Musafir Maut

Musafir Maut

Author:IG @nuellubis

Dede Memang Selamat, tapi Abah Tidak

Namanya Dede. Orang-orang bilang Dede ini anak yang keras kepala sekaligus keras tulang. Bukan karena ia kuat, melainkan karena entah kenapa ia selalu lolos dari kejadian-kejadian yang seharusnya bisa membuat orang dewasa menggelengkan kepala.

Ambil contoh saat Dede jatuh dari pohon melinjo setinggi langit bagi anak kecil seumurannya. Dede ingat, saat itu habis hujan, pohon masih licin. Ia memanjat karena penasaran dengan sarang burung di pucuk ranting. Saat sedang memegang dahan yang salah, mendadak dahannya patah, dan ia jatuh.

Anehnya ia terluka luka sedikit pun. Tidak memar. Hanya keluar ingus sedikit. Setelah itu, ia pulang ke rumah sambil menangis bukan karena sakit, melainkan karena malu.

Pernah juga Dede sedang naik sepeda. Tak ada, tak ada badai. Sepedanya tergelincir mulus ke kebon singkong milik Mang Wira. Saking keras tabrakannya, belasan pohon singkong rebah seperti habis diratakan buldoser kecil bernama Sepeda Dede.

Dede pikir akan menjadi bahan omongan yang negatif. Nyatanya, banyak warga yang terkagum-kagum.

“Anak ini dijagain malaikat kayaknya,” kata orang-orang kampung.

Dede hanya tertawa. Orangtuanya sampai terheran-heran. Malah Abah pikir semua itu hanya keberuntungan. Sampai suatu hari ia tahu bukan itu jawabannya.

Kejadiannya dimulai di kebon singkong tersebut. Sudah lama sejak insiden sepeda itu berlalu, dan malam itu Dede pulang agak malam dari rumah teman. Tidak ada siapa-siapa di jalan setapak kecil menuju rumahnya. Cahaya bulan separuh menyoroti tanah yang basah, membuat bayangan pohon singkong melengkung aneh, seperti tangan-tangan yang tumbuh dari tanah.

Saat melewati kebon singkong Mang Wira, bulu kuduknya sempat berdiri. Biasanya ia sering asyik sendiri, tapi malam itu lain. Ada sesuatu yang membuatnya berhenti.

Ada langkah kaki. Samar-samar Dede melihat sosok bertudung hitam. Anehnya, kakinya masih menjejak. Angin di sekiranya seolah tidak bergerak. Bahkan singkong tidak melambai juga. Namun suaranya jelas. Sosok itu terlihat sedang mengais tanah.

Dede menelan ludah. “Abang siapa?”

Tidak ada jawaban.

Dede melanjutkan langkah, tapi suaranya makin dekat. Terpaksa Dede menoleh ke arah sosok tersebut. Sosok itu seperti sedang mengayunkan tongkat di antara guludan singkong.

Dede menelan air liur. Entah dari mana biawak tersebut?

Tiba-tiba saja biawak muncul dan mendekati sosok tersebut. Sepasang tangannya membelai biawaknya. Tanahnya lalu menempel di sekujur tubuh biawak. Dede baru sadar, jari-jari biawak itu terlalu panjang. Seolah tulangnya lebih dari sepuluh. Tungkai itu lalu mencengkeram tanah, menarik tubuh si sosok bertudung hitam tersebut.

Seketika itu Dede membeku. Tubuhnya tak bergerak.

Sosok itu lalu melepaskan tudungnya. Wajahnya bagaikan tertutup kabut hitam. Ia ternyata sosok tinggi kurus. Namun, entah mengapa, Dede seolah bisa melihat rahangnya yang cekung. Pun, kulitnya pucat seperti habis direndam air seminggu.

Sosok itu tidak memiliki bola mata yang indah. Bak hanya cekungan gelap yang seolah menyedot cahaya malam.

Tubuh Dede gemetar. Iamencoba lari, tapi mulut sosok itu bergerak, dan suara parau lembut keluar: “Namamu Dede? Bagaimana kalau kamu menjadi anak yatim piatu? Siap?"

Dede hampir pingsan.

Sosok itu masih berdiri sepenuhnya di atas tanah. Tingginya mungkin di atas 1,70 meter. Di belakangnya, tanah bergelombang seperti ada yang bergerak di bawahnya.

“A-abang siapa?” suara Dede mendadak tercekat.

Sosok itu mendekat tanpa suara, seperti melayang. Tudung hitamnya mengembang pelan. Katanya lirih, “Sebut saja Musafir Maut.”

Dede mundur selangkah. “A-abang bohong, kan? Abah dan Bunda aku baik-baik saja!"

Ia berhenti tepat di tepi guludan dan menunduk mendekat. Napasnya dingin seperti kabut subuh menyentuh pipi Dede.

