Hari Yang Di Nanti
"Ankahtuka wa zawwajtuka Azura Safiya Kareema binta almarhumi Zainul Haidar alal mahri mitsla dzahabin khamsata asyara giraman wa naqdan qodruhu rupiyyatun indunisiyyatun alfaini wahid hallan."
(Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Azura Safiya Kareema binti almarhum Zainul Haidar dengan mas kawin emas 15 gram dan uang tunai dua juta satu ribu rupiah dibayar tunai.)
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur hallan."
(Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.)
Sah.
Suara itu terdengar jelas, tegas, tanpa ragu.
Di balik pintu ruang persembunyian pengantin wanita, aku duduk diam, menahan napas. Tanganku saling menggenggam, dingin. Jantungku berdegup lebih cepat dari yang seharusnya.
“Alhamdulillah.”
Satu kata itu keluar dari mulutku, ringan, lega, dan bahagia. Nada yang sama sekali tidak asing bagiku.
Nada yang selama lebih dari lima tahun selalu kutangkap diam-diam setiap kali ia bersyukur, setiap kali ia tersenyum.
Dadaku menghangat.
Aku tersenyum sendiri di balik hijab dan gaun putih yang sudah rapi menempel di tubuhku.
Akhirnya...
Hari ini benar-benar tiba... Hari yang selama ini kunanti, kudoakan, dan kupeluk dalam harap.
Akad telah selesai. Sebentar lagi aku akan keluar, dijemput, lalu duduk di meja akad sebagai pengantin wanita yang sah.
Aku bahagia.
Aku sungguh bahagia.
Tak lama kemudian, dua orang pagar ayu menjemputku. Mereka menggenggam tanganku dengan lembut, seolah tahu bahwa langkah ini bukan sekadar berjalan ke depan, tapi meninggalkan banyak hal di belakang.
Gaun pengantin yang kupakai jatuh indah, gaun yang selama ini hanya hidup dalam doaku, kini nyata melekat di tubuhku. Putih, anggun, dan tepat seperti yang kuimpikan.
Dekorasi di sekelilingku menenangkan. Semua sesuai dengan yang kuinginkan. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang salah.
Aku bahagia. Dan memang seharusnya aku bahagia.
Namun ketika aku akhirnya duduk dan pandanganku mengarah ke deretan saksi dari pihak pria, dadaku mendadak terasa sempit.
Di sana ada dia.
Orang yang barusan mengucap alhamdulillah dengan bahagia. Orang yang selama lebih dari lima tahun diam-diam kusembunyikan namanya dalam hati. Hari ini, ia tidak duduk di sisiku. Ia duduk sebagai saksi.
Napas yang tadi terasa ringan, kini tertahan. Senyumku tetap terjaga, tapi ada sesuatu yang pelan-pelan runtuh di dalam dada. Aku baru menyadari, kebahagiaan yang barusan kudengar dari suaranya, bukan kebahagiaan yang melibatkanku.
Aku menunduk, menata diri.
Dan di hari itu, aku akhirnya benar-benar memahami satu hal,
Pada hakikatnya, cinta tidak selalu harus memiliki. Ada cinta yang cukup disimpan lama di hati, lalu dilepaskan dengan doa yang paling sunyi.
Aku menandatangani buku nikah dan beberapa surat lainnya.
Tinta itu mengering, bersamaan dengan satu fase hidup yang resmi berganti nama. Kini aku telah menjadi istri seseorang. Seseorang yang tak pernah benar-benar kupinta dalam doa-doa lamaku, namun justru dihadirkan Tuhan dengan cara yang paling tenang.
Ia datang tanpa riuh, tanpa kisah panjang yang berliku,
hanya membawa niat baik dan kesungguhan.
Dialah orang yang akan menemaniku dalam ibadah terpanjangku.
Bukan yang paling lama kukenal, bukan pula yang paling sering kusebut dalam doa, tetapi yang dipilihkan Allah untuk berjalan bersamaku menuju-Nya.
Dititik itu aku belajar,
Cinta tak selalu tentang siapa yang paling dicinta, melainkan siapa yang paling mampu diajak pulang ke arah yang sama.
Aku masih menatap buku nikah itu ketika suara petugas terdengar, nada suaranya ringan tapi penuh senyum.
“Alhamdulillah, sudah sah ya, Mas. Mari berdiri."
Kami semua berdiri mengikuti arahan petugas.
"Ayo sekarang pegang tangan istrinya, Mas,” kata petugas sambil tersenyum.
Dia menoleh ke arahku, ragu.
“Ini boleh, kah?” tanyanya pelan.
Aku ikut bingung, lalu menjawab jujur,
“Tidak tau.”
Petugas langsung tertawa.
