1. Aku Bukan Diriku.
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
Suara gunting tajam beradu keras dengan rambut panjang menjuntai kearah bawah kaki yang begitu menggema diruangan besar milik keluarga Shan dishanghai.
Mansion bergaya klasik Eropa dengan sentuhan arsitektur Tiongkok kuno itu berdiri anggun sejak generasi pertama, menjadi simbol kejayaan keluarga Shan yang tak akan termakan oleh waktu.
Rambut indah nan panjang Bao Yu ini adalah simbol dari kehormatan. Namun hari ini rambut ini tergelai dilantai seperti benang emas yang kusut dan harus sebagian dipapas habis.
Gadis itu memandangi cermin tua, ia melihat pantulan cahaya masa lalu, saat dirinya diusap lembut rambut panjang oleh sang ibu, lalu ibu tersebut tersenyum dan mulai menyisiri rambut kehormatan sang anak.
Bayangan itu sekejap mata saja sudah menghilang dari cermin, Gadis muda bernama lengkap Shan Bao Yu ini kembali kedunia nyatanya bahwa Ibunya kini sudah tidak ada disisinya. Ia pun kembali menghela napas dan menerima kenyataan hidup yang pahit.
"Aku bukan diriku lagi," lirih Bao Yu setengah meringis menahan pedih dihatinya.
Satu demi satu helai rambut jatuh menjuntai kelantai dingin seperti masa lalu Bao yu sebagai seorang wanita harus dia kubur.
Keputusan gila ini sudah Bao Yu buat sejak keluarga besar Shan tak menginginkan dirinya sebagai ahli waris, hanya karena dia dilahirkan sebagai seorang wanita.
"Apa salahnya aku terlahir sebagai seorang wanita?"tanyanya dalam hati." Padahal aku ini cantik, seksi, cerdas, anggun, dan mampu untuk menarik banyak hati pria. Namun kenapa keluargaku mengangkat orang asing itu sebagai ahli waris, sungguh sangat mengecewakan!"
Tak banyak yang tahu siapa Bao Yu sebenarnya karena keluarga besar justru memperkenalkan putra angkatnya sebagai putra kandung yang saat ini publik tahu bahwa dia adalah ahli warisnya.
"Sungguh sangat menjijikan sekali aku harus memanggil Chen dengan sebutan Koko dalam keluarga Shan, padahal aku ini anak tunggal. Harusnya akulah yang menjadi ahli waris Kakek. Namun kenapa sosok Chen yang sampai harus dipublik Kakek hanya memperkenalkan dia sebagai ahli warisnya!" geram Bao Yu sambil menyapu habis alat make up yang ada dimeja hiasnya.
Shan Bao Yu terus menggerutu, dia sangat membenci Chen Liewei Shan,nama itu selalu dibanggakan dipublik dan tak ada yang tahu kalau Bao Yu ini adalah putri kandung keluarga Shan yang harusnya mendapat hak atas semua warisan Kakek Hong.
Sementara diruangan lain,
Brak!
Meja kerja itu dipukul cukup keras.
"Daddy, sudah gila! kenapa anak angkat itu yang jadi ahli waris. aku sebagai orang tua tidak bisa terima anakku tidak diperlakukan adil seperti ini. Dia cucu kandungmu!" geram Wei Shan.
"Tanyakan pada mendiang istrimu itu, kenapa dia harus melahirkan anak perempuan yang bisa menjadi kelemahan diperusahaan kita," ucap Hong Shan.
"Ini bukan salah mendiang istriku, tapi ini sebuah takdir. Aku tak bisa terima kalau Bao Yu kesayanganku tidak terdaftar jadi ahli waris keluarga Shan!" ucap Wei Shan.
"Terima saja keputusan aku ini! bahwa Chen Liewei Shan, lebih pantas dikursi besar penerus. Dia dari kecil sudah kudidik dan kuajari banyak bisnis, jadi kamu tak usah protes sekarang," ucap Hong Shan.
"Setidaknya beri kesempatan pada cucu kandungmu, Bao Yu untuk membuktikan bahwa dia pantas menjadi penerus ahli waris Huan shan group Corporation," ucap Wei Shan.
