Bukan Sekadar Sahabat

Bukan Sekadar Sahabat

Author:Iyikadin

Dua Dunia

Rey berjalan pelan di lorong sekolah. Suara langkahnya tenggelam di antara tawa dan obrolan siswa lain. Jaket hitamnya terbuka, kaos abu-abu polos di dalamnya terlihat rapi. Headphone tergantung di leher, berayun setiap kali ia gerak. Ia terlihat tenang, tapi dari sorot matanya jelas, Rey bukan tipe yang suka ramai. Ia selalu menjaga jarak, bahkan dari orang-orang yang memujanya.

"Rey! Nanti nongkrong di kafe, kan?" seru seorang teman.

Rey menoleh sambil tersenyum tipis. "Lihat nanti, ya."

Senyumnya ramah, tapi matanya tetap menjaga jarak. Ia tahu caranya membuat orang nyaman tanpa benar-benar membuka diri.

Bisik-bisik cewek mulai terdengar di sepanjang lorong.

"Gila, Rey emang nggak pernah gagal kelihatan ganteng."

"Pengen banget deh bisa deket sama dia."

"Kayaknya dia tuh sempurna banget, ya."

Buat mereka, Rey nyaris nggak punya celah. Apa pun yang dia lakukan selalu terlihat keren.

Disisi lain lorong, Alina melangkah perlahan, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan seakan ingin menghindari sorot mata orang-orang. Rambut hitamnya jatuh rapi melewati bahu, kontras dengan jaket hijau tua yang membalut tubuh mungilnya.

Ia menunduk, matanya hanya tertuju pada lantai, berjalan melewati wajah-wajah yang sudah familiar tapi tak pernah benar-benar ia sapa. Bukan karena tak kenal, tapi karena kata-kata selalu terasa berat di tenggorokannya.

"Eh, itu si Alina teman sekelas kita kan ya?" bisik dua siswi di dekatnya.

"Iya, dia pinter banget, tapi jarang ngomong dan berbaur sama orang."

Alina pura-pura tak dengar. Ia hanya menatap lantai dan melangkah cepat menuju kelas. Kata-kata selalu terasa berat untuk keluar, seperti tertahan di tenggorokan.

Begitu bel masuk berbunyi, kelas dipenuhi suara kursi digeser dan buku dibuka. Rey duduk di bangku bagian belakang, tepat di posisi ke empat dari depan, dikelilingi teman-teman.

"Rey, lo udah ngerjain tugas sejarah?" tanya Dito, teman sebangkunya sekaligus teman dekatnya.

"Udah, tapi kayaknya gue asal deh," jawabnya santai, lalu tertawa kecil.

"Ya elah, lo kan ngerjain asal juga selalu dapet nilai tertinggi," jawab Dito, "gue pusing banget nih. Sama soal - soalnya aja gue bingung, apalagi jawabannya."

"Boleh liat punya lo gak? Mumpung Bu Andin belum datang kesini." lanjut Dito.

"Apaan sih, To. Biasanya juga lo langsung ambil buku gue tanpa bilang, so so-an izin segala lagi." Jawab Rey ngeledek Dito yang sudah menjadi kebiasaannya untuk nyontek pada Rey yang pintar.

Dito nyengir, meraih buku Rey dan menyalinnya ke dalam buku miliknya sendiri.

Berjarak dua deretan dari tempat Rey, tepatnya di deretan ke dua, Alina duduk sendiri, karena kebetulan teman sebangkunya, Fira, sedang tidak masuk sekolah. Tangannya menata buku catatan, lalu mulai menulis rapi. Sesekali matanya melirik ke arah belakang, tepat ke tempat Rey duduk. Hanya sebentar. Lalu kembali menunduk.

Mereka terlihat seperti dua dunia yang berbeda. Rey, pusat perhatian. Alina, bayangan tenang di sudut ruangan. Tidak ada yang tahu bahwa di luar kelas, mereka berbagi rahasia kecil.

Pelajaran dimulai seperti biasanya, tak ada hal apapun yang spesial di pelajaran kali ini, hanya ekspresi wajah para siswa yang terlihat sangat jenuh. Ada yang mencoret-coret buku, ada yang melamun, bahkan ada yang tidur didalam kelas. Ini sudah menjadi hal biasa di kelas IPA, saat memulai pelajaran sejarah atau bisa dibilang pelajarannya para siswa kelas IPS.