“Boleh, Mas, boleh. Ayo… hahaha. Masih malu-malu saja ini.”
Pelan, sangat pelan, dia meraih tanganku. Jari-jarinya gemetar, begitu juga tanganku.
Ini kali pertama kami berpegangan tangan. Halal, tapi tetap saja bikin salah tingkah.
“Cieeee,” terdengar satu dua orang menggoda.
Aku menunduk, menahan senyum.
Dia tertawa kecil, gugup.
“Sekarang cium kening istrinya ya, Mas,” lanjut petugas.
Kami saling pandang, sama-sama malu. Aku bisa melihat dia menarik napas.
“Cium... Cium... Cium...” suara godaan kembali terdengar.
Dia mendekat perlahan, masih ragu, lalu mencium keningku singkat, lembut, hati-hati, dan penuh hormat.
Aku tersenyum kecil. Dan di tengah tawa orang-orang,
aku merasa hangat. Bukan karena sorak bahagia, tapi karena cinta ini dimulai dengan sopan, pelan, dan penuh adab.
Petugas menoleh ke arah kami sambil tersenyum.
“Mas, sekarang pegang kepala istrinya, ya. Bacain doa buat dia.”
Aku menunduk, sedikit gugup.
Dia menatapku, wajahnya merah, bibirnya bergerak pelan, ragu, tapi matanya penuh perhatian.
“Boleh…?” tanyanya hampir berbisik.
Aku mengangguk kecil.
“Boleh.”
Tangannya menyentuh kepalaku perlahan. Hangat, lembut, dan penuh hati-hati.
Aku menutup mata sebentar, merasakan detak jantung sendiri yang lebih kencang tapi damai.
Dengan suara lirih, hampir tak terdengar kecuali untukku, ia mulai berdoa:
“Bismillahirrahmanirrahim… Ya Allah, aku titipkan istriku kepada-Mu. Jadikan dia penyejuk mataku, kuatkan imannya, lembutkan hatinya, dan jagalah dia dalam setiap langkahnya."
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan...
"Jika aku salah, tuntun aku menjadi suami yang baik,
jika aku lemah, kuatkan aku untuk menjaganya.”
Aku merasakan hangatnya doa itu sampai ke hati. Dia menurunkan tangannya perlahan, masih menatapku malu-malu.
Aku tersenyum kecil, hampir tertawa pelan karena rasa hangat itu terlalu kuat untuk ditahan.
“Terima kasih,” bisikku lirih.
“Sudah mau mendoakanku dengan tulus.”
Dia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya sambil tersenyum malu.
...***...
Acara berlanjut dengan lancar, sampai tiba ke sesi foto keluarga.
Petugas memanggil,
“Sekarang waktunya untuk foto bersama abang dan adik kandung dari mempelai pria ya, silahkan kepada abang dan adik kandung dari Mas Abdan untuk hadir ke depan pelaminan.”
Tak lama, dua sosok muncul berjalan pelan ke arah pelaminan.
Seorang kakak laki-laki dengan usia dua tahun diatas Mas Abdan dan seorang adik perempuan dengan usia sekitar umur dua belas tahun, rapi, teduh, dan cantik.
Mas Shakir Latheef Muzammil, kakak laki-laki Mas Abdan, berdiri di depan pelaminan. Senyumnya lembut, tenang, seperti biasa, penuh kehangatan.
“Masyaallah, Alhamdulillah ya, Zuhair… akhirnya,” ucapnya pelan.
“Semoga kalian berdua menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.”
Mas Abdan tersenyum dan menjabat tangannya.
“Aamiin... Syukron ya, Bang. Semoga Abang juga bisa cepat nyusul.”
Mas Shakir menoleh kepadaku.
“Selamat ya, Azura…”
Suara itu lembut, tenang, penuh perhatian.
Dadaku sesak sebentar, melihat seseorang yang pernah aku cintai, kini berdiri di depan mata, sebagai kakak suamiku.
Aku menunduk, tersenyum sopan, menahan rasa yang singgah sebentar.
“Terima kasih, Mas,” jawabku lirih.
Momen itu terasa hangat, meski ada rasa yang menempel di dada, rasa yang dulu pernah ada, kini hanya jadi kenangan kecil yang harus aku simpan.
Mas Shakir tersenyum lagi, lalu mengambil posisi untuk foto. Adik perempuannya berdiri di sampingnya, cantik dan lembut.
Kami semua menyesuaikan posisi untuk sesi foto, tapi aku tetap diam di pelaminan, di samping suamiku. Cahaya lampu kamera menyala. Senyum dan doa terucap.
Bahagia bisa hadir dengan damai, dan cinta yang tidak dimiliki pun boleh tetap dihormati dalam diam.
...Bersambung......
...***...