Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Author:DityaR

Dokter Darcel Vallon

Pada hari ketika anak-anak seusianya tampil rapi di panggung wisuda SMA, Rowena justru berdiri di depan hakim, di ruang sidang.

Teman-temannya menerima tepuk tangan, jabat tangan, ucapan selamat, dan ijazah. Sementara Rowena hanya membawa pulang segepok kertas berisi perintah rehabilitasi.

Ia memutar mata sambil bersandar di kursi kemudi, menatap gedung kusam yang menjulang di bawah langit malam.

Orang-orang seusianya sudah sibuk menyiapkan diri masuk kuliah. Rowena harus menjalani rehabilitasi selama setahun penuh bersama seorang terapis kejiwaan.

Dokter terapis barunya, yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya, Dr. Darcel Vallon, mungkin sedang duduk di kantor saat ini. Mengecek jam, lalu berpikir apakah perlu menelepon pengawas dan melaporkannya sebagai pasien buronan.

Hampir semua jendela di gedung itu gelap, kecuali satu lampu di lantai dua. Bisa jadi itu ruangannya.

Rowena ingin melempar molotov hanya untuk memastikan.

Terapi selalu membuatnya mual, bosan, melelahkan, dan penuh sandiwara. Ia harus pandai memilah cerita, cukup jujur tanpa membuat mereka merasa perlu mengurungnya di rumah sakit jiwa.

Ia cukup menikmati hidup sebagai orang liar setengah gila, meski sesekali kesepian. Mungkin jika masuk rumah sakit jiwa, ia justru bisa bertemu orang-orang yang satu frekuensi dengannya.

Kedengarannya menarik.

Rowena membuka pintu mobil, merapikan rok mini, lalu melangkah dengan bunyi sepatu menghantam aspal. Ia tidak bisa terus menghilang dan membuat terapis barunya panik. Jika sampai menimbulkan masalah, ujungnya bisa menyeretnya ke penjara.

Katanya, terapi ini untuk merapikan sisi brutalnya.

Di depan gedung, suasana sepi. Langit sudah gelap. Sebuah tiang tinggi menopang lampu kuning yang dikerubuti serangga. Angin menghempas dedaunan pohon besar di dekat pintu masuk.

Lobi berukuran luas itu berbau cairan pembersih. Sebuah papan kuning bertuliskan Awas Licin tergeletak, tanda petugas kebersihan sudah pulang.

Janji temu pukul sembilan malam terasa agak menyeramkan, tetapi Rowena tetap naik ke ruang 203. Ini bukan terapi pertamanya. Ia yakin bisa bertahan dari pertanyaan-pertanyaan basi itu.

Ia menyibak rambut dari wajah, lalu masuk ke kantor tersebut dengan langkah kesal. Bahkan sebelum bertemu orangnya, ia sudah ingin memakinya. Siapa pun Dr. Darcel itu, mungkin hanya pegawai negeri biasa.

Ruang tunggunya kosong.

Gelap.

Di balik meja resepsionis, hanya satu lampu mendesis, menyinari karpet abu-abu. Seorang perempuan berambut pirang berseragam rumah sakit, dengan nametag bertuliskan Audy, berbicara pelan di balik akrilik.

Rowena menyodorkan berkas registrasi melalui lubang kecil dan memberi tahu bahwa ia terlambat untuk sesi ini. Ia sempat terpikir untuk meminta maaf, tetapi itu jelas bukan gayanya.

Kalau sudah terlambat, ucapnya sambil berhenti, berharap Audy menyuruhnya pulang.

“Tidak apa-apa, silakan masuk, Bu Scarlett.”

Sial.

Menyebalkan.

Audy mengarahkannya ke sebuah koridor yang tampak seperti gedung bangkrut. Semua pintu ruang konsultasi terkunci. Semua lampu mati. Tidak ada dokter, tidak ada pasien. Bahkan lampu lorong pun dipadamkan entah sejak kapan.

Apa mereka tidak sanggup membayar listrik?

“Ini ruangannya,” kata Audy.

Rowena melirik pintu itu, menarik napas panjang, lalu mengumpat dalam hati. Setahun. Hanya setahun lagi bersama Dr. Darcel.

Ia berkedip saat menatap pria yang kini berdiri di hadapannya.

“Nona Rowena Scarlett, saya sempat khawatir Anda tidak datang,” ucap pria itu dengan suara lembut, sopan, profesional, dan enak didengar.

Rowena berdiri terpaku tanpa pikiran apa pun, sementara pria itu berjarak sekitar tiga meter darinya.

“Silakan duduk,” katanya sambil menunjuk kursi dengan lengan berotot.

Rowena mengangguk dan duduk.

Dr. Darcel duduk dengan postur bak pangeran. Tegap, elegan, santai, dan berwibawa. Rompi mewahnya membungkus tubuh itu dengan pas. Rowena mendadak bingung harus meletakkan tangan di mana.

Di pangkuan.

Di sisi kursi.

Atau mungkin ia hanya berhalusinasi.

Lalu ada aroma pria itu.

Harum sekali.