"Tidak ada kesempatan! dikeluarga Shan ini bisa menerima anak perempuan yang hanya akan jadi kelemahan buat kita semua," ucap Hong Shan.
Wei Shan mengusap kasar wajah, dan berkata dalam hatinya." Dasar pria tua yang tak bisa diajak kompromi. Aku harus cari jalan tersendiri supaya Bao Yu yang jadi ahli waris."
Wei Shan yang naik pitam akan keputusan sang Daddy pun segera mengetuk pintu sang anak yang saat ini sibuk menata rambutnya.
Tok
Tok
Tok
"Bao Yu, ini Daddy. Boleh masuk?" tanya Wei Shan.
Wei Shan pun kini mendorong daun pintu secara pelan-pelan karena Wei Shan tak mendengar sahutan balasan dari arah dalam, kaki panjangnya segera menerobos kedalam ruangan tanpa suara lagi, beruntungnya daun pintu itu tak dikunci oleh Bao Yu.
Seketika langkah Wei Shan terhenti melihat pemandangan yang ada didepannya. Ia merasa tercekik oleh anak perempuan kesayangan.
"Bao Yu, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Wei Shan dengan mata terbelalak.
"Daddy, ini adalah jalan keluar untuk masalah yang sedang kita hadapi sekarang,"ucap Bao Yu.
"Tapi, rambut ini adalah mahkota kebangganmu, kehormatanmu. Kenapa kamu merelakan ini semua, padahal kamu bisa menggunakan Wig untuk menjadi orang lain," ucap Wei Shan.
"Aku hanya ingin totalitas dalam penyamaran, Daddy. Aku tak ingin sampai Chen mengetahui siapa aku dibalik ini semua," ucap Bao Yu.
"Baiklah, Daddy dukung. Tapi sepertinya kamu butuh ini," ucap Wei Shan sambil merogoh Kantung celana hitamnya.
Wei Shan menyodorkan kacamata tipis berbentuk bulat." Pakailah ini."
Bao Yu hanya bisa mengangguk dan mengambil pemberian dari sang Daddy, lalu memakaikannya.
"Bagiamana, Daddy?" tanya Bao Yu sambil tersenyum lebar.
"Sepertinya ada yang kurang," ucap Wei Shan.
"Apa yang kurang, Daddy?" tanya Bao Yu.
Tanpa jawaban dari sang Daddy,
Wei Shan mengambil sebuah kotak dilaci, lalu menyentuh pipi kanan
anak perempuan itu dengan tangan kanan yang sangat lembut.
"Ini akan membantumu untuk tak dikenali siapapun," ucap Wei Shan menaruh kecil tompel hitam disisi kanan pipi sang anak.
"Terima Kasih, Daddy." Bao Yu tersenyum lebar dan memeluk Wei Shan dari arah samping.
Wei Shan mulai merengkuh sang putri dalam pelukan hangat, sejak kepergian istrinya, hanya Bao Yu lah yang menjadi satu-satunya harta yang paling berharga yang tersisa, baginya Bao Yu bukan sekedar anak, tapi juga warisan terakhir yang harus ia jaga sampai hayat hidupnya.
"Kalau begitu, Daddy akan atur semua dokumen identitas barumu ini dan untuk sementara waktu kamu juga harus tinggal diasrama putra bersama Chen. Daddy ingin kamu bisa mengamati dia dari dekat dan mencari tahu titik kelemahan dia yang bisa membuat Kakek Hong berubah pikiran," ucap Wei Shan penuh keyakinan.
Bao Yu mengangguk, matanya berbinar menyala. "Oke, Daddy tenang saja. Bao Yu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Doain aku berhasil ya. Aku nggak mau si anak angkat itu menjadi berkuasa atas semua warisan Kakek Hong Shan."
Wei Shan menepuk lembut punggung putrinya."Tentu saja, nak. Daddy pasti akan selalu dukung dan doakan yang terbaik untuk kamu," ucap Wei Shan.
"Terima Kasih, Daddy. Love you!"
Kini pelukan itu semakin erat dan bertahan lama, seolah-olah ini adalah pelukan terakhir kali untuk memperebutkan hak warisan yang harusnya menjadi milik Bao Yu.
TBC
(To Be Continued)
Tinggalkan jejak berupa like, vote, dan komentar. Terima Kasih.