Chapter 1 - Mr. Loverman
Di dalam kegelapan, aku meringkuk di sudut dinding kamar yang kasar. Tubuhku terasa berat seolah ditindih beban yang tak terlihat, mataku perih, sudut mataku menghitam dan berkerut.
Terdapat jejak air mata yang mengering di pipiku, sementara itu cahaya bulan masuk menembus jendela, seperti berusaha menghibur dan menemaniku.
Mereka bilang, patah hati pertama adalah yang paling menyakitkan.
Aku tertawa pahit, aku sudah mengalaminya berkali-kali, namun rasa pahitnya tetap menjalar sampai ke tenggorokan, dan dadaku masih terasa terbakar.
Di pojok tanganku yang terkulai lemas, aku menggenggam satu-satunya harapan terakhirku.
Tulisan "BUY" dan "SELL" bersinar terang ibarat cahaya yang akan menyelamatkanku di tengah kegelapan malam yang dingin ini. "Binen" aplikasi trading yang populer di kalangan anak muda, tiba-tiba tampak seperti jalan keluar.
Haruskah aku menekan tombol beli dengan leverage tertinggi? Mungkin ini bisa mengubah hidupku, pikirku, meski sadar itu hanya ilusi.
Tanganku gemetar, tak mampu melanjutkan pikiran bodohku.
Di tengah pikiranku yang kalang-kabut, aku berusaha mencari pelarian.
Pelarian yang bisa membuatku meninggalkan dunia sejenak...
Aku teringat sebuah botol yang biasanya ia larang untuk minum.
Aku paksakan badanku untuk berdiri, tanganku meraih dinding kasar di sebelahku.
Kakiku mulai melangkah keluar kamar, meninggalkan kamar yang dipenuhi dengan aura kesedihan.
Di dapur, aku membuka kulkas yang bertuliskan "Makanan untuk kita berdua" dengan simbol hati di sampingnya.
Di dalamnya terdapat sebuah roti, kacang-kacangan, dan beberapa cokelat. Namun tanganku meraih minuman di paling ujung bertuliskan "Bir".
Sejenak ilusi dirinya meraih tanganku dengan muka cemberut di sampingku.
Aku sadar... itu hanya ilusi, jadi aku tetap mengambilnya.
Mungkin karena kelelahan tubuh dan mental yang signifikan, tanganku mulai gemetar, membuat botol itu jatuh ke lantai dengan dentuman keras.
Prang! Suara itu terdengar terlalu nyata memecah keheningan di sekitar.
Aku bertanya pada diriku sendiri...
Mulai dari mana semuanya salah?
Rasa kebencianku meluap pekat.
Aku mengambil satu botol lagi, namun dengan tujuan yang berbeda.
Prang! Suara itu terdengar lagi namun dengan hasil yang berbeda.
Darah mulai mengalir dari dahiku.
Rasa sakitnya menyebar, dan air mata yang sudah lama kutahan, mengalir sepi membentuk sungai kecil di pipiku.
Sejak kapan aku menjadi seperti ini?
Aku hanya seorang pria yang mendambakan cinta dan kasih sayang.
Aku menatap tanganku sendiri, menyesali kelemahan, menyesali diriku sendiri.
Andai saja ada cara untuk kembali ke masa lalu...
Aku harusnya tidak melakukan hal-hal bodoh itu, tidak memaksa, tidak terlalu berekspektasi, tidak sampai membuatnya pergi meninggalkanku.
Hah... betapa menyedihkan diriku yang masih bermimpi sampai sekarang.
Namun, rasa sakit di kepalaku terlalu nyata tanpa memberiku waktu sejenak untuk bermimpi.
Moodku untuk minum telah menghilang, aku mengambil langkah kembali memasuki kamar tanpa membereskan serpihan kaca tersebut.
"Apakah ini sudah akhir?" Aku benar-benar harus mengistirahatkan diriku dan menghilang. Mungkin... "menghilang" adalah satu-satunya jalan terakhir.
Aku mulai menghapus satu per satu pesan di media sosial, mencoba memutus segala koneksi dengan dunia luar. Namun sebuah pesan lama menarik perhatianku:
"Hai, apa kabar?"
Aku tidak mengenali pengirimnya. Rasa penasaran muncul, tapi aku menekan tombol hapus sebelum membacanya. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun. Tidak hari ini. Tidak sekarang.
Dengan napas berat, kututup layar ponsel dan membiarkan sunyi mengisi ruangan. Detik demi detik terasa lambat, kesendirian itu sendiri mencekam, tapi entah kenapa, ada sedikit kelegaan di hatiku saat aku mulai memutus koneksi dengan dunia luar.
Kesendirian itu hanya menyisakan aku dan pikiranku sekarang.
Sakit kepalaku masih berdenyut, pikiranku mulai kabur. Rasanya aku akan hilang kesadaran kapan saja.
Lalu sebuah tangan muncul, perlahan membasuh lukaku.
Membelit perban mengelilingi kepalaku.
Memelukku dengan erat.
Tentu saja itu hanya ilusiku sendiri.
Di tengah pikiranku yang mulai mengabur, aku kembali bertumpu pada dinding yang kasar di sebelahku.
Aku harus menutup jendelanya.
Tiba-tiba dunia di sekitarku runtuh. Bruk! Suara tubuhku yang jatuh terdengar dengan keras.
Dunia yang tadi gelap perlahan memutih, menampilkan langit yang cerah di luar jendela.
Riuh rendah suara di sebuah kafe kecil yang hangat. Bau kopi yang kuat dan tawa orang-orang di sekitar terasa sangat jauh, namun nyata.
Kalender yang tergantung menunjukkan tanggal 25 November 2024. Itu tepat tahun lalu.