Ia menunjuk ke arah singkong-singkong yang dulu pernah diporak-porandakan oleh Dede.

“Hatimu akan berantakan seperti ini.”

Jantung Dede berhenti berdetak sejenak.

“A-apa maksud Abang?”

Sosok itu mengangkat kepala. Dari dalam cekungan matanya, aku melihat seperti bayangan api dan tanah yang retak-retak.

“Lihat saja nanti, dan segera pulang, lah...”

Dede tercekat. Ia mengangkat tangannya yang kurus, menunjuk tepat ke dadaku.

“Pulanglah.”

Entah mengapa, seperti ada yang menggerakkan raga Dede. Dede mengayuh sepedanya kencang-kencang. Saking kencangnya, tanah di belakangnya seperti ikut bergerak. Saat Dede menoleh ke arah tempat yang sama, sosok itu menghilang entah ke mana.

Dede kaget. Makin kencang ia mengayuh sepedanya. Terus saja ia mengayuh sampai tiba di rumahnya. Ternyata di rumahnya sudah ada pengajian. Tercium bau tak menyenangkan yang masuk ke lubang hidung Dede. Dede langsung menelan air liur.

Makin syok Dede, karena teteh-nya mendatanginya. Si teteh berkata bahwa Abah meninggal dunia karena kecelakaan bermotor. Truk yang dikemudikan Abah mendadak terguling. Seolah ada yang coba menggulingkannya.

Dede berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Kakinya gemetar, tangannya yang masih memegang stang sepeda ikut bergetar hebat. Bau tak sedap itu semakin pekat. Percampuran anyir tanah basah, asap kemenyan, dan sesuatu yang menusuk hidung, seperti besi berkarat.

Orang-orang duduk melingkar, sebagian membaca doa, sebagian lagi hanya menunduk. Suara-suara lirih itu terasa jauh, seakan berasal dari dunia lain. Lampu rumah temaram, dan sesekali bayangan wangi kemenyan bergoyang ketika angin malam menyelinap melalui celah pintu.

Teteh memegang bahu Dede. Teteh berkata, “De… Abah tadi siang kecelakaan. Tadi sore… Abah meninggal.”

Dede menelan ludah. Tenggorokannya serasa tercekik. “Teh… Abah… gimana?”

Teteh menatap Dede dengan mata sembab. “Truk Abah terguling sendiri. Kata saksi… rodanya kayak keangkat… terus—”

Si Teteh terisak, menutupi wajah. “Kayak ada yang narik.”

Dede mundur selangkah. Kata "narik" itu menggendang di kepalanya, menyatu dengan bayangan sosok bertudung hitam yang menunjuk ke dadanya beberapa menit lalu.

“Pulanglah,” katanya.

Bukan pergi. Bukan lari, melainkan pulanglah.

Jantung Dede berdetak makin cepat. Ia melirik ke arah ruang tengah, tempat tubuh Abah terbujur di atas kain putih. Beberapa orang menaburkan bunga, beberapa lagi mengusap air mata.

Namun Dede, ia seperti melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat. Di sudut ruangan, di belakang jasad Abah, bayangan itu berdiri. Tinggi, kurus, dan tudung hitamnya menggantung seperti asap pekat. Tidak bergerak. Tidak bersuara pula. Hanya berdiri, menghadap ke Dede. Sosok itu datang lagi sebagai pengamat yang sabar.

Dede mengusap matanya cepat, berharap itu halusinasi. Sayangnya bayangan itu masih ada. Bahkan semakin jelas. Dede lantas mundur hingga menabrak dinding. Orang-orang tidak sadar. Karena mereka terlalu sibuk membaca doa.

“Teh…” suara Dede tercekat, “Di belakang Abah ada… ada orang…”

Teteh menoleh cepat. “Mana, De? Gak ada siapa-siapa.”

Dede ingin menunjuk, tapi tangannya kaku.

Bayangan itu kini bergerak. Yang perlahan, setahap, dan membawa aroma tanah basah yang sama seperti di kebon singkong.

“Ada,” bisik Dede, hampir tak terdengar.

Bayangan itu menoleh, seolah mengamati jasad Abah.

Lalu bibirnya bergerak. Tidak ada suara. Namun Dede bisa membaca gerakan bibir itu.

“Satu lagi.”

Dede membeku.

Bayangan bertudung itu lalu perlahan memudar, seperti diserap kembali oleh udara malam. Mata si sosok tetap menatap Dede sampai sosok itu hilang seluruhnya.

Dede tidak tahu apakah ia masih bisa bernapas.

Abah meninggal bukan karena kecelakaan biasa. Dede yakin sekarang bahwa makhluk itu, yang ia temui di kebon singkong, ah,

makhluk itu...

Dede sekonyong-konyong memejamkan mata. Lututnya goyah. Di telinganya, samar, seperti bisikan tanah bergesekan. Pertanda bahwa makhluk itu belum benar-benar pergi.