Viscount Gefr Dier Elfy'S: Your Highness, The Young Emperor Gefr Dier Elfy’S Of Ireland.

Viscount Gefr Dier Elfy'S: Your Highness, The Young Emperor Gefr Dier Elfy’S Of Ireland.

Author:Kagayana Hakura

chapter 1 Caerwyn Vale: Desa di Ujung Bukit

Embun pagi masih menempel di daun dan rumput ketika matahari pertama menembus celah-celah pepohonan di Caerwyn Vale. Udara dingin menggigit pipi, tapi membuat darah Gefr Dier Elfy’s mengalir lebih cepat. Ia sudah bangun lebih awal dari sebagian besar penduduk desa.

“Gefr! Lagi-lagi bangun terlalu pagi!” teriak Ilya, adik perempuannya, dari balik jendela rumah kayu mereka. Suara kecilnya hampir hilang di antara kicauan burung dan gemerisik dedaunan.

“Tidak apa-apa,” jawab Gefr sambil tersenyum tipis, matanya fokus pada hutan yang membentang di ujung ladang. “Pagi ini aku ingin berlatih lebih lama.”

Ilya mengerutkan dahi. “Kamu terus saja berlatih pedang dan panah. Apa tidak bosan?”

Gefr memutar tubuhnya, memungut pedang kayu yang telah disiapkan ayahnya. “Bukan bosan. Ini… persiapan. Suatu hari aku akan pergi jauh dari desa ini. Aku harus siap.”

Ilya menatapnya dengan mata yang bercampur kagum dan cemas. “Jauh… maksudmu ke kota besar itu? London?”

Gefr mengangguk. “Ya. Suatu hari nanti, aku ingin melihat dunia di luar bukit dan sungai ini. Tapi sebelum itu… aku harus menjadi kuat.”

Latihan di Pagi Hari

Hutan di dekat desa menjadi arena latihan Gefr. Ia memanjat pohon, melompat dari cabang ke cabang, lalu mengayunkan pedang kayu sambil bergerak cepat di antara pepohonan. Suara kayu beradu dengan pohon yang bergesekan terdengar seperti musik pagi.

Tiba-tiba, Tomas, teman sebaya Gefr, muncul sambil menenteng panah dan busurnya. “Hei, Gefr! Kau selalu lebih cepat dari aku. Aku masih mengikat tali busur, kau sudah lompat di atas batu!”

Gefr tersenyum ringan. “Latihan pagi membuat otot dan pikiran tetap tajam, Tomas. Kau harus mencoba lebih keras.”

Tomas menghela napas panjang dan memasang busur. “Baiklah… tapi kau jangan terlalu meremehkanku. Jika aku menembak tepat sasaran hari ini, kau harus mengaku kalah!”

“Deal,” jawab Gefr sambil bersiap. “Tapi ingat… yang menang bukan hanya yang menembak tepat sasaran, tapi yang bisa berpikir cepat di saat tekanan tinggi.”

Mereka berdua mulai berlatih. Panah meluncur, pedang kayu beradu, kaki berlari di atas tanah lembap. Suara mereka menyatu dengan angin pagi dan gemericik sungai.

Pelajaran Dari Tetua Desa

Setelah latihan, Gefr duduk di tepi sungai. Air dingin mengalir di antara kakinya, menenangkan pikirannya. Tidak lama kemudian, Eldric, tetua desa yang bijak dan mantan kapten pasukan kerajaan, mendekat.

“Gefr,” kata Eldric dengan suara berat namun lembut, “aku melihatmu berlatih setiap pagi. Kau tidak seperti anak-anak lain di sini. Kau menatap dunia seolah sudah pernah melihatnya.”

Gefr menunduk. “Aku ingin melihat dunia, Eldric. Aku ingin tahu seperti apa kota-kota besar, seperti apa peperangan sungguhan… aku ingin menjadi seseorang yang bisa membuat keputusan, bukan hanya ikut arus.”

Eldric tersenyum samar, matanya menatap jauh ke bukit. “Aku pernah seperti itu. Berani bermimpi lebih besar dari desa. Tapi ingat, Gefr… mimpi besar selalu datang dengan risiko besar. Jangan pernah kehilangan akal sehatmu karena semangat semata.”

Gefr mengangguk. “Aku mengerti. Tapi jika aku tidak mencoba… aku akan selalu menjadi anak desa biasa. Itu bukan aku.”

