Hari itu
“HAHAHA! CENGENG AMAY NI BOCAH!!”
Hinaan itu… entah sudah berapa kali kudengar.
Aku selalu jadi pelampiasan kakak kelas. Dibully, dihina, dipermalukan hingga akhirnya aku lulus SMP. Tapi luka itu nggak pernah benar-benar hilang.
Sekarang aku sudah kelas 1 SMA.
Meski mencoba terlihat normal, trauma itu masih menempel. Aku sulit bicara dengan orang lain. Takut… takut disakiti lagi. Untung saja, masih ada teman SMP-ku yang sesekali menemaniku. Tanpa dia, mungkin aku udah menyerah sejak lama.
Hari itu, suasana kelas tiba-tiba ramai.
Wali kelasku masuk bersama seorang siswi baru. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam lembut dan senyum yang… entah kenapa terasa hangat.
Semua cowok langsung heboh. Suaranya sampai bikin telingaku pengen tutup.
“Mulai sekarang, kamu bagian dari kelas ini, ya. Oh iya, kamu bisa duduk di bangku kosong di sana,” kata Bu Guru, menunjuk kursi kosong tepat di sebelahku.
“Baik, terima kasih banyak, Bu,” jawab gadis itu sopan sambil menunduk.
Langkahnya ringan, duduknya anggun. Aura lembut tapi menawan langsung memenuhi ruangan.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum tipis.
“Hai, nama kamu siapa?” tanyanya.
Aku sempat terdiam sebelum menjawab pelan, “Alen... Alen Wijaya.”
“Hehe, salam kenal, Alen. Namaku... Nakamura Airi.”
Nama itu, entah kenapa, terpatri dalam ingatanku.
ALEN WIJAYA
Namaku Alen Wijaya, 16 tahun, siswa kelas 1 di SMA Suryanata.
Aku bukan tipe yang suka bicara, bukan juga yang pandai bergaul.
Dulu aku pernah terlalu percaya pada orang lain… dan itu jadi kesalahan terbesar dalam hidupku.
Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang tanpa menarik perhatian siapa pun.
NAKAMURA AIRI
Hai! Aku Nakamura Airi, 16 tahun.
Aku baru pindah dari Surabaya ke kota ini Karena Bisnis Ayah.
Ayahku orang Jepang, Ibuku asli Indonesia. jadi bisa dibilang aku campuran dua dunia.
Aku suka hal-hal sederhana: langit sore, musik lembut, dan orang yang tersenyum tulus.
Dan… entah kenapa, aku merasa anak laki-laki di sebelahku itu menarik, meski dia tak banyak bicara.
***
BELL ISTIRAHAT
DUBRAKKK
Seseorang tiba-tiba membanting pintu kelas kami, membuat seluruh ruangan sontak kaget.
Dan dia adalah…
“Yoo, Alen! Kantin kuy!” teriaknya lantang sambil menepuk-nepuk pintu kelas.
Dia adalah Raditya Wahono.
Teman SMP-ku.
Dulu kami satu kelas, tapi sekarang di SMA ini kami berbeda kelas.
Entah kenapa, dia tetap sering muncul di depan kelasku seolah kelasnya nggak punya pintu lain.
Orangnya rame, gampang akrab sama siapa aja, kebalikan total dariku.
Kadang Radit suka ceplas-ceplos dan ngelawak nggak jelas, tapi jujur aja… tanpa dia, mungkin aku udah berhenti mencoba sejak lama.
“Widih, ada anak baru ya?! Salam kenal, aku Raditya Wahono, tapi panggil aja Radit!” katanya dengan tawa lebar.
“Iya, salam kenal juga. Aku Airi. Kamu sahabatnya Alen, ya?” tanya Airi dengan senyum ramah.
“Kelihatan banget, ya? Wkwk,” jawab Radit sambil menggaruk tengkuknya, lalu melirik ke arahku. Ia mencondongkan badan, nyaris berbisik di telingaku.
“Sejak kapan kalian berkenalan? Aku kira kau anti banget ngobrol sama cewek,” katanya pelan dengan nada menggoda.
“Kau ini… dia murid baru, jangan bikin dia risih,” balasku sambil menghela napas kecil.
Tatapan Radit seolah berkata bahwa Airi menyukaiku, meski dia nggak bisa membuktikannya. Dan jujur… aku agak kesal karenanya.
“Oh ya, Airi, kau asalnya dari mana?” tanya Radit sambil bersandar santai di meja depan.
“Hehe, aku dari Surabaya. Aku pindah ke kota ini karena bisnis ayah,” jawab Airi lembut.
“Tapi… kau kayak bukan orang Indonesia,” ucap Radit sambil mengernyit heran.
“Hehe, aku lahir di Jepang. Tapi pindah ke Indonesia waktu umur enam belas tahun,” jawab Airi sambil tersenyum malu-malu.
Radit kembali menatapku, matanya memberi kode yang jelas:
“Bro, kau beruntung banget. Aku iri.”
“Airi, kau mau ikut ke kantin? Kurasa… Alen akan senang hati kalau kau ikut,” katanya sambil melirikku jahil.
“Apa-apaan sih…” gumamku dengan wajah cemberut.
Radit malah ngakak sambil menepuk punggungku keras-keras.
“K-Kalau tidak masalah… aku ingin ikut,” ucap Airi tiba-tiba dengan nada pelan.
“Hah?” kami berdua refleks menoleh bersamaan.
“Aku belum terlalu mengenal sekolah ini… jadi, aku berharap bisa ikut kalian,” lanjutnya sambil menunduk sopan.
Radit langsung panik, “H-hey, nggak usah nunduk gitu, kami nggak keberatan kok,” ucapnya cepat, suaranya agak canggung.
Walaupun sering ceplas-ceplos, Radit sebenarnya punya empati besar. Dia nggak tega lihat orang lain merasa canggung.
“Ah, maaf. Ayahku selalu mengajariku untuk menunduk, karena itu tanda menghormati seseorang,” ucap Airi sambil kembali menegakkan kepalanya, senyumnya hangat.
“Ohh… aku baru tahu,” kata Radit kagum.
“Hmm, kayaknya waktunya ke kantin. Aku juga lumayan lapar,” ucapku.
Dan tepat setelah itu
gruuukkkk
Suara perut Radit berbunyi kencang, membuat kami berdua menatapnya bersamaan.
“BENAR! MARI KITA KE KANTIN SEGERA!” teriaknya sambil mengangkat tangan ke udara.
“Hahaha, ayo!” sahut Airi ceria.
Kami pun bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar kelas bersama, meninggalkan tawa kecil yang masih menggantung di udara.
***
RADITYA WAHONO
Namaku Raditya Wahono.
Teman SMP-nya Alen. dulu kami satu kelas, tapi sekarang di SMA ini beda kelas.
Aku tahu dia bukan orang yang gampang buka diri, apalagi setelah semua yang dia alami dulu.
Tapi entah kenapa, aku ingin terus ada di dekatnya.
Kadangku ngerasa, kalau aku nggak nyapa dia duluan… dia bakal tenggelam sendirian dalam pikirannya sendiri.
Dan mungkin, itu alasan kenapa aku masih di sini
jadi orang yang tetap manggil namanya dengan tawa.
BAB 1 : TAMAT
Instagram Mimin : @fachawrites
Tiktok Mimin : @fachawrites
(Makasihh FachaVers Atas supportnya💗)