Ketika bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar. Alina berjalan keluar lebih dulu dibandingkan Rey. Dikelas, hanya tersisa Rey dan Dito yang masih duduk menatap ponsel nya.

"Rey, ke kafe kan kita hari ini?" tanya Dito.

Sambil terus memainkan ponselnya, Rey menjawab, "Kayaknya nggak dulu deh, gue ada urusan."

"Yaelah! Ada urusan apalagi sih lo? Palingan juga Alina."

Rey hanya terdiam tak menjawab sepatah katapun, ia mengetik si ponselnya:

[Udah sampai? Aku tunggu di tempat biasa ya.]

Rey berdiri, memasukkan ponsel ke saku, lalu melangkah keluar dengan tenang. Dito yang sejak tadi menunggu jawaban dari Rey hanya melongo melihat dia bergerak keluar kelas dan meninggalkannya sendiri tanpa berkata apapun.

...***...

Di sisi lain, Alina membaca pesan di layar ponselnya. Bibirnya melengkung pelan.

"Iya, aku disini," balasnya singkat.

Rey melihat notifikasi dari ponselnya kemudian menyelipkannya ke dalam saku jaket, lalu keluar melalui pintu samping sekolah. Ia berjalan menyusuri jalan kecil yang jarang dilewati siswa lain.

Di ujung jalan itu, ada taman kecil yang tersembunyi di balik gedung lama. Taman dengan bangku kayu usang di bawah pohon tua, tempat yang sudah menjadi rahasia mereka berdua.

Alina sudah duduk di sana, menatap rumput yang bergerak tertiup angin. Saat Rey datang, dia menoleh dan tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.

Mungkin bagi dunia, mereka dua orang yang tidak saling kenal. Tapi di balik layar ponsel, ada percakapan yang hanya mereka pahami.

"Lagi ngapain? Baru aja keluar kelas, ngerjain tugas kah?" tanya Rey sambil menjatuhkan diri ke bangku kayu di sampingnya.

Alina menghela napas pelan. "Iya nih, tugas biologi aku belum beres, Rey. Kayaknya aku bakal begadang deh malam ini."

Rey membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak bekal kecil. Ia menyerahkannya tanpa banyak kata. "Buat kamu. Jangan lupa makan. Kalau nggak, kamu bakal sakit."

Alina menerima kotak itu yang berisi roti keju, dengan mata yang berbinar kecil, sebuah kebahagiaan sederhana yang jarang terlihat dari dirinya. "Kamu selalu tahu kapan aku butuh ini dan lagi udah lama aku nggak makan roti keju," ujarnya dengan suara lembut, hampir seperti bisikan.

"Iya dong, aku kan emang selalu perhatian, Al. Kamu kayak nggak kenal aku aja ah," ujar Rey sambil sedikit mengerucutkan bibirnya seperti rumah keong.

Mereka duduk berdua dalam diam yang nggak canggung. Angin pelan menggoyang daun-daun di atas kepala, burung kecil sesekali melintas. Nggak ada obrolan panjang, tapi juga memang nggak perlu. Rasanya cukup cuma duduk bareng gini, dunia seolah jadi lebih tenang.

"Al, kalau kamu butuh bantuan aku, ngomong aja. Nggak apa-apa kok, aku siap bantu." Kata Rey karena kasihan melihat Alina yang seperti kebingungan.

"Nggak apa-apa, Rey. Aku mau coba sendiri dulu. Kamu pikir aku nggak bisa gitu?" ucap Alina sambil melirik kecil.

Rey langsung mengangkat tangan, pura-pura menyerah. “Bukan gitu, Al. Ya udah deh, silahkan... Alina yang rajin, baik hati, dan nggak sombong.”

Alina mendengus kecil, tapi senyum tipis muncul di bibirnya.

Dalam ruang rahasia yang hanya mereka miliki, Rey dan Alina bukan lagi sekadar teman sekelas yang asing. Mereka adalah dua sisi dari sesuatu yang tak terpisahkan.

Sahabat yang tampak biasa bagi dunia luar, tapi di hati masing-masing, ada rasa yang tumbuh lebih dalam dari sekadar kata "teman."

Bersambung ...