Percakapan Keluarga

Siang itu, Gefr kembali ke rumah. Ayahnya, Dier Worske, sedang memperbaiki pagar ladang, dan Ilya menyiapkan makan siang.

Ayah menatap Gefr, sedikit cemas. “Kau terus memikirkan pergi ke London, bukan? Kau tahu jalan ke kota itu sulit dan berbahaya, bukan?”

“Ya, aku tahu, Ayah. Tapi aku merasa… jika aku tetap di sini, aku tidak akan pernah tahu seperti apa aku sebenarnya.”

Ilya memotong, sedikit cemberut. “Kau akan membahayakan dirimu sendiri! Aku tidak mau kehilanganmu, Gefr…”

Gefr menatap adiknya dengan lembut. “Aku akan berhati-hati, Ilya. Tapi jika aku tidak pergi, aku tidak akan bisa melindungi desa ini atau orang-orang yang ku sayangi di masa depan.”

Ayah menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Gefr. “Baiklah… jika itu pilihanmu, lakukanlah dengan sepenuh hati. Tapi ingat, desa ini selalu menjadi tempatmu kembali.”

Pelajaran Strategi dari Alam

Sore itu, Gefr berjalan ke bukit. Ia mengamati desa dari atas, melihat aliran sungai yang membelah ladang, hutan yang menjadi tempat persembunyian, dan jalur setapak yang jarang dipakai. Ia membayangkan medan perang di luar sana, musuh di setiap sudut, dan pasukan yang harus ia pimpin suatu hari nanti.

“Jika aku bisa membaca hutan ini, aku bisa membaca medan tempur. Jika aku bisa memprediksi gerakan rusa atau predator… aku bisa memprediksi gerakan manusia,” pikirnya. “Segala sesuatu di desa ini adalah pelajaran. Setiap batu, setiap pohon… aku harus mengingat semuanya.”

Malam yang Sunyi

Malam tiba, dan Caerwyn Vale sunyi. Lampu lentera menyala di rumah-rumah kayu. Gefr duduk di jendela kamarnya, menatap langit penuh bintang. Angin membawa aroma hutan dan tanah basah. Ia menulis di buku catatan kecilnya:

> “Suatu hari aku akan pergi ke dunia yang lebih luas.

Aku tidak tahu apa yang menungguku.

Tapi aku tahu satu hal anak desa dari Caerwyn Vale ini tidak akan pernah menyerah.”

Ia menutup buku, berbaring, dan membiarkan suara malam menjadi musik pengantar tidur. Esok hari, latihan akan dimulai lagi. Panah akan terbang, pedang akan beradu, kaki akan berlari semua persiapan untuk hari ketika ia akhirnya menjejakkan kaki di London.

Esok harinya

Embun masih menempel di rumput ketika cahaya matahari pertama menembus celah pepohonan di hutan kecil di tepi desa. Aroma tanah basah, dedaunan, dan kayu terbakar dari tungku pagi di rumah-rumah kayu mengisi udara. Di tengah hamparan tanah lapang, terdengar suara logam beradu dan teriakan para anak muda.

“Fokus, Tomas! Jangan sampai pedangmu goyah!” teriak Liora, gadis seumuran Gefr, sambil menahan tawanya. Ia memegang panah dan berlari mengelilingi lapangan, memberi isyarat agar teman-temannya mengubah posisi serangan.

Tomas mengerutkan dahi, berusaha mengayunkan pedang kayu tepat sasaran. “Aku sedang fokus, tapi kau terlalu cerewet!”

Dari sudut lain, Eldric, tetua desa yang bijak, mengamati. Tangannya menempel di dagu, matanya mengikuti setiap gerakan anak-anak. “Pedang bukan sekadar alat, tapi perpanjangan dari pikiranmu. Jika pikiranmu kacau, pedangmu akan menyesatkanmu,” katanya pelan, seolah mengajari bukan hanya Tomas, tapi semua yang berada di arena.

Gefr melompat dari batu ke batu, pedang kayu di tangan, dan mendarat dengan suara langkah ringan. “Tomas, jangan hanya mengandalkan kekuatan. Rasakan ritme lawan dan ruang di sekitarmu,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Gefr, kau selalu seperti itu… tenang saja!” balas Tomas, nafasnya memburu.

Latihan Bersama Teman

Liora menempatkan panahnya di busur dan menembakkan satu demi satu ke sasaran kayu. Setiap anak di lapangan belajar membaca posisi satu sama lain. Ada suara tawa, ada jeritan frustrasi, ada tepukan tangan saat panah mengenai sasaran.

