PROLOG
"Tidak ada pilihan lain!" Raja memerintahkan dengan nada tegas. "Kalian harus pergi sekarang juga!"
Christ---putra sulungnya, memprotes. "Apa yang terjadi, Ayah? Kenapa kami harus pergi dan bagaimana dengan—"
"Tidak ada waktu untuk diskusi." Raja memotong dengan nada yang semakin mendesak. "Dunia ini akan segera hancur. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah batu permata sakti."
Guncangan dahsyat masih melanda, membuat langkah Raja hampir tak seimbang. Christ mengikuti langkah ayahnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Keduanya panik, karena kapan pun bangunan ini bisa runtuh.
Raja membuka sebuah kotak kuno, mengeluarkan buku bersampul biru dan keras. "Lokasi terakhir batu permata sakti itu ada di tempat ini," katanya, menunjuk pada sebuah halaman yang menampilkan dunia yang sangat asing bagi Christ.
"Seribu tahun lalu, batu permata sakti itu terdampar di sini dan tak satu pun bisa menemukannya."
Christ enggan menatap buku itu. "Bagaimana bisa aku menemukannya, Ayah?" tanya Christ, suaranya penuh keraguan.
Raja menatap putranya dengan mata yang tajam. "Aku tidak mungkin meninggalkan dunia ini." Christ memprotes lagi. "Kita bisa berperang, menghadapi guncangan ini bersama. Aku yakin ini hanya trik tipuan musuh. Kerajaan tidak mungkin runtuh semudah itu!"
Tepat saat Christ selesai berbicara, sebuah bom dengan kekuatan besar jatuh tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mereka terhempas jauh, meninggalkan sesak yang sangat menyakitkan.
Raja menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Dengar, Christ. Ini bukan sekadar pertarungan dua ras, tapi takdir kematian. Jika kau ingin dunia ini, kerajaan ini, ras ini, tidak hancur, maka pergilah, cari batu permata sakti itu."
Christ melongo, wajahnya penuh kekhawatiran. "Tapi---"
"Bawa kedua saudaramu, selamatkan dunia ini." Raja memerintahkan dengan nada yang tidak bisa ditawar lagi. "Aku akan mengurus kekacauan sembari menunggu kalian datang. Ini bukan permohonan seorang Ayah, tapi perintah Raja. Kau mengerti?"
Christ hendak protes, tapi batuk parah dari sang Ayah membuatnya ragu. "Setidaknya biarkan Jinvier tinggal." Christ mengutarakan satu keinginan. "Jinvier bisa membantu Ayah. Biar aku dan Jey yang pergi---"
"Tidak." Raja memotong dengan nada tegas.
"Kalian bertiga harus pergi bersama."
"Tapi---"
"Ayah!!"
Suara keras dan penuh sesak tiba-tiba hadir, membuat sang Ayah dan Christ menoleh. Jinvier berlari mendekati keduanya, wajah itu penuh kekhawatiran dan beberapa luka lebam menghiasi wajahnya. "Sihir pelindung sudah hampir roboh, apa yang harus aku lakukan?"
Sang Ayah berusaha bangkit berdiri, menahan sakit di dadanya. Ia menatap wajah Christ, menyiratkan keinginan dan harapan besar sebelum akhirnya melesat pergi. Jinvier hendak berlari mengikuti langkah sang Ayah, tapi Christ segera menahannya.
"Kita harus pergi," kata Christ, suaranya tegas.
"Apa?" Jinvier membalas, bingung. "Pergi kemana?"
Christ tidak langsung menjawab, tapi menatap Jinvier dengan tatapan tajam. "Bawa Jey ke sini, aku akan segera membuka portal waktu."
Jinvier terkejut. "Apa yang kau katakan?!" Dia masih tidak mengerti situasi.
Christ tidak menjelaskan, tapi langsung memerintah sambil meramalkan sebuah mantra, tak lama sebuah portal waktu terbuka, tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Mencari batu permata sakti ke dunia para Alpha, Beta, dan Omega. Satu-satunya cara tersisa untuk menyelamatkan dunia dan ras kita dari kepunahan."
Jinvier terbelalak. "Ap-apa?!" Dia tidak percaya apa yang dia dengar.
Dunia para Alpha, Beta, dan Omega?
Batu permata sakti?
Apa yang sebenarnya terjadi?