Di sana aku duduk, merapikan kemeja dan dasi berkali-kali di depan cermin kecil. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut akan sesuatu, tapi karena menunggu kehadiran seseorang.
Lalu, dia datang sembari tersenyum.
Senyumnya sore itu adalah jenis senyum yang membuatku percaya bahwa semua masalah di dunia bisa selesai hanya dengan menatap matanya.
Dia duduk di hadapanku, menceritakan hal-hal kecil tentang yang ia temui di perjalanannya, sementara aku hanya terpaku. Aku mengingat setiap detailnya, bagaimana helai rambutnya jatuh ke dahi, atau bagaimana dia menyesap minumannya dengan pelan.
"Kamu kok diem banget," katanya sambil tertawa kecil. "Ada yang salah ya?"
Aku menggeleng cepat. "Engga, aku cuma lagi merekam momen ini dalam ingatanku"
Kalimat itu terdengar romantis saat itu, tapi sekarang aku sadar, itu adalah awal dari obsesiku.
Aku merasa dia adalah jawaban dari segala keresahanku, satu-satunya "investasi" emosional yang tidak boleh gagal.
Namun, bahkan di saat-saat seperti itu, ponselku yang tergeletak di meja tetap menyala redup, menampilkan grafik pergerakan harga yang tak pernah tidur.
Sesekali mataku melirik ke sana, bukan karena aku tidak menghargainya, tapi karena aku ingin memastikan bahwa aku cukup "kuat" secara finansial untuk menjaganya tetap tersenyum seperti itu selamanya.
"Kamu kerja terus..." ucapnya lembut, membuyarkan lamunanku. Dia meletakkan tangannya di atas ponselku, menutup layar yang penuh dengan angka-angka rumit itu. "Dunia engga bakal runtuh meskipun kamu engga lihat grafik itu selama satu jam."
Aku tersenyum tipis, menggenggam jemarinya. "Aku justru kerja keras supaya dunia kamu engga pernah runtuh."
Saat itu, aku merasa sudah melakukan hal yang benar. Aku merasa menjadi pria yang bertanggung jawab dengan tetap fokus pada tujuan.
Aku tidak sadar bahwa dengan terlalu fokus menatap masa depan yang ingin kubangun untuknya, aku justru kehilangan momen-momen kecil yang dia butuhkan dariku di masa sekarang.
Perlahan, senyumnya memudar. Suara tawa di kafe itu meredup, tergantikan oleh kesunyian yang mencekam. Kafe yang hangat itu retak, runtuh berkeping-keping, dan aku terjatuh kembali ke dalam kegelapan.
Aku membuka mataku. Dunia kembali menjadi kamar yang kasar, lembap, dan bau amis."
Cahaya matahari yang menyelinap dari celah gorden terasa seperti sembilu yang menyayat kelopak mataku.
Aku mengerang.
Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menancap di sana. Bau amis darah yang mengering menyeruak, bercampur dengan aroma alkohol yang tumpah di bajuku.
Ternyata semua itu hanya mimpi, sebuah kejadian dari masa lalu.
Namun satu hal lagi yang membuatku kaget...
Aku masih hidup. Sialan.
Aku bangkit dengan bertumpu pada siku yang gemetar.
Serpihan kaca dari botol yang semalam kuhantamkan ke kepala beberapa di antaranya masih menempel di kulitku yang mengeras karena darah kering.
Aku merogoh cermin kecil yang ada di saku jaket hitamku yang tergantung.
Aku menatap pantulan diriku di cermin tersebut,
wajahku pucat, dengan luka robek di dahi yang tampak mengerikan.
"Kau pecundang, bahkan untuk mati pun kau gagal," bisikku pada sosok di cermin itu. Suaraku parau, asing di telingaku sendiri.
Namun, di tengah rasa sakit yang mendenyut itu, ada sesuatu yang patah di dalam dadaku. Bukan patah hati, tapi sesuatu yang lebih permanen.
Rasa sesak yang semalam mencekikku tiba-tiba menguap, digantikan oleh kekosongan yang sangat luas. Seolah-olah tangisku semalam telah menguras seluruh emosi yang tersisa hingga kering kerontang.
Aku berjalan ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur luka di kepalaku. Perihnya luar biasa, tapi aku tidak meringis. Aku menikmatinya. Rasa perih itu adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa aku masih berpijak di bumi.
Kuraih ponselku yang tergeletak di lantai. Layarnya retak. Aku membukanya, melewati notifikasi aplikasi trading yang menunjukkan angka merah—kerugian total. Aku tak peduli lagi.
Tanganku bergerak perlahan, untuk menyelesaikan apa yang kumulai semalam.
Jempolku ragu, namun tidak ada jalan untuk kembali.
Satu per satu foto dia kuhapus.
Folder berjudul "Kita" yang dulu kupuja seperti kitab suci, lenyap dalam satu klik, begitu juga dengan harapan dalam hatiku.
Aku kembali melihat pesan misterius yang semalam sempat muncul: "Hai, apa kabar?"
Kali ini aku tidak menghapusnya. Aku mengetik balasan singkat, tanpa perasaan: "Siapa ini? Aku sudah mati."
Aku keluar dari kamar, melangkahi pecahan botol tanpa berniat membereskannya.
Aku mengambil jaket hitam, menutupi luka di kepalaku dengan tudung, dan melangkah keluar.
Aku sudah bertekad.
Mulai hari ini, tidak ada lagi pria yang mendambakan cinta.
Pria itu sudah mati di lantai kamar itu semalam.
Yang tersisa hanyalah lembar kosong yang mulai belajar untuk tidak lagi peduli pada apa pun.
Termasuk pada nyawanya sendiri.