Dari sudut lapangan, Mira, gadis kecil yang baru belajar menunggang kuda, mencoba meniru gerakan Gefr. “Aku bisa juga, kan?” serunya.

Eldric menatapnya, tersenyum. “Kesalahanmu akan menjadi guru terbaikmu, Mira. Jangan takut untuk jatuh.”

Seorang pemuda, Bren, memegang pedang kayu lebih besar dari tubuhnya, mencoba meniru lompat-lompatan Gefr. Ia tersandung, terjatuh, dan langsung disambut tawa teman-temannya. “Ayo Bren! Lagi! Kali ini kau pasti bisa!” seru Tomas.

Bren mengerang, tapi bangkit. “Hah… baik, aku akan membuktikan!”

Instruksi dan Strategi

Eldric meniup peluit, memberi tanda. “Sekarang, kita akan mencoba simulasi kecil. Bayangkan desa kita dikepung. Kalian harus bertahan dan menempatkan posisi yang tepat.”

Anak-anak terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang bertindak sebagai penyerang, ada yang bertahan. Mereka memindahkan rintangan, menempatkan sasaran, dan bahkan menggunakan pohon dan batu sebagai tempat persembunyian.

Gefr bergerak cepat ke posisi strategis. “Tomas, lihat jalur itu musuh akan mencoba menyerang dari sisi bukit. Liora, siapkan panah di belakang batu. Bren, tetap di depan dan lindungi kami,” katanya sambil menunjuk.

Liora menatapnya kagum. “Gefr, kau bisa membaca medan seperti Eldric!”

Eldric menepuk bahu Gefr. “Itu karena kau selalu mengamati, bukan sekadar meniru. Ingat, anak muda mengamati adalah seni. Tanpa itu, strategi hanyalah sekadar gerakan kosong.”

Suasana Desa Sekitar

Di luar arena, beberapa warga desa memandang latihan anak-anak. Seorang ibu menepuk pundak anaknya. “Lihat Gefr, dia selalu tenang, seperti tahu apa yang akan terjadi sebelum terjadi.”

Seorang petani tua menangguk. “Ia berbeda dari anak-anak lain. Suatu hari, ia akan menjadi pemimpin yang membuat desa ini bangga… atau mungkin jauh lebih dari itu.”

Dari atas bukit, seekor elang terbang melintasi lapangan. Anak-anak berhenti sejenak, memandangnya. Eldric tersenyum. “Segala sesuatu di alam ini mengajarkan kita, jika kau mau melihatnya. Dari burung hingga batu, dari sungai hingga hutan semua memiliki pelajaran tersendiri.”

Momen Persahabatan

Setelah latihan selesai, anak-anak duduk di tepi sungai, kelelahan tapi bahagia. Tomas menyeka keringatnya. “Gefr… kau selalu terlalu sempurna. Bagaimana bisa kau tetap tenang di tengah kekacauan?”

Gefr tersenyum samar, menatap air sungai. “Aku tidak sempurna. Aku hanya belajar memperhatikan. Jika kau belajar melihat lebih banyak, kau juga bisa.”

Liora menepuk bahu Gefr. “Aku ingin menjadi sepertimu suatu hari nanti. Tidak takut, tapi selalu siap.”

Mereka tertawa, bercampur dengan suara alam. Langit sore mulai memerah, burung-burung pulang ke sarangnya. Caerwyn Vale terasa damai tapi di balik ketenangan itu, bibit seorang pemimpin sedang tumbuh, lambat tapi pasti.

Penutup Hari Latihan

Saat matahari mulai tenggelam, Eldric meniup peluit terakhir. “Hari ini cukup. Ingat, anak-anak… latihan bukan sekadar kekuatan fisik. Latihan adalah latihan pikiran, perencanaan, dan hati.”

Gefr memungut pedangnya, menatap horizon. Di kejauhan, jalan menuju dunia luar tampak tak terbatas. Ia tahu, latihan hari ini hanyalah permulaan. Suatu hari, ia akan meninggalkan desa ini, tapi semua yang ia pelajari di sini dari batu, pohon, teman, hingga tetua akan membimbingnya di masa depan.

> “Suatu hari nanti,” pikirnya, “anak desa dari Caerwyn Vale ini akan berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi daripada bukit ini. Dan aku harus siap.”