Behind The Curtain (A Gripping Medical Mystery)

Behind The Curtain (A Gripping Medical Mystery)

Author:Ean Ran

chapter 1 - pertemuan tak terduga

Raka – Mahasiswa kedokteran top, perfeksionis, tampan tapi sulit didekati.

Dimas – Junior baru yang cerewet, observant, tapi misterius.

Lorong laboratorium fakultas kedokteran selalu terasa sepi di sore hari. Lampu neon memantul di lantai keramik yang dingin, menyoroti dinding putih yang rapi. Aroma antiseptik menempel di udara, membuat siapa pun yang masuk harus menyesuaikan napasnya. Raka, jas lab putihnya terpasang rapi, berjalan cepat sambil menatap layar tablet. Setiap langkahnya pasti dan terukur, matanya meneliti data dengan intens. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa langkahnya hampir menabrak seseorang.

Tiba-tiba terdengar suara ringan dari samping.

Dimas: Eh

Raka menoleh setengah, menatap sosok di depannya. Seorang mahasiswa junior berdiri sambil membawa tumpukan buku. Rambutnya agak acak-acakan, dan matanya cerah penuh rasa ingin tahu.

Raka: Maaf, dokumennya hampir jatuh

Dimas: Tidak apa-apa. Tapi serius banget sampai tidak lihat orang di depan

Raka menatap Dimas dengan mata dingin, lalu menundukkan pandangan untuk mengambil dokumen yang hampir jatuh.

Raka: Kalau aku harus menunggu orang menyingkir, aku tidak akan pernah selesai

Dimas mengerutkan dahi, tetap santai.

Dimas: Keren juga, senior. Kamu mahasiswa kedokteran populer kan, yang jenius tapi dingin itu

Raka mengangkat alis, sedikit terkejut.

Raka: Kamu baru

Dimas: Ya, Dimas. Junior baru di kelas kalian

Raka menoleh sejenak, menilai juniornya, lalu melanjutkan langkahnya. Dimas menyusul tanpa terburu-buru.

Dimas: Tunggu. Aku cuma mau bilang aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kalau mau, aku bisa bantu bawa dokumen itu

Raka menahan napas, menilai keberanian junior ini.

Raka: Aku bisa sendiri

Dimas: Tenang saja, aku tidak akan ganggu lama. Tapi kalau ada masalah, siapa tahu aku bisa bantu

Raka menatap lama. Ada sesuatu di mata Dimas yang berbeda. Tidak takut, tidak ragu, malah seolah menantang.

Raka: Baik. Tapi jangan terlalu dekat. Aku tidak suka basa-basi

Dimas tersenyum tipis.

Dimas: Oke, deal. Tapi kamu tidak bisa menolak kalau aku kepo sedikit

Beberapa hari kemudian, insiden yang tidak terduga terjadi.

Raka sedang memeriksa sampel darah di laboratorium ketika alarm kecil dari ruang PCR berbunyi. Lampu indikator berkedip, menandakan ada kesalahan pengukuran.

Raka berlari, tapi tersandung kabel dan hampir jatuh.

Dimas: Senior

Dimas menangkap Raka tepat sebelum ia menabrak meja penuh alat laboratorium.

Raka: Terima kasih. Kenapa kamu selalu muncul di saat yang tidak tepat

Dimas: Aku cuma kebetulan lewat. Lagipula aku bilang bisa bantu kalau ada masalah

Raka menatap lama, mencoba menilai niat di balik senyum itu. Ada ketenangan yang aneh dari Dimas, berbeda dari mahasiswa lain yang biasanya gugup atau takut padanya.

Raka: Baiklah. Tapi jangan pikir aku mudah percaya pada orang baru

Dimas: Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa

Mereka mulai memeriksa alat yang bermasalah bersama. Dimas membaca buku manual dengan cermat, sesekali mengangkat alis saat menemukan sesuatu yang menarik. Raka tidak terlalu banyak bicara, tapi sesekali ia memberi instruksi dengan nada datar.

Dimas: Apa kamu sering ikut praktik di sini

Raka: Cukup sering. Aku memastikan semuanya sempurna. Kalau ada kesalahan, itu bisa berakibat fatal

Dimas: Aku mengerti. Tapi kadang terlalu fokus pada kesempurnaan bikin orang jadi jauh dari yang lain

Raka menatap Dimas sebentar. Kalimat itu membuatnya berhenti sejenak. Selama ini ia terbiasa menjaga jarak, menjaga semua orang tetap pada posisi mereka. Tapi kehadiran Dimas terasa berbeda.

Tidak lama kemudian, Arga muncul di lorong. Senyum sinisnya terlihat jelas.

Arga: Raka, lagi kerja sendiri. Dan ini siapa? Junior baru

Dimas: Aku tidak berniat mengganggu

Arga: Kalau salah sedikit, tanggung jawabmu juga, junior. Jangan bikin senior ini pusing

Raka menatap Arga dingin.

Raka: Aku bisa mengatasinya sendiri

Arga tersenyum tipis dan meninggalkan laboratorium.

Dimas: Dia selalu begitu

Raka: Ya. Dia senang bikin masalah

Dimas membuka bukunya lagi dan menandai beberapa catatan, lalu menatap Raka.

Dimas: Kalau begitu, kita harus bekerja sama supaya alat ini aman

Raka menatapnya, ragu. Tapi saat itu, alarm berhenti berkedip. Angka tekanan di layar kembali normal.

Raka: Bagus. Kalau ingin bertahan di sini, jangan cuma cerewet. Perhatikan detail

Dimas: Aku akan coba. Tapi kalau suatu saat aku menemukan sesuatu yang aneh, jangan kaget kalau aku ikut campur

Raka menatap lama. Ada sesuatu yang aneh di hati yang tidak pernah ia sadari. Selama ini ia terbiasa menjaga jarak, tapi kehadiran Dimas membuatnya merasa berbeda.

Mereka berdiri di lorong laboratorium yang sunyi, suara alat berdering pelan, aroma antiseptik masih menggantung di udara. Tidak ada kata-kata lagi, tapi ketegangan terasa, awal dari sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal.