sedangkan mama sama sekali tidak peduli padaku sepertinya dia hanya menyayangi kakak ku dan adik bungsu. Tapi sudahlah lupakan saja aku pun tidak peduli dengan itu semua.
Oh iya aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bijak sana namun sombong dan angkuh. Kadang dia bersikap adil kadang juga tidak, namun dia tetaplah Kakak yang baik bagiku.
Namanya Riansyah Catur Nugroho jarak antara Aku dan Kak Rian hanya 1,5 tahun jadi wajar saja kalau aku dan Kak Rian suka bertengkar, dulu bukan sekarang.
Dulu sifatnya sangat jahil, tengil, manja dan sering membuat aku menangis namun setelah Ia menginjakan kaki ke SMP Ia berubah tapi tidak banyak.
Berubah dalam arti sikapnya, Ia jadi lebih mandiri, dewasa, tertutup dan kadang ia juga suka menyanyikan aku sebuah lagu dengan gitar kesayangannya.
Setelah ia masuk SMA ia benar-benar ingin mengejar cita-citanya sebagai Abdi Negara (TNI). Ia sangat tekun sekali saat belajar sedangkan saat ia bersama keluaraga ia benar - benar menjadi contoh bagi Adik - adiknya.
Aku pernah bertanya kepadanya "Kak, Kakak punya pacar ga?" Dia hanya mengerutkan alisnya yang tebal lalu ia menjawab,
"Untuk apa pacaran?, mending fokus belajar terus ngejer cita-cita. Kalau Kita udah sukses nanti, pasti ada aja jalan untuk ketemu sama jodoh kita gitu."
spontan Aku hanya tertawa lalu menjawab perkataan Kak Rian.
"Sejak kapan Kak Rian jadi sok bijaksana dan puitis gini?" Dia melirik ke arahku lalu tangannya mengacak-acak rambutku dan bilang
"Bukan sok bijaksana atau puitis. Tapi untuk apa pacaran? Ga ada manfaatnya tau Sya!" aku hanya bisa menyengir dan bilang, "Iya juga ya Kak."
Dia terkadang baik dengan ku namun kadang juga Ia jahat padaku. Seperti saat Aku sedang bermain sepeda bersama Kintara mengelilingi komplek perumahan.
Padahal saat itu, aku sudah memberi tahu Kintara jangan terlalu ngebut saat di daerah turunan yang memiliki simpang empat.
Namun Kintara tidak mendengarkan aku ia malah mengajak Aku untuk balapan menuruni tempat itu.
Belum saja aku selesai menghitung Ia sudah lebih dulu menginjak pedal sepedanya dan menggoes sepedanya dengan saat cepat.
Saat itu pula ada anak Laki-laki yang bermain sepeda dari arah kanan simpang itu.. ya... lalu mereka bertabrakan.
Lukanya mungkin tidak terlalu fatal. Hanya keseleo di bagian kaki kanan, tangan sebelah kanan, dan dengkul kaki kiri lecet. Hanya itu saja yang terluka namun mama dan Kak Rian memarahi ku dan bilang
"Kamu bener-bener ga bisa jadi Kakak yang baik ya!, masa Cuma main sepeda kayak gini aja kamu buat Adek kamu kecelakaan!" aku hanya bisa diam dan menunduk sembari menahan air mata.
Ya kelanjutan dari cerita itu sangat panjang sekali susah rasanya untuk di jelaskan.
Kintara Mishel Nugroho adik bungsu ku. Dia ini memang sangat di sayang oleh mama, bahkan sangat di manja oleh mama dan papa.
Terkadang aku iri sekali dengannya karna tanpa mencari perhatian dari mama, mama pun akan selalu welcome dengannya beda denganku. Aku harus mencari perhatiannya dulu baru mama akan melihatku.
Kintara memiliki sifat yang berbeda. Ia manja, cerdik, pengadu dan dramatis. Mengapa dramatis? Ya karna dulu aku dan dirinya pernah bertengkar lalu Ia megadu ke Mama bahwa aku mencubitnya di bagian paha sampai biru dan memukulnya dengan sisir di bagian tangan.
Padahal kenyataan nya saat aku dan Kintara bertengkar, aku hanya melemparkan barang-barang miliknya ke wajahnya lalu aku membanting pintu kamarku dan tidak ada faktor memukul atau mencubit dirinya.
Seketika itu, Mama marah besar padaku begitu juga dengan Kak Rian, sedangkan papah.. papah marah juga padaku namun papah masih bisa meredakan emosinya dan melemparkan senyum hangat kepadaku.
Sejak saat itu pula banyak kejadian yang menimpa diriku. Sampai-sampai Mama membenciku.
di hari Kak Rian pergi untuk mulai memantapkan cita-citanya, mama pun menyuruh Kintara untuk menjutkan sekolahnya di Hongkong dan Aku tetap meneruskan SMA ku di tempat ini. Di saat itu pula, mulai terlihat sedikit keretakan hubungan antara keluarga kami.
Ya begitulah hidup kadang suka dan kadang duka. Namun aku harus menghadapinya dan tak pernah menyalahi takdir atau apapun itu.
Awal memanglah indah namun di tengah keindahan itu datang sebuah penyesalan terbesar yang hampir saja membuatku mati dan kehilang arah untuk pertama kalinya.
Ya, di Hari kematian papa. Setelah Papa meninggal, mama pun pergi ke jepang meninggalkan aku berdua bersama bi ani tanpa pamit.
Rasanya aku ingin menghilang dari bumi ini, mungkin itu jalan satu-satunya yang akan kutempuh suatu saat nanti.
Aku mungkin bukan orang yang baik namun dia lah yang menyadarkan aku dan dia juga tangan yang membuat ku berdiri lagi sekaligus 'Sang Motivator' terbaik di dunia ini.
Berdiri denganya dan berada disampingnya mungkin itu hal yang menyenangkan tapi sayang itu tidak bertahan lama, karna tuhan lebih sayang padanya dibandingkan sayangku kepadanya.
Kacau, hancur, kehilangan arah lagi, dan masih banyak hal yang ku rasakan setelah dia menghilang.
Mencoba tersenyum di keramain orang-orang tidaklah mudah dan mempertanggung jawabkan sendiri atas apa yang aku lakukan tidalah semudah yang mereka bayangkan.
"Huh.... Entahlah aku tak tahu sampai kapan ini kan berakhir."
Akan kah semua membaik?
Akan kah Aku, Kak Rian dan juga Kintara bersama lagi?
Aku selalu menginginkan hal itu, walau berat. Tapi aku ingin kita bisa berkumpul bersama, tertawa bersama , dan mengobrol bersama.
Apakah ada sebuah tangan yang akan menarik aku keluar dari jurang ini? dan memperbaiki semuanya? Semua yang sudah runtuh?
"Huh... Aku akan selalu merindukan mu wahai pujaan hatiku."
*Sejak saat itu aku tak pernah ingin hidup dan mengenal cinta lagi.
...Indonesia, 10 – 2019...
"Kalo lo mau denger curhat gw bakal panjang banget, lo siap?"
"Selalu siap kita mah Sya! betul gak?"
"Betul atuh."
"Iya kita always dengerin lu cerita."
"Oke, oke."
Cerita ini bermula saat gw duduk di bangku kuliah awal hingga semester akhir dan baru saja menyelesaikan sidang skripsi. sekarang hanya menunggu wisuda saja.
Bersambung...